===== BAB 7: Malam di Rumah Rahasia =====
'Seseorang memakai kode keselamatan milik ayahmu tujuh belas tahun setelah dia meninggal.'
Kata-kata Rafi bergema di ruang arsip. Nara meminta Nisa menggandakan log ke tiga perangkat tanpa jaringan. Auditor memasukkan tas Dion dan terminal lama ke kantong bukti. Tidak ada yang boleh keluar tanpa tanda tangan Nara dan Rafi.
Polisi menemukan apartemen Adit kosong, pintunya rusak, serta noda darah kecil di meja. Ponselnya tertinggal dengan pesan terakhir dari Keira: DATANG SENDIRI JIKA INGIN TETAP HIDUP. Keira mengaku pesan itu palsu dan menolak diperiksa tanpa pengacara.
'Adit bisa jadi korban atau sedang memainkan peran,' kata Nara.
'Keduanya mungkin benar,' jawab Rafi.
Mereka memeriksa barang lain. Sebuah wadah rekaman pusat data UX-217 ditemukan kosong, tetapi segelnya menunjukkan pernah dibuka tiga hari setelah kecelakaan. Pada lapisan busanya, Nisa menemukan serpihan pita magnetik. Teknisi forensik dapat memulihkan suara, meski membutuhkan waktu.
Di dalam tas Dion juga ada foto buram gerbang keberangkatan. Seorang pemuda tinggi membelakangi kamera di samping petugas berseragam. Separuh wajahnya tertutup pantulan kaca. Rafi mengambil foto itu terlalu cepat.
'Kau mengenalnya?' tanya Nara.
'Tidak jelas.'
'Klausul kejujuran.'
Rafi meletakkan foto kembali. 'Seragam petugas itu milik unit khusus ayahku.'
'Bukan itu yang saya tanyakan.'
Sebelum ia menjawab, listrik ruang cadangan padam. Lampu darurat menyala. Suara kendaraan berhenti di luar dan beberapa orang mencoba pintu utama. Rafi menyuruh auditor mengunci ruang bawah. Nara menolak bersembunyi tanpa membawa bukti.
Mereka memindahkan kantong bukti ke brankas tahan api. Nisa mengirim salinan data kepada Maya. Di kamera inframerah, tiga sosok bertopeng masuk melalui atap, menggunakan denah yang hanya dimiliki pengelola kompleks.
Salah satu melempar pemutus sinyal. Komunikasi mati. Rafi menarik Nara ke balik rak saat benda berat menghantam pintu. Tangannya melindungi tengkuk Nara. Kedekatan mereka kali ini tidak memberi ruang bagi pikiran lain, hanya napas dan ketakutan yang sama.
'Lorong servis menuju lantai lama,' bisik Rafi. 'Bawa Nisa dan bukti digital.'
'Anda ikut.'
'Aku menahan pintu.'
'Kontrak kita melarang keputusan keselamatan sepihak.'
'Tidak ada klausul itu.'
'Sekarang ada.'
Mereka keluar bersama melalui lorong ketika keamanan kompleks tiba. Para penyusup melarikan diri, meninggalkan alat potong berlogo vendor Merapi Capital. Bukti itu terlalu jelas, seolah sengaja ditanam.
Di luar, hujan turun deras. Rafi memeluk Nara untuk melindunginya dari pecahan kaca saat sebuah kendaraan menerobos pagar. Setelah bahaya lewat, keduanya tetap berdekatan. Nara merasakan jantung Rafi berpacu sekeras miliknya.
'Anda takut,' katanya.
'Tentu.'
'Saya kira keluarga Dirgantara melatih Anda untuk tidak menunjukkan itu.'
'Mereka melatihku agar orang lain yang menanggung akibatnya.'
Ia melepaskan pelukan setelah Nara mengangguk. Batas itu, justru karena dihormati, membuat sesuatu yang hangat tumbuh di tempat yang tidak diinginkan.
Mereka kembali ke penthouse menjelang tengah malam. Nara mendapati kamar Rafi penuh peta lama peluncuran UX-217. Sang CEO ternyata telah menyelidikinya selama lima tahun, sejak ayahnya meninggal. Ada daftar korban, tim, dan penyintas. Nama akun 2A ditutup tinta hitam.
