===== BAB 74: Kencan dengan Jalan Keluar =====
Di luar perkara, mereka harus belajar saling mengenal dari awal.
Nara memilih museum sains sebagai tempat kencan pertama karena ruangnya publik, mudah ditinggalkan, dan tak terkait keluarga mereka. Ia membeli tiket sendiri. Rafi menerima tanpa menyelipkan tiket tambahan atau akses khusus.
Mereka sepakat kencan berlangsung dua jam. Salah satu boleh pulang kapan saja tanpa perlu memberi alasan panjang. Tidak ada pembicaraan kontrak, sidang, atau lamaran kecuali keadaan darurat.
Rafi datang terlalu awal dan menunggu di luar. Nara tiba memakai kemeja sederhana tanpa cincin karena tak ingin simbol hukum menentukan cara mereka melihat hari itu. Rafi juga menyimpan cincinnya di rumah.
Di ruang planetarium, gelap dan kursi rapat memicu napas Rafi. Ia mengatakan perlu keluar. Nara tidak menyuruhnya bertahan demi tiket. Mereka duduk di taman sambil menunggu tubuhnya tenang.
Rafi meminta maaf karena merusak rencana. Nara mengatakan perubahan bukan kerusakan. Mereka membeli es krim dan mengamati keluarga lain masuk keluar museum.
Nara bercerita pernah ingin menjadi perancang jembatan sebelum memilih keselamatan sistem. Rafi bercerita ia menyukai menggambar peta kota, kebiasaan yang dulu dianggap tak berguna oleh keluarganya.
Mereka masuk ke pameran terbuka yang tidak gelap. Rafi menggambar jalur pengunjung pada brosur dan Nara mengkritik arah panahnya. Perdebatan ringan tidak berubah menjadi latihan bukti.
Seorang pengunjung mengenali mereka dan meminta foto. Nara menolak dengan sopan. Pengunjung menuduh mereka bersembunyi setelah skandal. Petugas museum menawarkan mengeluarkannya, tetapi orang itu pergi setelah batas dijelaskan.
Rafi bertanya apakah Nara ingin pulang. Ia memilih melanjutkan tiga puluh menit, bukan karena wajib membuktikan ketahanan. Keputusan tetap miliknya.
Saat waktu dua jam habis, Rafi tidak memperpanjang tanpa bertanya. Mereka berdiri di gerbang dan menilai pengalaman seperti dua orang canggung: bagian terbaik es krim, bagian buruk planetarium, dan apakah ingin mengulang.
Nara menjawab ya untuk kencan kedua, tetapi setelah kontrak ditinjau pengacara. Ia tidak ingin romansa menjadi alasan mengabaikan pembubaran hukum yang sudah disepakati.
Rafi mengatakan ia juga ingin kontrak berakhir sesuai waktunya. Bila mereka memilih hubungan setelah itu, hubungan harus lahir tanpa trust, jabatan, atau perlindungan pasangan.
Malamnya mereka kembali ke kamar terpisah. Tidak ada kewajiban menutup kencan dengan keintiman fisik. Nara mengetuk pintu Rafi untuk mengucapkan terima kasih, lalu pergi setelah ia membalas.
Maya Santosa mengirim jadwal pertemuan pembubaran satu minggu kemudian. Dokumen mencakup pemisahan biaya, barang, tempat tinggal, dan opsi nama hukum. Tak ada kolom perasaan.
Nara membaca daftar dan merasa sedih sekaligus lega. Rafi tidak meminta menjelaskan. Kencan yang baik tidak membatalkan kebutuhan memiliki jalan keluar.
Kencan kedua direncanakan di pasar buku terbuka agar Rafi tak terjebak ruang gelap. Kali ini Rafi memilih tempat dan Nara menentukan waktu. Mereka membeli satu buku masing-masing, bukan hadiah yang menciptakan kewajiban membalas.
Rafi menemukan buku peta lama dan ingin membelinya untuk Nara. Ia bertanya; Nara menolak karena sudah punya edisi sama. Penolakan kecil berlalu tanpa bujukan, menjadi latihan lebih penting daripada hadiah berhasil.
Mereka bertemu Bayu secara tak sengaja. Rafi menyapa dan menunggu apakah Bayu ingin bicara. Bayu memilih hanya berjabat tangan lalu melanjutkan belanja. Hari mereka tidak berubah menjadi pertemuan perkara.
Nara kemudian mengajak Rafi makan camilan. Ia menyadari dirinya juga dapat mengambil inisiatif, bukan selalu menunggu lelaki itu memberi pilihan. Keseimbangan bukan sekadar Rafi menahan kuasa; Nara bebas menyatakan keinginan.
Di akhir kencan, mereka membahas kontak fisik. Nara menyetujui ciuman singkat dan meminta berhenti setelahnya. Rafi berhenti tanpa bertanya apakah ada yang salah. Mereka pulang dengan rasa canggung yang normal, bukan drama penolakan.
Nara menulis di jurnal bahwa persetujuan terasa berbeda ketika tidak ada perlindungan perusahaan di belakangnya. Ia tetap ingin proses perceraian berjalan karena kebebasan itu belum sepenuhnya hadir selama status hukum masih mengikat.
Sebelum kencan ketiga, Nara membatalkan karena audit darurat. Ia memberi kabar enam jam sebelumnya dan menawarkan dua tanggal pengganti. Rafi kecewa tetapi tidak menuduh pekerjaan selalu lebih penting. Ia memilih salah satu tanggal.
Pada hari pengganti, Rafi terlambat karena sidang pemohon. Ia mengirim pesan sebelum waktu dan memberikan perkiraan jujur. Nara menunggu dua puluh menit lalu memesan sendiri. Keterlambatan tidak dibesar-besarkan menjadi bukti hubungan mustahil.
Mereka membahas bagaimana uang akan dipakai bila kelak bepergian. Bukan membuat rekening bersama, hanya aturan membagi biaya tanpa malu pada perbedaan pendapatan. Rafi berjanji tidak menaikkan standar tempat sehingga Nara harus mengikuti.
Seorang pelayan memberi tagihan otomatis kepada Rafi. Ia menyerahkannya kepada Nara karena giliran Nara membayar. Pelayan tampak bingung; keduanya tertawa setelah pergi, bukan menjadikan momen itu pidato publik.
Di perjalanan pulang, Nara menyadari kencan mereka kadang membosankan. Ia merasa lega. Kebosanan biasa adalah wilayah yang tidak pernah diberikan perkara kepada mereka.
Foto kencan disimpan hanya pada telepon masing-masing. Mereka tidak mengunggahnya untuk membuktikan hubungan baik atau menutupi kabar perceraian. Hari itu cukup menjadi milik dua orang yang menjalaninya.
Saat Nara pulang, ia mengirim pesan sudah sampai karena menginginkannya. Rafi membalas selamat malam tanpa memulai percakapan baru.
Mereka memilih satu hari bersama tanpa menggunakannya untuk mengikat hari berikutnya.