===== BAB 28: Nisa Menolak Diam =====
Nisa menolak diam, dan datanya menunjukkan ada dua orang yang dibungkam di klinik.
Nomor pasien kedua memakai kode P-0B. Usia tercatat tiga puluh empat, pekerja komunikasi, luka bakar ringan, dan gangguan pendengaran sementara. Laras mengidentifikasinya sebagai Bayu Pradana, teknisi radio UX-217 yang dalam laporan resmi disebut meninggal di lokasi.
Daftar korban memang memuat Bayu. Keluarganya menerima peti tertutup karena alasan kerusakan berat. Tidak ada hasil identifikasi DNA dalam arsip yang diberikan kepada mereka. Nara merasakan dingin menjalar; bila Bayu selamat, satu keluarga berkabung atas tubuh yang belum pasti.
Catatan pemakaman menunjukkan peti berisi sisa yang diklasifikasikan tidak teridentifikasi, lalu ditempatkan atas nama Bayu berdasarkan daftar kursi. Damar meminta makam tidak dibuka sebelum keluarga memutuskan. Temuan dapat berarti korban lain juga salah identifikasi. Seluruh sebelas keluarga diberi pemberitahuan privat dan akses penasihat, bukan mengetahui dari berita.
Nara menyadari jumlah korban mungkin tetap sebelas, tetapi nama di antara mereka dapat berbeda. Ia menolak mengubah papan memorial sampai pemeriksaan forensik selesai. Memperbaiki satu kesalahan dengan pengumuman tergesa hanya akan menciptakan kesalahan baru.
Damar meminta penggalian makam hanya sebagai pilihan terakhir dan harus melibatkan keluarga. Mereka lebih dulu mencari catatan kependudukan, sidik, dan pembayaran. Nisa menemukan rekening anonim yang menerima biaya hidup selama sebelas tahun, lalu berhenti enam tahun lalu saat Mahendra meninggal.
Alamat terakhir mengarah ke rumah perawatan di Semarang. Seorang penghuni bernama Banu Pradipta memiliki usia dan cedera telinga serupa. Tim lokal diminta tidak datang dengan rombongan. Pendamping korban menghubungi keluarga Bayu untuk menjelaskan kemungkinan tanpa memberi harapan palsu.
Keluarga marah karena penyelidikan dibuka melalui telepon setelah tujuh belas tahun. Ratih Anindita, kakak Bayu, menolak bertemu Rafi atau siapa pun dari Bintang. Nama Ratih sama dengan pesan Dion kepada Sinta. Nara tidak menyebut pecahan kunci dalam kontak pertama; prioritasnya memastikan status Bayu.
Pendamping menawarkan pertemuan di rumah, kantor, atau lokasi netral. Ratih memilih kantor bantuan hukum dan membawa dua anggota keluarga. Ia meminta semua orang menyebut Bayu sebagai kemungkinan penyintas, bukan memastikan sebelum tes. Nara mengikuti istilah itu dan duduk tanpa atribut Bintang.
Ratih menunjukkan surat kematian yang diterbitkan berdasarkan daftar perusahaan, bukan pemeriksaan jenazah. Keluarga pernah meminta melihat laporan identifikasi tetapi diberi alasan keamanan. Dokumen tersebut menjadi bukti bagaimana administrasi dapat mengubah dugaan menjadi kenyataan hukum yang bertahan puluhan tahun.
Nisa memimpin pencocokan data teknis. Sidik jari Banu pada dokumen rumah perawatan cocok sebagian dengan kartu pegawai Bayu yang rusak. Foto telinga menunjukkan bekas luka yang sama. Kepastian membutuhkan tes DNA sukarela.
Banu mengalami gangguan memori dan berbicara sedikit. Pengelola mengatakan seorang pria dari Jakarta membayar perawatannya sampai enam tahun lalu. Setelah dana berhenti, sebuah yayasan mengambil alih. Yayasan itu terhubung dengan trust Mahendra, bukan Fajar.
Fakta tersebut menambah lapisan: Mahendra menutup bukti, tetapi mungkin juga menjaga Bayu hidup. Nara menolak memilih satu label untuk seluruh tindakannya sebelum memahami alasan.
