"Eh, dari mana kamu tahu masalah itu?” tanya Dani kepada Rika setelah beberapa saat tadi hening, dan wajahnya pias.
“Kamu sudah berbohong kepada aku, Mas!” sahut Rika lagi pada suaminya itu seraya menatapnya dengan tajam.
“Aku sama sekali tidak berbohong, sayang, aku sudah memblokir nomor kontaknya, dan jika kemarin di perkemahan bertemu, itu artinya hanya tidak sengaja saja.” Dani masih membela dirinya sendiri, padahal sudah jelas ketangkap basah oleh Rika.
Rika tak langsung menjawab, ia masih menahan emosinya untuk tidak meluap, ia tahu bahwa apa yang baru saja ia lakukan tadi pada ponsel milik Dani dengan memasang CCTV dan juga menyadap ponselnya sudahlah cukup.
“Lagi pula aku sudah tidak bisa lagi berbohong, karena kamu sudah memasang alat pelacak dan juga penyadap di HPku,” ucap Dani mulai melembut lagi mencoba untuk menenangkan hati istrinya.
Rika menghela nafas lagi, lalu mengembuskannya, wanita itu sedang mencoba untuk mengontrol emosinya, sesaat hening, lalu nampak wajah Rika yang kini mulai kembali normal.
“Kamu tahu, kan bahwa aku sangat mencintai kamu, Mas! Bahkan aku rela menentang restu keluargaku sendiri demi kamu, Mas, apa kamu lupa dengan perjuanganku selama ini hingga akhirnya diterima oleh keluarga besarku?” Rika bersungut-sungut dengan sinar mata haru.
Yaa, memang jika teringat akan perjuangan keduanya tentu saja patut diacungi jempol, bagaimana besarnya cinta yang dimiliki oleh Rika kepada Dani.
“Iya, sayang, aku minta maaf, tolong maafkan aku, ya.” Dani memelas, bahkan kini ia berlutut di bawah kaki istrinya itu seraya mengenggam tangannya.
“Aku tahu, bahwa aku ini lelaki yang bodoh, aku sudah menyia-nyiakan cintamu, tapi aku berjanji, mulai saat ini, jika aku tergoda lagi oleh wanita di luar sana, maka aku akan menguatkan diriku sendiri dan mengingat lagi perjuangan kita, ya,”
Entahlah itu kalimat yang datang dari hatinya sendiri atau hanya sekadar rayuan belaka saja, seperti sebelumnya, akan tetapi Rika selalu berprasangka baik kepada suaminya itu bahwa ia akan berubah, dan tidak akan lagi mempermainkan wanita muda di luar sana.
Bukankah Tuhan akan sesuai dengan prasangka hambaNya? Itulah yang diyakini oleh Rika, bahwa suatu saat nanti pun Dani akan menjadi seorang lelaki setia pada dirinya.
“Bangun, Mas! Jangan seperti ini, aku juga minta maaf, ya.” Rika membantu Dani untuk bangkit dari posisinya saat ini.
Keduanya kini larut dalam tangis, dalam pelukan yang selalu membuat Rika merasa nyaman jika berada dekat dengan suaminya.
Lalu bagaimana dengan Nisa? Wanita muda yang sudah direnggut cinta pertamanya oleh Dani? Ahh, entahlah! Bagaimana pun tentu saja Rika sebagai istrinya adalah wanita yang lebih berhak atas diri Dani, suaminya. Bukan Nisa, yang hanya sebatas kekasih gelapnya saja.
***
[Aku sudah mengetahui apa yang kamu dan suamiku lakukan ketika di perkemahan beberapa hari lalu, Nisa! Bukankah aku sudah memberikan peringatan kepada kamu untuk tidak mendekati suamiku lagi?]
Sebuah pesan yang dikirimkan oleh Rika kepada Nisa, yang saat ini sedang asyik membaca novel di kamarnya seraya merebahkan diri.
Wanita muda itu hanya terbelalak saja ketika melihat isi pesan yang dikirimkan dari nomor yang tidak ada di kontaknya, ya iya tahu bahwa itu adalah Rika.
Nisa hanya bergeming, ia membaca isi pesan dari Rika, tanpa membalasnya.
