===== BAB 37: Api di Toko Jahit =====
Toko jahit Sinta terbakar.
Nara sudah meraih jaket ketika petugas perlindungan menahan pintu rumah aman. Protokol melarangnya pergi sebelum lokasi dinyatakan bebas ancaman kedua. Rafi tidak membantah petugas; ia menghubungi komandan pemadam dan menyalakan peta kamera pasar di layar.
Sinta menjawab panggilan dari trotoar seberang. Suaranya batuk-batuk, tetapi jelas. Alarm asap membangunkannya di kamar belakang. Jalur keluar yang diperiksa siang tadi tidak terhalang, sehingga ia dapat membawa kotak dokumen kecil sebelum api mencapai ruang jahit.
'Ibu selamat,' katanya. 'Jangan datang kalau polisi belum mengizinkan.'
Nara membenci nasihat yang masuk akal itu. Ia berdiri di depan layar sambil melihat petugas memecah pintu gulung. Api terpusat di rak kain belakang dan padam dalam dua puluh menit. Bangunan utama tidak runtuh.
Penyidik kebakaran menemukan dua titik penyalaan. Cairan pemicu dituang melalui ventilasi, lalu disulut dengan perangkat waktu murah. Pelaku tidak masuk ke bagian depan yang memiliki kamera. Ia tahu susunan toko atau mengamatinya cukup lama.
Pagi menjelang ketika Nara diizinkan datang. Sinta duduk di ambulans dengan selimut abu-abu. Nara memeluk ibunya setelah paramedis memastikan tidak ada luka serius. Rafi menunggu satu langkah di belakang sampai Sinta mengulurkan tangan kepadanya.
'Kalau kau membawa kopi, kau boleh mendekat,' kata Sinta.
Rafi menyerahkan gelas yang dibelinya di pos. Candaan Sinta menahan kepanikan agar tidak menguasai semua orang, tetapi matanya terus memandang pintu toko yang menghitam.
Ahli forensik menunjukkan serat biru tua yang tersangkut pada kisi ventilasi. Bahan itu tahan api dan pernah dipakai untuk seragam kru darat Bintang sebelum modelnya diganti lima belas tahun lalu. Serat tidak membuktikan pemakainya mantan pekerja; seragam lama bisa diambil dari gudang.
Alamat gudang dalam daftar Keira menjadi prioritas. Polisi memperoleh surat penggeledahan darurat karena kebakaran menunjukkan risiko penghilangan bukti. Mereka menemukan rak kosong, mesin penghancur panas, dan potongan seragam dengan jenis serat sama. Tidak ada Bram.
Sebuah kamera tersembunyi di gudang merekam seseorang keluar dua jam sebelum kebakaran. Wajah tertutup helm, tetapi ia berjalan dengan kaki kiri sedikit kaku. Bayu mengenali gerakan Bram sejak kecelakaan kerja lama. Identifikasi itu harus diuji ahli, bukan dijadikan kepastian.
Di meja bengkel terdapat denah pasar dengan toko Sinta dilingkari. Catatan tangan berbunyi: pecahan kedua tidak boleh sampai dibaca. Ini mengonfirmasi pelaku percaya sesuatu masih tersembunyi di toko.
Nara memeriksa barang yang diselamatkan Sinta. Kotak dokumen hanya berisi buku nikah, akta lahir, foto Dion, dan beberapa pola jahitan. Tidak ada pecahan logam. Sinta bersikeras Dion tidak pernah memberi kunci apa pun.
'Dia menyembunyikan hal-hal dalam jahitan,' kata Nara. 'Mungkin bukan sebagai kunci.'
Mereka memasuki toko setelah struktur dinyatakan aman. Air menggenang di lantai, kain basah menggantung seperti bendera kalah. Mesin jahit tua Dion berdiri di sudut, tertutup jelaga tetapi tidak terbakar karena rangkanya logam.
Sinta menjelaskan mesin itu tidak dipakai sejak pedalnya macet. Dion dahulu memasang papan kayu tambahan di bawah pedal agar tinggi kaki Sinta nyaman. Nara berlutut dan melihat dua sekrup berbeda warna. Salah satunya baru menurut ukuran mesin, tetapi tetap berumur belasan tahun.
Polisi memotret sebelum membukanya. Di balik papan terdapat ruang tipis yang dibungkus kain tahan panas. Ruang itu tidak cukup besar untuk kapsul, hanya untuk lipatan kertas dan benda sepanjang ibu jari.
Kertasnya rusak pada tepi, sedangkan benda logam tetap utuh. Permukaannya memiliki jalur kontak yang cocok dengan pecahan pertama dari jembatan servis. Nomor serial berakhir dengan angka dua.
Sinta menutup mulut. Ia mengingat Dion memperbaiki pedal seminggu sebelum penerbangan UX-217. Dion mengatakan mesin harus tetap berada di keluarga meski toko pindah. Saat itu Sinta mengira suaminya sentimental.
Nara menahan keinginan menyentuh benda tersebut. Petugas memasukkannya ke kantong bukti dan mengambil sampel jelaga untuk memastikan tidak ada kontaminasi modern.
Rafi menemukan satu bagian kertas yang masih dapat dibaca setelah difoto dengan cahaya miring. Tulisan Dion membentuk beberapa kata: untuk Sinta, bila aku gagal pulang.
Nara meminta laboratorium memulihkan pesan tanpa membuka lipatan paksa. Ia tidak ingin kalimat ayahnya hancur karena ketergesaan yang sama dengan penyelidikan lama.
Ketika matahari naik, papan nama toko masih berdiri meski hurufnya berjelaga. Sinta berkata akan memperbaikinya, tetapi Nara meminta keputusan menunggu penilaian keamanan. Tidak ada simbol keberanian yang sepadan dengan nyawa.
Siang harinya, laboratorium mengirim citra multispektral pertama. Pesan Dion bukan hanya perpisahan. Di bawah namanya terdapat sketsa tiga potongan yang mengunci menjadi satu.
Sebelum meninggalkan lokasi, forensik membandingkan cairan pemicu dengan residu gudang. Komposisinya sama-sama mengandung pelarut industri yang tidak dijual di toko biasa. Nomor lot pada jeriken gudang dapat ditelusuri ke pembelian Merapi dua bulan sebelumnya.
Polisi juga menemukan bekas ban di ujung gang. Ukurannya cocok dengan kendaraan servis yang terekam, tetapi ribuan mobil memakai jenis serupa. Mereka mengumumkan ciri tanpa menyebut kesimpulan agar saksi tidak menyesuaikan ingatan.
Sinta menolak tawaran perusahaan untuk merenovasi toko. Ia menerima bantuan darurat dari dana korban yang dikelola pengadilan dengan pencatatan terbuka. Menurutnya, bantuan tak boleh datang sebagai kemurahan hati keluarga yang sedang diperiksa.
Di rumah aman, Nara membersihkan jelaga dari foto Dion. Ia menyadari api ditujukan bukan hanya pada barang bukti, tetapi pada ingatan keluarga. Kegagalan pelaku menghancurkan mesin jahit membuat benda sehari-hari itu berubah menjadi saksi.
Dion menjahit pecahan kedua ke dalam hidup keluarganya.