Di papan lain, Rafi menghubungkan pembayaran rahasia dengan klinik, pejabat kompleks, dan perusahaan cangkang. Nara melihat namanya sendiri tercantum sejak tiga tahun lalu, ketika ia pertama kali meminta audit ulang UX-217. Rafi mengaku mengawasi permintaannya agar Fajar tidak memecatnya. Bagi Nara, perlindungan tanpa sepengetahuan tetap merupakan pengawasan. Ia bertanya berapa banyak keputusan kariernya telah dipengaruhi lelaki itu.
'Hanya satu,' kata Rafi. 'Aku menolak rekomendasi Keira agar aksesmu dicabut.'
'Dan Anda tidak pernah bertanya apakah saya ingin bantuan.'
'Tidak. Itu kesalahanku.'
Pengakuan tanpa alasan membuat amarahnya kehilangan sasaran, tetapi tidak menghapus pelanggaran. Ia memotret seluruh papan dan mengirimkannya kepada Maya. Rafi membiarkan, bahkan membuka laci yang berisi korespondensi ayahnya. Salah satu surat menyebut anak itu harus percaya pernah berada di tempat lain. Kalimat tersebut memperberat kecurigaan terhadap ingatan Rafi.
Nisa mengirim pesan bahwa penyusup meninggalkan sidik jari parsial milik petugas yang sudah meninggal dua tahun lalu. Ada orang yang sengaja menebar identitas orang mati pada setiap lapisan. Nara mulai memahami bahwa pelaku tidak sekadar menghapus bukti; ia membangun kisah alternatif yang cukup rumit untuk membuat semua saksi saling mencurigai.
Rafi membuka botol air dan menyerahkannya. Tangannya terluka akibat pecahan kaca. Nara membersihkannya dengan kotak pertolongan pertama, hati-hati tanpa kelembutan yang ingin ia akui. Rafi tidak mencoba mendekat. Ia justru memberi Nara hak mengunci ruang audit dari aksesnya sendiri.
'Bukti ini juga bisa menghancurkan Anda,' kata Nara.
'Itulah alasan kau harus memegang salinannya.'
Maya kemudian mengabarkan foto kontrak mereka ditawarkan kepada media. Hanya tiga kantor yang punya salinan. Penyusup sudah lebih dekat daripada penjaga di luar pintu.
Nara mengganti kode pintu dan meminta daftar semua orang yang memasuki penthouse. Nama seorang petugas kebersihan palsu muncul pada malam sebelum pernikahan, tetapi wajahnya tidak tertangkap kamera. Rafi menyadari pelaku mungkin telah menanam alat dengar. Bersama keamanan luar, mereka menemukan mikrofon kecil di bawah meja makan.
Penemuan itu menjelaskan mengapa serangan selalu mendahului langkah mereka. Nara menulis rencana palsu tentang memindahkan bukti ke gudang selatan, lalu meninggalkannya di meja sebagai umpan. Bila seseorang bergerak ke sana, mereka akan mengetahui jalur kebocoran masih aktif.
'Mengapa Anda tidak mengatakan telah menyelidiki selama ini?'
'Karena aku belum tahu siapa yang bisa dipercaya.'
'Anda meminta saya menikah sambil menyembunyikan penyelidikan.'
'Aku memberimu akses ketika kontrak berlaku.'
'Klausul kita bukan permainan kata.'
Nara berbalik untuk pergi. Rafi memegang tepi pintu, tidak menyentuhnya.
'Aku mulai menyelidiki karena menemukan pembayaran kepada keluarga dua korban. Pembayaran itu dilakukan ayahku melalui perusahaan cangkang Paman. Aku tidak tahu tujuannya.'
'Dan foto di ruang cadangan?'
Rafi terdiam. Nara melepas cincin, menaruhnya di meja sebagai peringatan.
'Jawab sekarang atau besok saya meminta pembatalan kontrak dan menyerahkan semuanya.'
Wajah Rafi kehilangan ketenangan yang selalu dipakainya. Ia melihat foto pemuda di gerbang, lalu Nara.
'Aku berada di kompleks malam server ayahmu jatuh.'