Ratih akhirnya setuju tes DNA setelah bertemu Banu tanpa kamera. Hasil cepat menunjukkan hubungan saudara dengan kemungkinan sangat tinggi. Ia meminta waktu sebelum mengubah status hukum. Tidak ada konferensi pers. Negara telah mengambil tujuh belas tahun; ia berhak mengambil beberapa hari.
Pertemuan mereka hanya berlangsung dua belas menit. Bayu tidak mengenali nama Ratih, tetapi mengenali lagu masa kecil yang ia nyanyikan. Ratih keluar sambil menangis dan menolak diwawancarai media yang mengetahui lokasi dari kebocoran rumah perawatan. Damar membuka penyelidikan terpisah atas kebocoran tersebut.
Rumah perawatan memperbarui rencana Bayu bersama keluarga dan wali medis independen. Ia tidak langsung dibawa pulang karena perubahan lingkungan dapat memperburuk kondisinya. Keinginan keluarga tidak boleh menggantikan kebutuhan dan persetujuan Bayu sebatas yang mampu ia berikan.
Bayu tidak dapat memberi kesaksian panjang, tetapi mengenali suara alarm UX-217 dan menggambar tiga lingkaran seperti kepala kunci kuningan. Ketika diperlihatkan foto orang secara buta, ia menunjuk Dion, Bram, dan Laras. Ia tidak menunjuk Rafi atau Fajar.
Laras menjelaskan Bayu sadar ketika Rafi dibawa masuk. Ia mendengar Bram meminta lokasi kapsul. Bayu menolak, lalu diberi sedatif. Laras membantu memindahkannya ke rumah perawatan dengan dukungan Mahendra karena takut Bram akan kembali. Ia menyimpan map regulator sebagai jaminan.
'Mengapa namanya tetap dalam daftar korban?' tanya Damar.
'Mahendra berkata Bayu hanya aman bila dunia mengira ia mati,' jawab Laras. 'Saya percaya karena saya juga takut.'
Nara mencatat bahwa perlindungan tanpa persetujuan telah merampas identitas Bayu. Menyelamatkan tubuh tidak memberi hak menghapus hidup seseorang. Ratih mendengar penjelasan itu dan berkata keluarganya akan menentukan sendiri apakah memaafkan Laras.
Nisa menerima pujian karena menemukan jejak, tetapi ia mengingatkan data medis sangat sensitif. Hanya bagian relevan yang masuk perkara; diagnosis lain ditutup. Ancaman terhadap adiknya juga tetap diperiksa oleh tim terpisah.
Dalam backup klinik, nomor perangkat Rafi dan Bayu memiliki satu kesamaan: keduanya dipantau oleh akun Mahendra hingga enam tahun lalu, kemudian diambil alih KAPTEN-2. Setelah Mahendra meninggal, Bram memperoleh kendali penuh atas notifikasi.
Laras menyerahkan dua buku catatan asli. Buku pertama mencatat kondisi Rafi. Buku kedua memuat instruksi palsu untuk mengirimnya ke Singapura. Di antara halaman ada foto jembatan servis dengan kapsul hitam di tangan Rafi.
Kertas buku Laras menyimpan tekanan tulisan dari halaman yang pernah dicabut. Ahli membaca sebagian kalimat: 'Bram mencari kunci pada pakaian keduanya.' Kata keduanya dapat berarti Rafi dan Bayu. Inventaris menunjukkan pakaian Bayu tidak pernah masuk depot. Ratih mengingat barang kakaknya juga tidak dikembalikan.
Bayu menggambar kapsul sebagai kotak dengan tiga garis. Ketika diberi pilihan warna, ia memilih hitam dan kuning. Gambar itu dibuat tanpa menunjukkan foto perangkat. Kesamaan dengan keterangan Rafi mendukung keberadaan kapsul, meski kondisi Bayu membatasi penggunaan kesaksiannya di pengadilan.
Dua pasien tanpa nama akhirnya memiliki wajah, tetapi salah satunya masih kehilangan malam yang menentukan hidupnya.