Samir menunggu Vina di taman belakang sekolah. Dia merasa gugup. Dia tidak tahu apa yang akan dikatakan Vina.
"Gue harus sabar," batin Samir, sambil memainkan gitarnya.
Samir memainkan lagu yang baru saja dia ciptakan. Lagu itu tentang rasa cintanya kepada Vina.
"Vina, gue sayang sama kamu," nyanyi Samir, sambil menatap langit.
Vina datang menghampiri Samir. Dia terlihat sedih.
"Samir, gue mau ngomong sesuatu," kata Vina, sambil menatap Samir dengan serius.
"Ngomong aja, Vina," jawab Samir, sambil menatap Vina dengan penuh harap.
"Samir, gue ngga bisa nerima perasaan kamu," kata Vina, suaranya bergetar.
Samir terdiam. Dia merasa kecewa. Dia berharap Vina bisa menerima perasaannya.
"Kenapa, Vina?" tanya Samir, suaranya sedikit berbisik.
"Gue udah punya pacar, Samir," jawab Vina, sambil menunduk.
Samir terdiam. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Pacar? Siapa?" tanya Samir, suaranya sedikit gemetar.
"Nama nya Aldo," jawab Vina, sambil menatap Samir dengan sedih.
Samir merasa hancur. Dia tidak menyangka bahwa Vina sudah memiliki pacar.
"Kapan kamu pacaran sama dia?" tanya Samir, suaranya sedikit terisak.
"Udah lama," jawab Vina, sambil menunduk.
Samir terdiam. Dia merasa sangat sakit hati.
"Vina, gue ngga nyangka," kata Samir, suaranya bergetar.
"Maaf, Samir. Gue ngga bisa ngelakuin apa-apa," jawab Vina, sambil menatap Samir dengan sedih.
Samir terdiam. Dia merasa sangat kecewa. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Gue harus ngelupain Vina," batin Samir, sambil menghela napas.
Samir merasa sangat sedih. Dia merasa kehilangan satu-satunya orang yang dia cintai.
"Gue harus kuat," batin Samir, sambil memejamkan matanya.
Samir bangkit dari duduknya. Dia menatap Vina untuk terakhir kalinya.
"Gue pergi dulu, Vina," kata Samir, sambil tersenyum tipis.
Samir berbalik dan berjalan pergi. Dia meninggalkan Vina yang sedang terdiam di sana.