Abrisam POV
Kulihat gaway yang menampakan barisan pesan yang kukirim kepada Nama Bahirah Sofwa widadi, namun setelah kutunggu begitu lama, bahkan sampai berhari-hari, sepertinya tidak ada niatan baginya untuk membalas pesanku. bergulir ke akun f*******:, di bagian beranda menampilkan deretan cerita dari teman dunia Maya, pandanganku terhenti di satu cerita dari akun yang bernama Bahira Safwa Widadi, Ia membagikan cerita sebuah foto yang menampakan bangunan masjid Daarut Tauhiid yang dipenuhi oleh jamaah, dengan caption "Ketenangan dunia bersama hafidz hafidzah". Hatiku bergetar hanya dengan melihat kabar beranda yang menampakan ceritanya.
"Entah kenapa ketika melihat segala sesuatu tentangnya, gue merasa semangat dan penasaran" gumamku berbicara pada diri sendiri.
Awal perkenalan ku dengan akun yang bernama Bahira Safwa Widadi ini adalah, ketika aku berusaha mencari nama Sofwa, yang tak lain adalah cinta pertamaku di bangku SMA dulu, yang hilang kontak dan tak pernah berkabar, karena kepindahannya setelah kami lulus SMA yang tak kuketahui kemana ia pindah. karena sudah merasa putus asa akhirnya ku add semua nama akun yang ada nama Sofwa, dan tanpa sengaja aku meminta pertemanan kepada Bahirah Sofwa Widadi, setelah kami berteman di f*******: sejak tahun 2010 yaitu sejak ia duduk dibangku kelas XI SMA, yang kulihat dari deretan ceritanya ia adalah seorang siswi dari sekolah Islam yaitu Madrasah Aliyah di kawasan Jawa barat yang mungkin sedikit jauh dari kota Bandung, dan saat itu aku masih menjadi seorang mahasiswa semester akhir di sebuah universitas elit di kota Bandung di fakultas kedokteran. Dan kini aku sudah berada di sebuah perusahaan cabang yang berada di kota Bandung milik ayahku, Aku adalah seorang dokter yang dipaksa untuk menjalankan sebuah perusahaan dan sebelum itu aku dipaksa belajar tentang bisnis hingga ke universitas yang berada di London, selama 3 tahun. sepulangnya dari london, tiga bulan sudah aku menjalankan usaha milik ayahku disini. kini usiaku hampir menginjak kepala 3, yaitu 29 tahun. Dering Handphone yang berada di genggamanku membuyarkan lamunanku, Tertera nama Mamah nyong memanggil, langsung ku terima panggilan itu, karena jika terlambat menerima panggilan itu akan menjadi perkara yang ribet dan panjang.
" Iya mak, mama lagi ngapain, baru tadi siang mama telfon, ada apa lagi? "
" Kamu ini, bukannya ucap salam, malah marah marah sama ibu sendiri. "
" iya mak, Assalamualaikum.. jadi kenapa? "
" Gak mau tau yah, kamu harus cepat menikah, mau sampai kapan kamu membujang seperti itu? "
" Aduh mamah sayangeeee, itu terus yang dibahas, mamah gak bosan apa? "
" kamu dengar yah, tetangga disini dan juga teman teman mamah, sudah punya menantu perempuan dan mereka sudah nimbang cucu, apa kalian sebagai anak tidak mau membahagiakan orangtua, hanya dengan memberikan menantu yang cantik dan baik, dan juga kasih rame mamah pe rumah dengan cucu yang banyak, mamah sama papa ini punya 4 anak dan belum satupun di antara kalian yang mau menikah? "
Omelan yang begitu panjang dari mama, membuatku menjauhkan handphone dari telinga ku.
" Mak, kan mama masih punya 3 anak perempuan, kenapa gak suruh saja mereka nikah, lagian kan anak perempuan sudah sepantasnya menikah di usia segitu, beda sama laki laki. "
" Dan justru usia kamu yang makin tua, udah hampir kepala 3 Bim, kamu pantasnya udah punya dua anak. "
" mah tolong, mamah jangan banyak pikiran yang penting mamah sama papah sehat to, nanti kalo sudah waktunya pasti Abim menikah ko mah, sudah Abim masih banyak kerjaan nih mah. "
" kamu selalu saja melawan, yaudah besok mama telpon lagi ya, assalamualaikum. "
" iya mah wa'alaikum salam. "
selesai berdebat tentang jodoh dengan mamah, ku lanjutkan pekerjaan kantor yang memang sengaja ku bawa ke rumah agar lebih cepat selesai.
