Samir memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Vina di acara pensi sekolah. Dia berencana untuk menyanyikan lagu ciptaannya sendiri untuk Vina.
"Gue harus nyiapin lagu yang bagus," batin Samir, sambil memainkan gitarnya.
Samir menghabiskan waktu berhari-hari untuk menulis lagu dan berlatih. Dia ingin lagu itu bisa mengungkapkan perasaannya kepada Vina dengan sempurna.
"Gue harus latihan lagi," batin Samir, sambil menatap cermin.
Samir berlatih di depan cermin. Dia ingin memastikan bahwa dia bisa tampil dengan percaya diri di depan Vina.
"Gue harus percaya diri," batin Samir, sambil tersenyum.
Hari pensi sekolah pun tiba. Samir merasa gugup. Dia melihat Vina di tengah kerumunan siswa. Vina terlihat cantik dengan gaun merahnya.
"Gue harus ngelakuin ini," batin Samir, sambil menghela napas.
Samir naik ke panggung. Dia memegang gitarnya dan menatap Vina. Vina tersenyum padanya.
"Hai, Vina," kata Samir, sambil tersenyum.
"Hai, Samir," jawab Vina, sambil tersenyum.
Samir memulai lagu. Suaranya yang merdu mengalun di udara. Lirik lagunya mengungkapkan perasaannya kepada Vina.
"Vina, gue sayang sama kamu," nyanyi Samir.
Vina terdiam. Dia menatap Samir dengan penuh perhatian. Dia merasa terharu dengan lagu yang dinyanyikan Samir.
"Vina, gue ngga peduli kalo kamu punya pacar. Gue tetep sayang sama kamu," nyanyi Samir.
Vina menunduk. Dia merasa tidak enak hati. Dia tidak ingin menyakiti perasaan Samir.
"Vina, gue mau kamu tau. Gue ngga akan menyerah," nyanyi Samir.
Samir menyelesaikan lagunya. Dia menatap Vina dengan penuh harap.
,
"Vina, gue harap kamu bisa nerima perasaan gue," kata Samir, sambil tersenyum.
Vina terdiam sejenak. Dia merasa bingung. Dia tidak tahu harus berkata apa.
"Samir, gue..." kata Vina, suaranya terputus.
"Vina, kamu ngga usah ngomong apa-apa. Gue ngerti," kata Samir, sambil tersenyum.
Samir merasa sedikit kecewa. Dia berharap Vina bisa menerima perasaannya.
"Samir, gue mau ngomong sama kamu. Tapi, ngga sekarang," kata Vina, sambil menatap Samir dengan serius.
"Oke, Vina. Gue tunggu," jawab Samir, sambil tersenyum.
Samir merasa sedikit lega. Setidaknya, Vina mau berbicara dengannya.