Di dalam ruangan kelas sekolah Dasar terjadi perkelahian baku hantam antara seorang anak perempuan dan dua anak laki-laki.
"kamu itu anak yang gak punya bapak, jelek, item galak pula" ejek seorang anak laki-laki.
Tanpa basa-basi anak perempuan itu pun memukul anak laki-laki itu dengan emosi yang meluap luap, ia pun tak lupa memukul anak laki-laki yang lain agar merasa puas. Hingga terdengar tangisan yang begitu nyaring sampai ke ruang guru.
"Bahirah Sofwa widadi, lagi lagi kamu! Berantem terus." suara guru menghentikan perkelahian mereka.
Ya, Bahirah Sofwa widadi. Itulah namaku, yang sejak kecil terkenal nakal, galak, sombong, tidak kenal takut, sering membuat teman laki-lakiku menangis dan hampir semua orang menyebutku preman perempuan.
Aku dibesarkan oleh nenek dan kakek yang aku panggil Umi dan Bapak Aki. merekalah yang menjagaku dari usia satu tahun dengan penuh kesabaran. Aku memiliki satu kakak perempuan yang dibesarkan bersamaku, Ayah dan Ibuku berpisah ketika usiaku 1 tahun.
Dan tumbuhlah aku menjadi anak yang tomboy, hingga usia sekolah dasar hampir setiap hari berkelahi dengan anak laki-laki, jika ada yang berani menyentuh barang barangku tanpa izin saja, itu akan menjadi perkara yang besar. Semua teman perempuan ku selalu meminta bantuan ku ketika mendapatkan gangguan dari teman laki laki yang jahil. teman sepermainanku semuanya laki laki, tak ada teman perempuan yang permainannya adalah rumah rumahan, main boneka main masak masakan, aku dan teman teman laki lakiku bermain sejauh yang kami bisa, memanjat pohon, berlarian di sawah, berenang di sungai dan tentu saja bermain polisi dan pencuri yang menguras tenaga. setiap hari, ketika aku pulang bermain selalu disediakan rotan oleh Umi dan Bapak aki, tentu saja karena kewalahan dan geram dengan kelakuan cucu perempuannya ini, sifatku dan Kakak sangatlah berlawanan ia sangat lembut, feminim dan tentu saja ia berwajah cantik dan putih bak anak keturunan Chinese.
ketika usia remaja, tak ada satupun laki laki yang berani mendekat, yaaa remaja, masa dimana saat merasakan cinta cintaan, cinta monyet. teman teman sebayaku termasuk teman dekatku mereka sibuk mengincar gebetan juga berpacaran dengan penuh kegembiraan layaknya anak ABG. Namun berbeda denganku, jika ada laki laki yang berniat mengatakan cinta, maka akan berujung dengan penolakan dengan kata kata yang begitu kasar.
Cara berpakaianku adalah salah satu kekhawatiran sekaligus sumber kemarahan Nenek dan Paman Pamanku, Kakekku sudah meninggalkanku sejak aku duduk dikelas 6 SD, jadi yang menjagaku hanya nenek dan paman pamanku atau adik adik laki laki ibuku. Pakaianku tidak pernah mencerminkan sebagaimana perempuan berpakaian, jika dibelikan celana jeans panjang makan ketika aku memakainya akan berubah menjadi celana pendek selutut dan robek robek. Gaya rambut pun tak pernah panjang, rambut seperti model anak punk, dan model rambut tak karuan pernah aku coba. Dan memotong rambut selalu aku lakukan sendiri.
Aku sangat membenci yang namanya laki-laki kecuali kakek dan paman pamanku, ketika aku sudah mulai bisa menilai dan merasa, aku mulai bertanya tanya, kemana ayahku, bagaimana rupanya, dimanakah dia sekarang? pertanyaan itu seringkali terlontar dari mulutku, dan dijawab oleh Nenek
"ayah kamu tidak sayang sama kamu dan Kakakmu, dia meninggalkan kamu semenjak kamu ada dalam kandungan, dan sempat kembali sampai usia kamu satu tahun, dia pergi sampai sekarang tidak pernah ada kabar" nenek menjawab dengan nada marah dan kesal.
Mendengar jawaban itu, Teh Tami kakakku langsung menangis dan berkata. "kenapa aku sama si Dede gak pernah bahagia, gak punya ibu dan ayah yang lengkap seperti teman teman"
dengan gerakan cepat Nenek langsung merangkul Teh Tami dan merangkul ku secara bersamaan. Namun berbeda dengan ku, tidak ada setetes air mata pun yang jatuh, malah kemarahan dan kebencian yang ku rasakan. semenjak itu, aku bertekad untuk membenci dan tidak akan pernah memaafkan ayahku.
Awal aku menerima surat cinta, ketika aku usia 12 tahun dimana usia itu adalah saat saat puber, di dalam surat itu tertulis bahwa anak laki laki berusia 2 tahun lebih tua dariku mengatakan bahwa ia ingin menjadikan aku "kekasihnya". Yang awalnya perasaan dan sikapku kepadanya biasa saja, tapi semenjak ia menulis surat cinta untuk ku aku menjadi ilfeel, dan setiap bertemu pasti akan menjadi momen dimana kata k********r akan terlontar dari mulutku.
Hey, sia rek naon ka dieu anj**g, ba***Ng, dan blaaa blaaa bla, yang jika di ingat sekarang itu akan menjadi salah satu bahan pertaubatanku.
Menginjak usia 15 tahun, nenek mengirimku ke pondok pesantren sambil sekolah. Apakah setelah di pesantren aku menjadi lebih feminim dan lembut?