***
Pagi hari di lobby gedung perusahaan, ku langkahkan kaki dengan gontai ke arah lift khusus CEO dan dewan direksi saja, ketika menunggu pintu lift terbuka kulihat Farid seorang OB sedang membersihkan area lobby bersama temannya.
" Kasiah sepupu gue, si Sofwa lo masih ingat kan sama dia, dia sekarang lagi berusaha cari kerjaan, dia udah gak kuat kerja di pabrik, ya lo tau kan jadi buruh pabrik itu harus kuat mental dan fisik. "
" Oh Sofwa, ingat lah baru Minggu kemarin gua liat dia sama temannya ikut kajian ke masjid AA Gym, makin cantik yah dia, Sholeha lagi, kenapa gak suruh nikah aja, dia juga kan sekarang usianya sudah cukup untuk menikah, atau Lo jodohin aja dia sama gue. "
" Enak aja, gak sudi gue kasih sepupu gue ke elo, lagian sejak kapan Lo ikut kajian? "
" Gue gak ikut kajian, cuman gue mampir makan di jajanan kuliner jl. gegerkalong girang, jalan itu kan kawasan pesantren aa gym, gue pulang main dari lembang, eh gak sengaja gue liat Sofwa, sempat gue tegur juga dia bilang lagi ikut kajian dan mabit disana. "
TIING..!!!
Suara lift terbuka membuyarkan konsentrasiku yang sedang mendengar percakapan Farid dengan temannya tentang gadis bernama Sofwa.
" Apakah Sofwa yang sama? "
gumamku bertanya pada diri sendiri sambil memasuki lift. hanya beberapa detik kini aku sudah berada di lantai 10 yaitu lantai khusus CEO dan dewan direksi perusahaan saja. hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus ku selesaikan dan yang paling penting hari ini adalah meeting bersama klien dari Malaysia.
Di jam makan siang, tak sengaja aku melihat Farid sedang berjalan menuju pantry.
" Farid boleh saya berbicara sebentar sama kamu? " Entah apa yang membuat tubuh dan mulut saya tiba tiba mengajak Farid untuk bicara.
" Oh boleh pa, ada apa ya? "
jawab Farid dan mengikuti langkahku ke arah pantry.
" Apa kamu mengenal perempuan bernama Sofwa, siapa nama panjangnya, bukankah dia sepupu kamu? "
sesampainya di pantry aku langsung memberondongnya dengan pertanyaan. logika hati dan tubuhku saat ini seperti sedang tidak berada dalam keadaan yang sinkron antara menolak dan memaksa untuk mencari tahu tentang gadis yang bernama Sofwa itu.
" bapak kenal sama Sofwa sepupu saya? Eh maaf pa, maksud saya iya saya memiliki sepupu yang bernama Bahirah Sofwa Widadi dan kami biasa memanggilnya dengan panggilan Sofwa. " Farid menjawab pertanyaan dengan jelas dan canggung.
" maaf pa, kalo boleh tanya, apakah sepupu saya ada masalah sama bapak? "
lanjutnya dengan ekspresi khawatir.
" Tidak, saya tidak pernah ada masalah apapun dengan sepupu kamu, bertemu saja saya belum pernah. "
Jawabku meyakinkannya, namun kini aku semakin penasaran dan ingin lebih jauh mengenal perempuan bernama Bahira Safwa Widadi ini.
" Baiklah, terima kasih sudah menjawab pertanyaan saya. "
aku berkata sambil melangkah meninggalkan pantry tanpa mendengar jawaban Farid.
