===== BAB 60: Sebelas Nama =====
Lokasi salinan final tersandi di dalam rekening pembayaran sebelas keluarga korban.
Pagi pembukaan kotak, bank menutup satu lantai untuk penyidik dan wakil keluarga. Alena datang bersama Dewi, tetapi tidak meminta kedudukan khusus sebagai putri Reno. Pak Yudhis membawa daftar sebelas nama dan membacanya sebelum petugas menyentuh kunci. Tidak ada media. Keluarga berhak mendengar apa yang terjadi sebelum perusahaan mengubahnya menjadi konferensi pers.
Petugas bank mencocokkan waran, nomor kotak, dan dua kunci yang berasal dari arsip memorial. Kamera merekam tanpa menyorot dokumen pribadi keluarga. Setelah pintu terbuka, ahli bukti menemukan wadah spool, buku transfer Bima, serta amplop bertuliskan UNTUK KELUARGA SEBELUM DEWAN. Semua difoto pada tempatnya. Alena berdiri di belakang garis dan menyebutkan bahwa wadah memakai segel produksi yang sama dengan arsip VX-217.
Spool dibawa ke laboratorium dalam koper suhu stabil. Serah terima ditandatangani petugas bank, penyidik, ahli audio, dan Pak Yudhis sebagai saksi sipil. Sari membuat citra analog-ke-digital pada dua mesin yang hasilnya dibandingkan. Hash salinan kerja dibacakan, sedangkan media asli kembali ke brankas bukti.
Hasil dua mesin tidak sepenuhnya identik karena satu membaca bagian pita yang berkerut dan terdegradasi usia lebih baik. Ahli tidak memilih versi yang paling dramatis. Mereka membuat peta kesalahan, mempertahankan kedua keluaran, dan hanya menerima bagian suara yang muncul konsisten. Tiga puluh tujuh detik utama utuh pada keduanya. Alena melihat metode itu menjauhkan rekaman dari tuduhan bahwa Sari menyusun bunyi sesuai kebutuhan perkara.
Sebelum briefing, jaksa menawarkan keluarga ruang konseling dan pilihan keluar kapan saja. Dua orang memilih membaca transkrip lebih dulu. Satu meminta suara benturan dilewati. Permintaan tersebut dihormati pada sesi pribadinya, sementara salinan barang bukti tetap tidak diubah. Alena menyadari transparansi tidak berarti memaksa korban mengalami kembali malam yang sama dengan cara seragam.
Sebelum audio diputar, Maya mengatur briefing keluarga di ruang regulator. Sebelas kursi diletakkan membentuk setengah lingkaran; kursi untuk keluarga yang tidak hadir tetap diberi nama. Alena menjelaskan temuan teknis dengan bahasa yang tidak menyembunyikan kesalahan Reno. Ia mengatakan ayahnya terlambat melapor dan melanggar manifest, sekaligus bukan penyebab langsung kegagalan aktuator.
Seorang anak korban bertanya apakah Reno bisa mencegah keberangkatan. Alena menjawab bahwa peluang itu ada dan harus dicatat. Dewi menggenggam tas di pangkuannya, tetapi tidak menyela untuk membela suaminya. Pak Yudhis kemudian bertanya apakah Guntur merencanakan kematian. Alena menjawab bukti menunjukkan ia merencanakan perebutan dokumen dengan risiko yang diketahuinya, bukan jatuhnya unit sebagai tujuan. Perbedaan itu tidak menghapus tanggung jawab.
Audio final diputar setelah semua keluarga menyetujui. Suara Reno memerintahkan koreksi beban dan meminta Raka tetap di kursi 2A. Bram melaporkan buku belum ditemukan. Seorang teknisi memperingatkan aktuator tidak merespons dan override akan mengambil daya cadangan. Lalu suara Guntur terdengar jelas.
'Buka. Buku itu tidak boleh sampai ke tujuan.'
Bram menjalankan perintah. Alarm bertambah, ruang kendali terbuka, dan Reno berteriak agar mereka menjauh dari pengunci. Dalam detik berikutnya, ia memasang sabuk Raka, menyebut titik benturan, dan meminta tim darat menyelamatkan penumpang lebih dahulu. Tidak ada pidato kepahlawanan. Hanya instruksi singkat seseorang yang tahu waktunya habis.
Tiga puluh tujuh detik itu berakhir dengan suara benturan dan kesunyian.