[Aku bisa mengerti dengan keadaanmu saat ini, yang cinta pertamanya malah jatuh kepada lelaki yang sudah beristri, akan tetapi apa kamu tidak membuka matamu sendiri, Nisa, bahwa lelaki yang kamu cintai itu hanya sekadar menjadikanmu sebagai permainan saja?]
[Kamu masih muda, masih banyak kesempatan untuk mendapatkan lelaki yang kamu cinta lagi, tapi bukan suamiku. Dan aku atas nama suamiku pun ikut minta maaf atas apa yang telah ia perbuat kepadamu, dan aku mohon saat sekali lagi agar kamu tidak lagi berharap kepada Mas Dani.]
[Kita sama-sama wanita, Nisa! Jika kamu ada di posisiku bagaimana? Apa kamu akan membiarkan juga suamimu itu menjalin hubungan gelap bersama wanita lain di luar sana? Meski hanya sebatas online saja?]
DEG
Semakin terbelalak saja ketika Nisa membaca pesan panjang yang dikirimkan oleh Rika kepadanya, memang benar dengan apa yang dikatakan oleh Rika kepadanya, bahwa ia pun jika ada di posisi Rika, tentu saja tidak akan rela membiarkan suaminya itu menjalin hubungan dengan wanita lain di luar sana.
“Easy, Nisa, easy! Tarik nafas dulu!” Nisa menenangkan dirinya sendiri dengan mengembuskan nafasnya berulang kali.
“Aku sudah harus bisa melupakan lelaki itu, sebab bagaimana pun ia tidak akan pernah mau menikahiku, dan benar dengan apa yang dikatakan oleh Bu Rika, bahwa jika aku berada di posisinya pun, aku tidak akan mau,” ucap Nisa pada dirinya sendiri.
Meski dalam hatinya pun ia masih berontak, bahwa ia masih menginginkan Dani untuk dimiliki, justru semakin ia terus menerus menjalin komunikasi dengan Dani, maka akan semakin sulit juga untuk melupakannya.
“Nis, Nisa!” terdengar suara yang memanggil namanya hingga membuyarkan lamunan wanita muda itu.
“Nisa!” seorang wanita paruh baya memanggil Nisa lagi dari balik pintu kamarnya, ya itu adalah ibunya Nisa.
“Iya, Bu, nanti Nisa keluar,” jawab Nisa dan segera bangkit dari pembaringannya. Entah kenapa tiba-tiba saja ibunya itu memanggil.
“Kenapa, Bu?” tanya Nisa ketika ia sudah sampai di ruang tamu, dan begitu terkejut dirinya ketika di sana ia malah mendapatkan lelaki yang sangat menyebalkan dirinya.
“Ini katanya teman kamu, sengaja datang ke sini, mau mampir, kamu temanin, ya! Ibu mau ke dapur dulu,” ucap Ibu yang duduk di sofa yang sudah kusam warnanya, lalu bangkit meninggalkan Nisa dan seorang lelaki yang sudah dengan manis duduk di sana.
“Ada apa datang ke rumahku?” tanya Nisa sedikit sewot, karena ia tidak suka didatangi oleh lelaki yang tak lain adalah Wahyu, sebab tentunya ibu dan bapaknya akan menduga bahwa lelaki yang datang ke rumahnya itu ada hubungan special dengannya.
“Dih, kok sewot gitu sih, Bu! Aku kan datang ke sini, sengaja untuk menemui kamu, ini kan malam minggu, kamu gak ke mana-mana, kan?” jawab Wahyu enteng saja duduk di sofa, sementara Nisa masih memasang wajah masam.
“Saya sedang sibuk, Pak, sedang baca buku, kalau memang gak ada yang mau disampaikan, silakan pulang saja!” Nisa mengusir Wahyu secara tidak langsung sehingga menjadikan Wahyu sedikit terperanjat, karena ia tidak percaya bahwa ia akan diusir.
Ia tidak menyangka jika Nisa akan setega itu mengusir dirinya, sebab bagaimana pun tentu saja Nisa dan dirinya adalah satu rekan di sekolah, yang tentunya seharusnya dilayani dengan baik ketika datang bertamu.
“Jadi Bu Nisa mengusir saya gitu?” tanya Wahyu dengan wajah datar, akan tetapi ia berusaha untuk tetap biasa saja.
‘Sudah tahu, tapi masih nanya lagi,’ bathin Nisa.