===== BAB 17: Gudang Barang Korban =====
Depo itu masih berdiri, tetapi seluruh inventaris UX-217 dijadwalkan dimusnahkan Jumat pagi.
Hari itu Kamis malam. Damar mengajukan penyegelan darurat, namun hakim meminta bukti bahwa barang di depot berkaitan langsung dengan perkara aktif. Buku Jatmiko cukup sebagai dasar pencarian terbatas, bukan pengambilalihan seluruh bangunan. Kresna menyusun permohonan yang memisahkan barang UX-217 dari ribuan inventaris lain agar tindakan mereka tidak berlebihan.
Nara, Nisa, dan dua teknisi regulator tiba sebelum tengah malam. Depot berada di tepi kawasan industri, dengan papan baru milik perusahaan pengelola limbah. Manajer malam bersikeras tidak pernah mendengar UX-217. Ia menunjukkan jadwal pemusnahan yang hanya mencantumkan 'tekstil lama dan perangkat usang'.
Damar membaca perintah pengadilan. Pintu dibuka, tetapi lorong menuju ruang GBT-4 telah ditutup rak besi. Pekerja mengaku rak itu tidak pernah dipindahkan selama lima tahun. Debu pada roda menunjukkan sebaliknya.
Mereka memotret kondisi sebelum menyentuh apa pun. Forklift memindahkan rak di bawah kamera. Di belakangnya ada pintu tanpa label dengan kunci silinder tua. Bentuk lubang kunci terlalu besar untuk kunci kuningan dalam gambar Sinta, tetapi Nara tidak menganggapnya jalan buntu. Kunci kecil mungkin membuka loker di dalam.
Manajer mengatakan tidak memiliki kunci pintu. Petugas pemadam membuka engsel setelah hakim memberi izin tambahan lewat sambungan video. Udara lembap keluar bersama bau kain, minyak, dan kertas tua. Puluhan kantong bukti menggantung pada rel, sebagian labelnya pudar.
Nisa memindai kode satu per satu. Nomor UX-217 tidak ada, tetapi pola tahun dan rumah sakit cocok dengan sebelas kantong. Satu kantong kedua belas memakai nomor pasien nol. Isinya hanya kemeja robek dan sepatu laki-laki ukuran empat puluh dua. Gelang, kartu kursi, dan perangkat hitam hilang.
Kemeja pasien nol memiliki sobekan pada bahu kanan yang sesuai dengan bekas luka lama Rafi, tetapi ukuran dan luka bukan identifikasi tunggal. Sampel darah yang mengering masih mungkin diuji bila pengadilan mengizinkan dan Rafi memberi pembanding. Ia menandatangani persetujuan setelah dokter menjelaskan penggunaan terbatas; hasilnya tidak boleh dimasukkan ke basis komersial atau dipakai mencari kerabat lain.
Nara menemukan mantel dinas di rel paling belakang. Nama Dion telah dilepas, tetapi bekas jahitan huruf D masih terlihat. Ia tidak langsung meraih. Teknisi memotret, mengambil sampel debu, dan membuka kantong pada meja bersih.
Lapisan dalam mantel pernah disayat sepanjang enam sentimeter lalu dijahit kembali dengan benang berbeda. Tidak ada kunci. Pemeriksaan sinar menunjukkan tiga serpihan kuningan tertinggal di serat, membuktikan benda logam berbahan serupa pernah berada di sana.
'Seseorang mengambilnya tanpa merobek seluruh lapisan,' kata Nara. 'Dia tahu persis tempat jahitannya.'
Di saku dalam terdapat tiket kantin dengan tulisan pensil: 314. Nomor itu bisa berarti meja, loker, atau sekadar harga. Nara memasukkannya sebagai barang terpisah.
Seorang penjaga tua memperhatikan dari pintu. Namanya Idris, mantan petugas arsip Bintang yang kini bekerja paruh waktu untuk pengelola depot. Nara mengenal namanya dari pusat arsip, tetapi lelaki ini bukan Pak Idris yang membuka Hangar Tujuh; nama keluarga mereka berbeda. Untuk menghindari kebingungan, ia memperkenalkan diri lengkap sebagai Idris Halim.
Idris Halim berkata ia pernah melihat mantel itu dipindahkan oleh Bram dan dua pria lain. Damar menghentikannya agar wawancara dilakukan di ruang terpisah dengan perekam. Idris setuju, tetapi meminta keluarganya diberi tahu lokasi.
Dalam pernyataan awal, ia mengaku bertugas di jembatan servis UX-217 malam kecelakaan. Ia melihat Rafi muda datang membawa kapsul hitam. Dion memasukkan kunci kuningan ke mantel, sedangkan kapsul tetap di tangan Rafi sampai alarm persiapan. Bram kemudian muncul dan menyuruh Idris meninggalkan pos.
'Mengapa baru bicara?' tanya Damar.
'Karena Bram menunjukkan foto anak saya berangkat sekolah. Setelah kecelakaan, dia memberi saya pekerjaan depot dan bilang itu cara keluarga menjaga orang yang patuh.'
Idris menyimpan satu benda dari malam tersebut: tag loker kuningan bernomor 314. Ia mengambilnya dari lantai setelah Bram menyeret Rafi menuju jalur keberangkatan. Tag itu tidak pernah dilaporkan karena rasa takut.
Nara tidak menjanjikan pengampunan. Menyembunyikan bukti tetap memiliki akibat. Namun ancaman terhadap keluarga juga harus dicatat. Idris bersedia menyerahkan tag keesokan pagi dari tempat persembunyian yang hanya diketahui istrinya.
Ketika operasi depot selesai, jadwal pemusnahan dibatalkan. Sebelas kantong korban dipindah ke gudang pengadilan dengan persetujuan keluarga melalui perwakilan. Nara menolak menjadikan barang mereka bagian pajangan media.
Di halaman depot, Rafi menunggu di mobil regulator setelah pemeriksaan dewan berakhir. Ia tidak masuk selama penggeledahan. Idris melihatnya dari jauh dan mulai gemetar.
Rafi meminta kendaraan dipindah agar Idris tidak merasa diawasi. Dari dalam mobil, ia menandatangani persetujuan membuka arsip personalnya kepada perlindungan saksi, termasuk daftar staf keluarga yang pernah mendatangi rumah Idris. Tindakan itu tidak diumumkan. Nara mengetahuinya dari Damar dan memilih tidak memujinya; kerja sama seharusnya menjadi kewajiban, bukan cara membeli kedekatan.
Sebelum Idris pergi, ia menggambar posisi jembatan servis dan arah Bram datang. Sketsanya cocok dengan foto denah sebelum renovasi, termasuk pintu kecil yang tidak ada pada peta publik. Di balik pintu itu dulu terdapat lorong menuju loker pekerja. Nomor 314 berada paling dekat dengan jalur keberangkatan UX-217, memungkinkan Dion menyembunyikan sesuatu tanpa kembali ke gedung utama.
'Anak itu memang ada di sana,' katanya kepada Damar. 'Bram menyebutnya kunci hidup.'
Tag loker 314 menjadi jejak pertama yang tidak berasal dari ingatan Rafi atau arsip keluarga.