===== BAB 52: Tuduhan kepada Orang Mati =====
Di layar siaran nasional, tanda tangan Reno muncul di bawah persetujuan kalibrasi yang tidak pernah dibuatnya.
Alena menonton pembawa berita membacakan dokumen itu tanpa sekali pun menyebut bahwa sumbernya anonim. Kata pengkhianat kembali muncul di bawah foto ayahnya, sama seperti tujuh belas tahun lalu. Bedanya, kali ini Alena memiliki citra forensik controller, pola gabungan tanda tangan, dan tim yang tidak berada di bawah keluarga Dirgantara. Ia mematikan suara televisi, bukan layar, lalu meminta Maya mengirim pemberitahuan bahwa dokumen sedang diuji dan tidak boleh dimusnahkan oleh penerima.
Laboratorium dokumen menyiapkan meja terpisah untuk tiga kelompok bukti: persetujuan beban asli Reno, halaman notebook yang diperoleh dari kotak bank 217, dan lembar kalibrasi yang disebarkan Bram. Masing-masing sudah memiliki nomor segel. Ahli bernama Ratih Wulandari menjelaskan prosedur sebelum membuka kemasan. Alena, Raka, penyidik, dan wakil regulator menyaksikan dari balik kaca; tak seorang pun menyentuh benda asli.
Ratih memperbesar huruf R pada tiga layar. Pada persetujuan asli, tekanan pena berubah ketika Reno menarik garis turun. Pada dokumen palsu, ketebalan tinta seragam dan tepian piksel menyimpan enam tingkat kompresi berbeda. Lengkung terakhir berasal dari formulir lama, titiknya dari laporan beban, dan garis bawahnya dari kartu pelatihan.
'Ini tanda tangan komposit,' kata Ratih. 'Bukan satu gerakan tangan. Cap waktunya juga ditanam setelah berkas dibuat. Saya dapat menjelaskan caranya, tetapi kesimpulan harus menunggu pemeriksaan kedua.'
Alena meminta ahli kedua bekerja tanpa melihat kesimpulan Ratih. Ia tahu hasil yang cepat akan menolong nama Reno, tetapi hasil yang tidak mandiri akan memberi pembela Bram celah. Raka tidak mendesaknya. Ia justru meminta Kresna memastikan biaya ahli dibayar lewat escrow regulator, bukan rekening Vantara.
Pemeriksaan kedua mencapai hasil sama. Metadata dasar memakai template yang ditemukan dalam controller SR-5107. Lebih penting lagi, nomor sertifikat aktuator pada lembar palsu belum diterbitkan pada tanggal yang dicantumkan. Tanda tangan Reno mustahil dibuat pada sertifikat yang baru lahir dua hari setelah ia meninggal.
Ratih juga membandingkan urutan persetujuan. Pada berkas asli, sistem merekam pemeriksaan beban, konfirmasi cuaca, lalu tanda tangan operator. Dokumen yang beredar melompat langsung dari pembuatan formulir ke persetujuan Reno dalam waktu dua detik. Bahkan operator tercepat tidak mungkin membaca empat halaman dalam jeda itu. Temuan tersebut ditulis sebagai anomali proses, terpisah dari pendapat tentang bentuk tanda tangan.
Maya meminta redaksi yang menerima bocoran mempertahankan header surat elektronik dan file asli. Tiga menyetujui, satu hanya menyimpan tangkapan layar, dan satu menolak menyebut sumber. Penyidik mendapatkan perintah pelestarian sebelum meminta data lebih jauh. Alena menolak undangan debat langsung dengan Nadine. Ia tidak ingin kebenaran teknis dipotong menjadi dua wajah yang saling berteriak di televisi.
Pak Yudhis meminta melihat metode sebelum menerima pernyataan publik. Ratih mengulang pemeriksaan di hadapannya tanpa menyebut dokumen mana yang diharapkan palsu. Ketika hasilnya sama, ia meminta laporan mencantumkan batas: analisis membuktikan tanda tangan komposit, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan siapa yang menyusunnya. Alena menyetujui kalimat itu. Keluarga korban berhak memperoleh ketepatan, bukan kepastian yang dilebihkan demi Reno.
Kelegaan Alena hanya bertahan sampai Ratih membuka halaman notebook yang ditemukan di antara barang depot. Kertas itu asli dari blok catatan Reno; serat dan sobekannya cocok dengan halaman yang selama ini disimpan di tas terbang. Tulisan di sana tidak dipotong atau digabung. Reno mencatat perbedaan nomor lot pada malam sebelum keberangkatan VX-217.
'Ia tahu ada ketidaksesuaian,' ujar wakil keluarga korban, Pak Yudhis, dengan suara tertahan. Istrinya termasuk sebelas orang yang tidak pulang. 'Mengapa unit itu tetap berangkat?'
Pertanyaan tersebut mengenai Alena lebih keras daripada berita palsu. Ia membaca catatan ayahnya: lot di faktur berbeda dari lot pada aktuator terpasang; verifikasi ditahan; sumber muda meminta perlindungan. Di bawahnya ada waktu laporan yang direncanakan, satu giliran setelah jadwal keberangkatan.
'Saya belum tahu,' jawab Alena. Ia menahan dorongan untuk mencari alasan sebelum bukti selesai bicara. 'Dan saya tidak akan mengatakan beliau tidak bersalah atas keterlambatan hanya karena tanda tangan kalibrasi ini palsu.'
Pak Yudhis menatapnya cukup lama, lalu mengangguk satu kali. Bukan pengampunan. Hanya pengakuan bahwa ia tidak sedang ditipu lagi.
Sari memeriksa foto halaman sebelum kertas dikembalikan ke segel. Di bagian belakang terdapat tekanan tulisan yang tidak terbaca dengan cahaya biasa. Ratih memakai pencitraan miring dan menghasilkan baris samar: jika laporan masuk sekarang, anak dan buku tidak mencapai penyidik. Kalimat itu menjelaskan ketakutan, bukan membenarkan keputusan.
Saat jeda, Raka bertanya apakah Alena ingin ruang sendiri. Ia menjawab tidak, tetapi meminta lima menit tanpa pertanyaan. Mereka duduk berdampingan di lorong laboratorium. Bahu Raka tidak menyentuhnya sampai Alena menggeser tubuh sedikit. Kedekatan yang dimintanya sendiri memberi tempat bagi rasa marah kepada Reno tanpa membuatnya merasa mengkhianati orang mati.
Maya datang membawa salinan unggahan Bram yang sudah diberi cap waktu notarial. Penyebaran itu akan menjadi bagian dakwaan, tetapi tujuan mereka lebih dekat: membuat Alena membela Reno secara berlebihan dan merusak objektivitas audit. Alena memilih sebaliknya. Dalam pernyataan tertulis, ia menerima temuan bahwa tanda tangan kalibrasi palsu sekaligus meminta penyelidikan resmi atas keterlambatan laporan ayahnya.
Sore hari, Ratih mengembalikan halaman ke kantong baru di depan kamera dan membaca nomor segel pengganti. Alena membubuhkan tanda tangan sebagai saksi. Tinta pada dokumen palsu telah runtuh di bawah pemeriksaan, tetapi tulisan asli ayahnya membuka luka yang tidak dapat ia sebut rekayasa.
Pada halaman notebook itu, Reno menulis bahwa ia sengaja menunggu satu giliran sebelum melapor.