===== BAB 36: Nikah Tanpa Jabatan =====
Pernikahan mereka bertahan ketika jabatan yang melahirkannya sudah hilang.
Pagi pertama setelah lampiran kontrak ditandatangani terasa lebih janggal daripada malam pernikahan. Tidak ada mobil dinas, agenda dewan, atau asisten yang mengetuk pintu. Rafi membuat kopi terlalu pahit di dapur rumah aman, sedangkan Nara memeriksa surel regulator dengan rambut masih terikat sembarangan.
'Jadi, apa yang dilakukan mantan CEO pada hari liburnya?' tanya Nara.
'Mencari tahu harga sabun cuci karena rupanya rumah tidak mengisinya sendiri.'
Jawaban itu membuat Nara tertawa, tetapi mereka segera kembali pada batas yang telah disepakati. Mereka membagi biaya makanan, menetapkan jadwal penggunaan kendaraan saksi, dan menulis bahwa keputusan tentang perkara tidak boleh dibahas ketika salah satu sedang lelah. Hal-hal kecil memberi bentuk pada pilihan yang sebelumnya hanya terdengar romantis.
Kresna datang membawa salinan perubahan kontrak. Ia memastikan tidak ada klausul yang membuat perkawinan berakhir otomatis setelah Rafi kehilangan jabatan. Masa lima belas bulan tetap berjalan, dan keduanya memiliki hak mengajukan pengakhiran lebih awal secara bebas.
'Saya tidak akan bertanya apakah kalian saling mencintai,' katanya. 'Saya hanya perlu memastikan tak seorang pun memakai perlindungan hukum untuk menahan yang lain.'
Nara menjawab ia ingin alamat terpisah disiapkan sebagai pilihan. Bukan karena hendak pergi, melainkan karena kemampuan pergi membuat keputusan tinggal menjadi nyata. Program saksi menyetujui sebuah unit cadangan yang hanya diketahui petugas tertentu.
Rafi juga menyerahkan kuasa untuk mengurus biaya perlindungan kepada pengadilan. Selama ini beberapa tagihan melewati perusahaan. Kini dana sementara berasal dari rekening yang dibekukan dan diawasi, tanpa bisa dipakai Rafi untuk menentukan gerak Nara.
Siang itu mereka mengunjungi kantor kustodian sebagai dua saksi, bukan pasangan pemegang suara. Surya menjelaskan akses publik terhadap dokumen UX-217 akan dibuka bertahap agar data medis korban tidak tersebar. Nara meminta keluarga korban ikut menentukan bagian yang disamarkan.
Ratih, yang hadir melalui video, menyetujui prinsipnya namun mengingatkan bahwa keluarga tidak boleh dijadikan stempel. 'Berikan waktu, bantuan ahli, dan hak mengatakan tidak.'
Rafi mencatat kalimat itu. Ia tidak menjawab atas nama perusahaan karena tidak lagi punya wewenang. Kebiasaan menahan diri ternyata lebih sulit daripada melepas kartu akses.
Setelah rapat, Keira menunggu di lobi bersama pengacaranya. Ia menawarkan dokumen pengadaan lama bila tuntutan terhadapnya diringankan. Kresna menjelaskan hanya jaksa yang dapat menilai kerja sama, dan dokumen harus diserahkan tanpa syarat lebih dahulu.
Keira memandang cincin Nara. 'Kau tetap tinggal setelah dia tak punya apa-apa?'
'Dia masih punya tanggung jawab,' jawab Nara. 'Dan aku tidak tinggal untuk menjadikannya hadiah.'
Keira menyerahkan daftar gudang keluarga yang pernah dipakai menyimpan perlengkapan UX-217. Satu alamat ditandai sebagai bengkel seragam lama milik yayasan Dirgantara. Audit awal menunjukkan tempat itu masih menerima pembayaran listrik melalui perusahaan cangkang Merapi.
Nisa memeriksa catatan jaringan dari lokasi tersebut. Sebuah meter pintar berkirim data setiap malam ke server yang terhubung dengan Bram. Sinyalnya lemah, tetapi pola waktunya sama dengan pesan KAPTEN-2.
Polisi meminta mereka tidak mendatangi gudang sebelum surat penggeledahan terbit. Nara menyetujui, lalu menghubungi Sinta untuk memastikan toko jahitnya aman. Alamat gudang hanya berjarak dua gang dari toko tempat Dion dahulu memperbaiki seragam operator.
Sinta menganggap kecemasan Nara berlebihan. Kamera baru sudah terpasang, tabung pemadam diperiksa, dan penjaga pasar berpatroli. Namun Nara tetap meminta petugas meninjau jalur keluar.
Malamnya, Nara dan Rafi makan mi rebus di meja yang penuh fotokopi. Rafi bertanya apakah hidup seperti ini dapat disebut perkawinan. Nara mengatakan mungkin perkawinan bukan rumah besar atau jabatan, melainkan izin untuk menegosiasikan hidup berulang kali tanpa menganggap persetujuan kemarin berlaku selamanya.
'Kedengarannya melelahkan,' kata Rafi.
'Keselamatan juga melelahkan. Tetap harus dilakukan.'
Mereka mencuci piring masing-masing. Sebelum tidur, Rafi mengetuk pintu kamar Nara hanya untuk mengucapkan selamat malam. Nara membalas tanpa membukanya. Batas itu tidak terasa sebagai penolakan; justru bukti bahwa kedekatan mereka mampu hidup bersama batas.
Pukul tiga dini hari, alarm pada telepon Nara meraung. Kamera toko Sinta mengirim gambar asap tebal dari pintu belakang.
Petugas perlindungan sudah memasang tombol darurat di bawah meja kasir. Sinta berlatih menggunakannya sore tadi sambil mengomel bahwa anaknya memperlakukan toko seperti fasilitas berisiko tinggi. Latihan yang terasa berlebihan itu kini memberi pemadam lokasi tepat dalam hitungan detik.
Nara melihat rekaman terakhir sebelum asap menutup lensa. Bayangan berhelm berhenti di ventilasi, menempatkan benda kecil, lalu mengangkat tangan seolah memberi tanda kepada seseorang di ujung gang. Mungkin ada pelaku kedua yang belum terlihat.
Rafi menghubungi Nisa agar semua data kamera disalin ke server pengadilan. Ia tidak meminta akses langsung. Setelah mengundurkan diri, jalur tercepat bukan lagi jalur yang sah baginya.
Sinta tetap di telepon sambil menghitung napas seperti yang diajarkan paramedis. Suara sirene mendekat dari dua arah. Dalam gambar, nyala pertama muncul dari rak belakang dan alarm penyiram mulai bekerja.
Petugas meminta Nara menyebut isi paling berharga di dalam toko. Ia menjawab mesin jahit tua, kotak keluarga, dan kemungkinan bukti Dion. Jawaban itu diteruskan kepada pemadam agar penyelamatan barang tidak mengalahkan prioritas mencari manusia. Tidak seorang pun boleh masuk demi benda selama ruang belum dinyatakan kosong.
Di layar, Sinta sudah berada di titik kumpul bersama dua pedagang tetangga. Nara baru berani bernapas penuh setelah petugas menghitung semua penghuni bangunan.
Toko jahit Sinta terbakar.