Oh tentu saja belum, justru disana kelakuan bar bar ku semakin menjadi. Dimana pertengkaranku dengan santri laki laki, walaupun terhalang oleh benteng, hanya aku yang berani bertengkar dengan santri laki laki, karena ketika itu aku bersekolah di luar pesantren jadi hanya aku yang bebas keluar masuk pesantren, dimana ketika perjalanan ke sekolah sering berpapasan dengan santri laki laki. Dan hampir semua santri laki laki membenciku. Di sekolah walaupun terkenal satu satunya anak pesantren tapi kabur ketika jam pelajaran, meloncati pagar sekolah yang begitu tinggi, itu pernah aku lakukan.
Lalu ketika di zamannya pesantren, ada seorang santri yang mengirimkan surat cinta beserta sebuah kado yang isinya adalah kain sarung dan sebuah jam tangan.
Bukannya senang jingkrak jingkrak, lagi lagi aku malah membenci santriwan tersebut, ketika menerima surat dan kado tersebut aku langsung membantingnya. Lagi lagi rasa bersalahku seringkali menghantui hingga sekarang.
Ketika lulus sekolah SMP, aku tidak langsung pulang ke rumah nenekku, dan menetap di pesantren selama 1 tahun. Dan dari sinilah aku mulai merubah sikap dan sifatku secara perlahan dengan izin Allah.
Dalam waktu satu tahun itu aku belajar untuk lebih memahami kewajiban seorang mukallaf, dan hal hal lain yang bersangkutan dengan agama. Namun setelah satu tahun aku dijemput oleh Kakak sepupuku, ketika itu ia memaksaku untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang SMA, aku sempat menolak dengan alasan karena sudah nyaman menuntut ilmu dan hidup di pesantren. Namun dengan segala nasehat dan usaha Kakak sepupu dan pamanku aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah, dan aku memilih sekolah Islam yaitu MAN, di sekolah ini aku mulai berbaur kembali dengan teman teman yang sebetulnya mereka lebih muda dariku satu tahun.
Karena jiwa ketomboyan ku masih ada, aku mengikuti ekstrakurikuler Karate. Dimana latihannya membutuhkan tenaga yang ekstra, di jemur dibawah matahari yang sangat terik, dan masih banyak lagi. Menyebabkan kulitku semakin hitam.
Dan di zamannya SMA ini ada seorang teman laki laki berbeda kelas denganku, menyatakan perasaannya kepadaku, dan sering menanyakan kabarku melalui handphone karena ketika itu sudah mulai zamannya handphone. Ia seringkali menawarkan diri untuk mengantarku pulang.
Dan lagi lagi, hanya penolakan yang keluar dari mulutku, namun tanpa menyakiti ataupun dengan kata k********r.
Hingga lulus dari madrasah Aliyah ini, aku tidak pernah berpacaran seperti halnya kebanyak anak anak seusiaku. Namun disinilah aku mendapatkan seorang sahabat yang sangat luar biasa, ia adalah teman sekelas ku dan duduk berdampingan dalam satu bangku, ia adalah juara kelas di kelas kami dan ia juga pernah menjadi juara umum di madrasah ini. Ia selalu mengingatkanku untuk sholat malam, mengingatkan untuk belajar, dan selalu mengkhawatirkan ku. Dan disetiap ada masalah dia adalah teman curhatku saat itu. Dan sebab bersahabat dengan orang hebat ini, aku berturut turut masuk peringkat 5 besar, dimana saat jaman SMP tidak pernah Sekalipun aku masuk 10 besar bahkan aku selalu peringkat ke 2 dari urutan paling belakang. Bahkan saat SMP berkali kali aku dipanggil oleh guru BP hingga di skors selama 1 Minggu.
Namun perubahan mulai terjadi didalam kehidupanku, yang qodarullah setelah ini aku tidak pernah berani menampakan auratku, hingga suatu saat aku bertekad untuk tidak pernah membuka jilbabku kecuali ketika mandi saja, dengan cara memotong habis rambut ku hingga hampir botak, dan itu kulakukan sendiri, inilah awal hijrahku.
setelah lulus dari Madrasah Aliyah, aku menyampaikan keinginan ku kepada keluarga terutama ku sampaikan kepada bibi yang memang mengatur keuangan aku dan Kakakku, setiap bulan ibu mengirimi kami uang dari negri sebrang, timur tengah, ibu menjadi seorang TKW demi menghidupi kedua anaknya, inilah salah satu sebab penderitaan dan kesedihan ku bersama kakakku, yang hidup tanpa seorang ayah dan ibu.
Dan ketika aku menyampaikan keinginan untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang lebih tinggi yaitu untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi, ditolak dengan kata k********r yang cukup menyayat hati.
"Halah gak usah mimpi kamu, bapak aja gak punya, pake mau kuliah segala, gaya kamu " kata bibi dengan nada tinggi.
' ya udah atuh Bi, kalo gak boleh kuliah bilang aja gak bisa, gak usah pake omongan kasar, ungkit ungkit gak punya bapa segala ' batinku berkata dengan rasa perih di hati.
setelah itu, aku tidak pernah berusaha belajar lagi untuk ikut tes di universitas impianku, dan tidak pernah membahasnya lagi.
Setelah pengumuman kelulusan pun tiba dan puncak acara perpisahan pun selesai, dua minggu setelahnya aku langsung memutuskan untuk mencari kerja mengadu nasib di kota besar. Ibu kota Jawa barat, Paris Van Java, mereka menyebutnya. dan disinilah kehidupan dan perjuanganku dimulai.
***