Ahli membiarkan rekaman berhenti tanpa mengisi kesunyian dengan penjelasan. Kemudian ia menunjukkan kecocokan waktu dengan sensor, log daya, dan pita sebelas detik yang ditemukan lebih dahulu. Tiga sumber berasal dari tempat berbeda dan telah disimpan oleh orang berbeda. Kesamaan detiknya memperkuat audio final tanpa bergantung pada pengakuan Bram.
Dewi meminta nama sebelas korban dibacakan sebelum nama Reno. Pak Yudhis melakukannya dari daftar yang dibawanya. Alena mendengar setiap nama dan menahan kebiasaan memikirkan ayahnya sebagai pusat kecelakaan. Reno adalah bagian kebenaran, tetapi sebelas kehidupan itulah alasan kebenaran dibuka.
Alena tidak mampu langsung berdiri. Raka duduk dua kursi darinya, sesuai permintaan keluarga agar saksi utama tidak saling menopang selama pemutaran. Ia tidak mendekat. Ketika Alena akhirnya mengulurkan tangan melintasi ruang di antara mereka, barulah Raka menggenggamnya. Consent kecil itu terasa penting di ruangan tempat begitu banyak pilihan pernah dirampas.
Pak Yudhis meminta audio diputar sekali lagi hanya pada bagian peringatan teknisi dan jawaban Guntur. Ahli memenuhi permintaan melalui salinan kerja serta mencatat waktu pemutaran. Keluarga lain bertanya tentang kompensasi, registri kecelakaan, dan kemungkinan nama Reno dibersihkan. Maya menjelaskan proses tanpa menjanjikan hasil cepat.
Jaksa mengajukan dakwaan terhadap Bram atas sabotase, korupsi, perintangan, pemalsuan bukti, dan perannya dalam kematian VX-217. Guntur didakwa berdasarkan aliran dana, perintah terekam, cover-up, serta sabotase baru. Pernyataan Bram hanya menjadi salah satu bagian; audio final, log, controller, dan buku pembelian berdiri di jalur bukti masing-masing.
Sebelum pengumuman dakwaan, keluarga menerima ringkasan tertulis dan satu jam untuk bertanya. Mereka meminta media tidak menyebut pembayaran Bima sebagai kompensasi, karena uang itu diberikan tanpa penjelasan dan sering tidak pernah diterima. Jaksa mengganti istilah menjadi transfer tutup mulut yang disamarkan sebagai dana memorial. Koreksi bahasa itu masuk rilis resmi.
Alena juga meminta namanya tidak ditempatkan sebagai penemu tunggal bukti. Sari, Pak Idris, keluarga, auditor, dan penyidik memegang bagian berbeda. Menjadikannya kisah seorang istri yang membersihkan nama ayah justru akan membantu pembela menyebut seluruh audit urusan pribadi. Rilis akhir memuat kronologi sumber, bukan pahlawan.
Nadine dan Dito tetap menghadapi perkara terpisah. Kerja sama mereka dicatat, bukan dipakai sebagai penghapus. Bima dan Reno juga tidak disederhanakan dalam ringkasan jaksa: Bima menyelamatkan Raka sekaligus mengubur kebenaran; Reno berusaha melindungi pembocor sekaligus terlambat melapor.
Setelah keluarga meninggalkan ruangan, Raka bertanya apakah Alena ingin ditemani. Alena menjawab ya. Mereka duduk di tangga regulator tanpa kamera, cincin polos tetap di jarinya dan cincin keluarga tetap dalam kantong bukti. Raka tidak menjanjikan akhir bahagia. Ia hanya berkata akan mengikuti setiap pemeriksaan, termasuk yang merugikan keluarganya.
Sore itu, para pengacara Guntur dan Bram mengajukan mosi bersama. Mereka menyerang bukan hash atau rekaman lebih dahulu, melainkan dasar hubungan Alena dan Raka. Kontrak lima belas bulan dilampirkan sebagai bukti bahwa akses audit diperoleh melalui kesepakatan pribadi. Pembela menyebut setiap waran sebagai buah dari konflik kepentingan yang sengaja diciptakan.
Maya membaca mosi sampai selesai, menandai asal independen setiap barang bukti. Alena melihat istilah istri palsu dicetak tebal. Serangan berikutnya akan memaksa kehidupan mereka masuk ruang sidang, tetapi itu tidak mengubah nomor segel satu pun.
Setelah Guntur dan Bram didakwa, pembela mengajukan agar seluruh bukti dibuang sebagai hasil 'pernikahan palsu'.