===== BAB 63: Permintaan untuk Melupakan =====
Pembela mengeluarkan surat Bima yang diklaim membuktikan Raka meminta dibuat lupa.
Alena tidak boleh bertanya kepada Raka apa yang diingatnya. Pemisahan saksi masih berlaku, dan justru pada saat keraguan paling tajam aturan itu diuji. Ia membawa salinan surat yang diberikan pengadilan kepada Maya, lalu membaca seluruh halaman. Bima menulis tentang luka kepala, muntah, kepanikan, dan ucapan Araka berulang kali: hentikan sakitnya, buat semuanya berhenti. Kalimat tentang melupakan muncul sebagai tafsir Bima, bukan kutipan Raka.
Ahli dokumen memastikan tinta seluruh surat dibuat dalam satu rentang, tetapi menemukan frasa melupakan ditulis setelah jeda: tekanan pena lebih berat dan meja di bawahnya berubah. Itu tidak berarti tambahan palsu. Bima mungkin berhenti lalu melanjutkan. Temuan tersebut mencegah kedua pihak mengklaim kepastian dari bentuk kertas saja.
Cap amplop menunjukkan surat dikirim dari rumah Mawar, sesuai catatan resep. Sidik jari lama tidak dapat diandalkan karena dokumen disentuh banyak orang. Pengadilan menerima keaslian fisik sambil memisahkan pertanyaan siapa yang membuat keputusan medis. Alena mencatat pemisahan itu seperti garis pada laporan teknis.
Julian dipanggil dengan penasihat hukumnya. Catatan medis asli dibawa dari penyimpanan pengadilan, segelnya diperiksa sebelum dibuka. Ia mengakui tulisan dosis dan jam pemberian sedatif miliknya. Bima memerintahkan obat pertama untuk menenangkan pasien cedera yang meronta; dosis berikutnya diberikan agar Raka dapat dipindahkan tanpa sadar.
'Apakah pasien memberi persetujuan menghapus ingatan?' tanya jaksa.
'Tidak ada prosedur medis bernama menghapus ingatan,' jawab Julian. 'Ia meminta rasa sakit berhenti. Ia delirium, tidak memahami tempat atau waktunya. Itu bukan persetujuan untuk sedasi berulang, pemindahan, atau alibi palsu.'
Pembela menunjukkan kalimat Bima. Julian mengakui pernah menerima surat tersebut, tetapi menolak bahwa surat itu menggambarkan instruksi klinis. Ia menyimpan salinan karena takut Bima kelak menyalahkannya. Salinan itu memiliki lipatan dan cap penerimaan yang cocok dengan hari pengiriman, sedangkan versi Bima berada dalam arsip keluarga. Dua sumber menguatkan keberadaan surat, bukan tafsirnya.
Pembela menanyakan mengapa Julian baru bicara setelah terancam dakwaan. Ia menjawab takut dan menerima uang Bima selama bertahun-tahun. Tidak ada usaha menjadikannya dokter yang tiba-tiba berani. Jaksa memperlihatkan perjanjian kerjanya: kerja sama dapat dipertimbangkan, tetapi pelanggaran etik, pemalsuan catatan, dan pelarian tetap dituntut.
Julian juga mengaku tidak pernah menjelaskan risiko sedatif kepada Raka. Saat pasien sadar sesaat, Bima berada di samping ranjang dan mengulang bahwa kecelakaan motor telah terjadi. Julian menulis kebingungan pasien sebagai agitasi. Catatan kasar itu masih tersimpan di balik lembar resep dan cocok dengan pengakuannya sekarang.
Catatan dosis memperlihatkan obat dapat mengganggu pembentukan memori baru selama beberapa jam. Ahli neurolog independen menjelaskan trauma kepala, sedatif, dan cerita kecelakaan motor yang diulang bertahun-tahun dapat mengacaukan urutan ingatan. Ia menolak menyatakan semua kenangan Raka pasti palsu. Tidak ada pemindaian tujuh belas tahun kemudian yang dapat memberi kepastian itu.