" Apakah kamu orang yang dimaksud Farid? "
gumamku sambil menatap foto yang ada di dalam handphoneku.
kini aku sedang duduk di kursi kerja yang berada di dalam ruanganku, karena semakin penasaran dan entah kenapa aku ingin segera mengenal gadis itu, aku menelpon sekretaris ku agar memanggil Farid datang ke ruanganku. Tah menunggu lama, Farid sudah mengetuk pintu ruanganku dan dipersilahkan masuk.
" silahkan duduk dulu. "
perintahku padanya menunjuk ke arah sofa. Dan Farid pun dengan segan dan canggung duduk di sofa berhadapan denganku.
" Farid langsung saja, saya ingin melanjutkan pembicaraan kita tadi di pantry. iya, tentang sepupu kamu yang bernama Bahira Safwa Widadi itu. "
" iya pa, oh barangkali bapak butuh Asisten rumah tangga ya, kebetulan pa sofwa sepupu saya itu sedang mencari pekerjaan baru, tapi dia belum pernah jadi ART pa, dia hanya punya pengalaman kerja jadi waitress dan buruh pabrik aja, dia bel..... "
" Cukup, kamu sok tau juga yah, saya hanya mau memastikan sesuatu sama kamu, apakah ini orangnya? "
kataku, memotong pembicaraannya yang tidak penting dan malah membuat telingaku terasa sakit. Bersamaan aku menyodorkan handphone yang menampakan sebuah foto di layar yang tak lain adalah foto seorang gadis yang bernama Sofwa.
" Be..bet...betul pa, itu Sofwa sepupu saya, dari mana....?
Farid memotong pembicaraannya dengan menganggap dan ketakutan. ia seperti ingin bertanya, dari mana aku mendapatkan foto itu, bagaimana aku bisa mengenalnya, dan untuk apa aku menyimpan fotonya? mungkin pertanyaan itu yang sekarang berkecamuk di kepalanya.
" Oke, boleh saya minta no telponnya,? "
" tapi pak...Bo..boleh pa. "
iya langsung membuka handphone miliknya dan mengetikan nomor di papan klip nomer handphone mu.
" Ini pak, tapi pak saya mohon maaf jika sepupu saya membuat kesalahan kepada bapak, tolong maafkan dia pak. "
" kamu ngomong apa sih, sudah kamu boleh lanjutkan pekerjaan kamu. "
perintahku tanpa mengucapkan terimakasih.
setelah Farid menghilang dibalik pintu, aku langsung berdiri dan mengangkat kedua tangan dan dikepalkan lalu menariknya ke sebelah d**a dengan meneriakan kata YESSS...!!!! di waktu yang bersamaan datang Abdur membuka pintu dan masuk tanpa mengetuk pintu, membuatku kaget dan sedikit malu, sehingga aku berpura pura meregangkan otot-otot ku.
" Ciyeee, kenapa Lo, kaya dapat tender besar aja ekspresinya, sekalipun dapat tender besar Lo gak kegirangan kaya gitu. "
telisik Abdur dengan wajah penasarannya. Abdur adalah Sepupu dari pihak ayahku yaitu dari adik perempuan ayah, dia adalah satu satunya keluargaku yang menemaniku menjalankan perusahaan ini. dia memiliki wajah khas Indonesia timur dengan kulit hitam legamnya, namun ia adalah seseorang yang humoris, dan seringkali menjodohkanku dengan perempuan yang ia kenal, bahkan pernah sampai aku ditinggalkan di sebuah restoran dengan seorang perempuan yang hendak ia kenalkan yang ia sebut dengan kencan buta.
" woy kenapa Loe, gue penasaran jangan jangan Loe dapat gebetan baru lagi, mana gue liat dong, cantikan mana sama cewek yang waktu itu gue kenalin. "
" apaan sih Loe, nih kerjaan loe tuh di atas meja, cepat ambil, kerjakan dan jangan ganggu gue."
aku berkata sambil memasuki ruangan kecil khusus beristirahat ketika aku lelah bekerja. aku sengaja menghindarinya karena jika dia tau tentang Sofwa akan runyam urusannya.
aku masih menggenggam erat handphone yang tertera nomor telepon Sofwa.
" Banyak jalan menuju Roma Sofwa, kamu gak mau kasih nomer kamu ke aku, tapi justru aku mendapatkannya dengan begitu mudah".
*****