Semenjak aku memutuskan untuk merantau ke kota besar, walaupun tidak jauh dari kampung halaman, jarak dari kampung halaman ke Bandung kota hanya sekitar 4 jam perjalanan jika ditempuh menggunakan Bus angkutan. Kota ini lah yang merubahku menjadi seseorang yang baru, yang lebih dewasa dan mengerti arti kehidupan.
di kota ini aku mulai bekerja sebagai peramusaji di sebuah restoran khas Sunda. bertahan selama 3 bulan, selanjutnya aku mencoba peruntungan menjadi buruh di sebuah pabrik tekstil terbesar di Asia tenggara, yang memproduksi baju baju dan kebutuhan garment untuk di ekspor ke beberapa negara. ternyata bekerja sebagai buruh tidaklah semudah yang aku bayangkan, disini aku belajar betapa kerasnya perjuangan seorang pencari nafkah, betapa kejamnya kesenjangan sosial yang dianut di perusahaan itu, bahkan rasis pun disini kerap terjadi, siapa saja yang berasal dari keturunan Chinese, tidak peduli ia berijazah sekolah menengah apalagi sarjana, begitu mudahnya mereka masuk kedalam perusahaan dan ditempatkan di tempat nyaman, bukan sebagai buruh yang kerjanya di suruh suruh, mereka akan langsung menjadi manajer atau kepala bagian. kepala bagian yang memang asli pribumi, mendapatkan jabatan itu setelah bertahun tahun bahkan puluhan tahun bekerja sebagai buruh, itu pun harus dipertahankan dengan kinerja yang luar biasa, berani memaki menghina menindas bawahan, itu paling di sukai oleh kaum kapitalis perusahaan itu.
Tak kuat bertahan bekerja di pabrik akupun hanya bertahan selama 7 bulan menjadi buruh. dan memutuskan untuk berhenti bekerja dari perusahaan itu. Namun ketika bekerja di pabrik inilah justru Allah mempertemukan ku dengan orang baik, dan shaliha, dan hingga kini kami masih saling berkabar. Ia adalah seorang sahabat yang berasal dari daerah Garut, ia juga bekerja di pabrik tersebut sebagai buruh, bernama Dian Prameswari, Ia memiliki sifat sangat lembut, Sholeha, religius, memiliki pemahaman agama yang lumayan tinggi, keluarganya adalah keluarga pesantren, ayah dan ibunya merupakan seorang pimpinan pesantren di Garut, namun karena ia ingin memilih kehidupan yang berbeda ia memutuskan untuk merantau dan bekerja sebagai buruh di kota Bandung, Ia bukan hanya sahabat bagiku tapi juga sebagai teman satu kost, kami selalu patungan untuk membayar kamar kost yang kami tinggali, Dialah teman yang melalui pahit manisnya kehidupan selama merantau.
Dan disinilah awal mula perkenalanku dengan laki laki asal Maluku Utara.
***
Ketika selesai berjamaah sholat subuh bersama sahabatku Dian, aku mencoba membuka akun media sosial ku, dan disana ada satu pesan yang berisi mengajak berkenalan. tertera nama akun.
Abrisam Fabanyo
Assalamualaikum...
__________
hanya satu kata, yaitu ucapan salam. setelah melihat dan menjawab salam tanpa membalas pesan itu, aku tutup kembali akun itu, dan bergegas menuju tempat bekerja.
keesokan malamnya aku mulai berselancar lagi di dunia Maya, hanya ingin melihat kabar beranda yang berisi tentang banyak hal. ketika ku lihat disudut pesan ada 2 pesan yang belum terbaca, kubuka pesan itu dan lagi lagi menampakan nama yang sama dengan nama akun yang mengirim pesan berisi ucapan salam kemarin.
Abrisam Fabanyo
Assalamualaikum..
Maaf mengganggu, apakah kamu asli orang Sunda?
kalau betul kamu orang Sunda boleh ajarkan saya bahasa Sunda?
__________________
"Ini orang, iseng atau apa sih" gumamku pelan. dan menyimpan handphone ke atas nakas di kamar kost, tanpa ada niat untuk membalas pesan itu.
*****