Ahli menunjukkan bagian memori Raka yang memiliki jangkar luar: kedatangan di kompleks cocok kamera, pertengkaran dengan Bima muncul pada catatan staf, dan suara Reno memasang sabuk cocok pita. Bagian tentang pulang tanpa dirawat hanya didukung Guntur serta cerita Bima. Pola itu lebih sesuai rekonstruksi yang salah daripada keputusan sadar untuk berbohong, meski penilaian akhir bukan tugas neurolog.
Alena teringat Raka pernah berkata tidak punya celah ingatan. Kini ia memahami seseorang dapat mengingat jembatan palsu sekuat jalan nyata. Pemahaman itu tidak menghapus tanggung jawab Raka saat dewasa menyembunyikan keberadaannya di kompleks. Trauma menjelaskan, bukan memberi kekebalan untuk pilihan setelahnya.
Alena memperhatikan dari kursi saksi yang sudah dibebaskan untuk topik medis. Raka duduk jauh di depan, hanya terlihat dari belakang. Ia tidak menoleh. Cara ia mematuhi larangan ketika surat itu menyentuh bagian paling rapuh dari dirinya memberi Alena lebih banyak jawaban daripada pesan rahasia mana pun.
Pembela beralih pada kemungkinan Raka diuntungkan. Ia selamat, dikirim ke Singapura, dan kelak menjadi CEO. Julian setuju manfaat itu ada, tetapi manfaat bukan bukti persetujuan. Raka berusia sembilan belas tahun, cedera kepala, dan berada di bawah kuasa ayah serta dokter. Bima-lah yang memalsukan riwayat kecelakaan motor dan memerintahkan staf imigrasi mengubah tanggal.
Maya kemudian meminta surat dibaca bersama catatan Bima lain. Dua minggu setelah kecelakaan, Bima menulis: Araka terus bertanya tentang operator bernama Reno; Julian harus memastikan cerita kita tidak retak. Kalimat itu menunjukkan Raka belum memilih melupakan. Ia masih mencari bagian yang sengaja ditutup orang dewasa di sekitarnya.
Dewi dipanggil hanya untuk mengautentikasi suara Reno pada rekaman lama, bukan menafsirkan kondisi Raka. Pembela bertanya apakah ia ingin suami dibersihkan. Dewi menjawab tentu, lalu menambahkan keinginan itu tidak membuatnya mengenal Raka muda. Kesediaannya mengakui bias justru membuat ruang sidang sunyi.
Ketika pemisahan saksi dicabut untuk Julian, Raka tidak mendekatinya atau meminta permintaan maaf. Melalui Kresna, ia menyerahkan hak membuka catatan medis terbatas pada periode kecelakaan. Batas waktu melindungi riwayat lain yang tidak relevan. Alena melihat consent akhirnya digunakan untuk membuka kebenaran tanpa menyerahkan seluruh privasi.
Hakim menerima surat sebagai bukti tindakan Bima, tetapi menolak menyebutnya persetujuan Raka tanpa dasar tambahan. Catatan dosis, surat Julian, dan alibi perjalanan tetap masuk karena masing-masing memiliki asal serta saksi autentikasi sendiri.
Pada hari berikutnya, pemeriksaan beralih ke identitas kursi 2A. Pembela menantang kartu naik yang disimpan Dewi, gelang A.D., dan laundry klinik sebagai benda keluarga yang bisa disusun sesudahnya. Jaksa menunjukkan ketiganya ditemukan melalui jalur berbeda: kartu dari mantel Reno, gelang dari kotak Mawar, dan catatan laundry dari gudang rumah sakit.
Hasil DNA pada darah kartu dibacakan bersama kontrol kontaminasi. Profil cocok dengan Raka pada tingkat yang dinyatakan laboratorium, sementara sampel Dewi, Alena, dan petugas tidak cocok. Gelang membawa bekas jaringan lama yang terlalu rusak untuk DNA, tetapi foto Raka muda menunjukkan bentuk serta penyok sama sebelum kecelakaan.
Hakim menyatakan keberatan atas makna tiap benda dapat diperdebatkan saat pokok perkara, tetapi rantai asal cukup untuk diterima. Alena baru bernapas penuh ketika putusan lisan selesai. Identitas Raka tidak berdiri pada ingatan yang bisa dipertanyakan atau surat Bima yang bisa dipelintir.
Hakim menerima rantai DNA, gelang A.D., dan catatan laundry klinik sebagai bukti sah penyintas kursi 2A.