***
Selesai Sholat magrib Nada bersiap-siap untuk pergi dengan Angga, Ia berdandan di bantu oleh Putri.Nada memang sangat tidak pandai berdandan tapi untunglah dia memiliki sahabat seperti Putri yang Modis dan selalu bersedia mendandani sahabatnya itu ketika di butuhkan.
Nada adalah gadis yang supel dan selalu berpenampilan casual dengan celana jeans,kaos dan sneaker tidak pernah berdandan berlebihan seperti kebanyakan gadis remaja lainnya.Nada lebih suka terlihat natural.
"Selesai," ucap putri sambil merentangkan tangannya dan mempersilahkan Nada bercermin untuk melihat hasil riasan tangannya.
"Waw ini apa gak terlalu berlebihan ya?" Tanya Nada sedikit gugup.
"Kok berlebihan sih ini tuh udah paling Natural tau Nad cuman agak sedikit flawles aja gak menor menor kek tanteu tanteu girang,"cerocos Putri.
"Yaudah oke thankyou Putri sayang udah mau repot-repot make-upin," ucap Nada sambil memeluk sahabatnya itu.
"Iya sama sama, apa sih yang engga buat sahabat tersayang aku ini," jawab Putri mencubit hidung Nada.
"Yaudah yuk berangkat sekalian kamu mau jalan sama Niko juga kan?"
Niko adalah pacarnya Putri mereka berpacaran sejak SMA. Tapi Niko tidak satu sekolah dengan mereka, dia murid dari sekolah tetangga.Namun sekarang Putri dan Niko kuliah di kampus yang sama.
"Oke ayo nanti pulangnya gue langsung di anter Niko kesini ya jadi gak bareng," ucap Putri.
"iya gak papa aku juga dianterin Angga kok," jawab Nada sambil berjalan keluar kamar.
Mereka pergi bersama dengan taksi online yang sudah mereka pesan sejak tadi.Putri turun lebih dulu karena Niko menunggu di taman.Sementara Nada melanjutkan perjalanannya menuju cafe tempat ia janjian dengan Angga.
Setelah kurang lebih satu jam Nadapun sampai di cafe itu.Dia turun dari taksi dan melihat ke sekeliling cafe.Terdengar alunan musik romantis di dalam sana.
Di Cafe itu memang selalu ada live musik akustik apalagi ketika malam minggu seperti sekarang ini.Biasanya di sana terdapat banyak pasangan muda mudi yang sedang berkencan.
Nada masuk ke dalam cafe dan memperhatikan setiap meja di sana, mencari cari sosok pria yang akan dia temui malam ini.Matanya terus mengerling, hingga menangkap sosok yang sangat dia kenal sedang duduk di kursi pojok dekat jendela cafe.
Laki-laki itu tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Nada.Nadapun segera menghampirinya.
Seketika Angga terpesona dengan gadis itu sampai sampai matanya tak berkedip dan terus menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki.Gadisnya terlihat begitu sempurna.
"Hey!" Suara Nada membangunkan lamunannya.
Angga menarik satu kursi dan mempersilahkan Nada untuk duduk di kursi tersebut.
"Cantik," gumamnya kagum.
Angga terkesima melihat penampilan Nada yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Hah?Apa?" ucap Nada yang samar samar mendengar Angga gumaman Angga.
"Ehh engga mau pesen apa?" Tanya Angga mengalihkan pembicaraan.
Angga terus memandang lekat ke arah Nada hingga yang di pandangpun menjadi gugup.Nada salah tingkah di buatnya.
"Aku samain aja sama kamu" ucap Nada gugup.
"Mbaa!" Panggil Angga pada salah satu waiters.
"Order apa mas, mba?silahkan!"ucap waiters itu sambil membawa kertas dan pulpen.
"Beep steak nya dua, dan minumnya jus mangga dua tambah Ice cream satu," Angga sengaja memesankan Ice cream karena dia tahu Nada sangat suka dengan Ice cream.
Beberapa saat mereka hanya saling terdiam di tempat itu.
"Permisi ini pesanannya,"ucap pelayanan yang mengantarkan makanan dan minuman.
"Oh iya terima kasih, " ucap Nada lembut dengan senyum mengembang.
Pelayanan itupun pamit kembali setelah meletakkan semua pesanan di meja.Nada yang gugup karena terus di pandangi Angga segera meneguk minumannya.
"Hey kamu kenapa sih ngeliatin aku terus ?" Tanya Nada kesal karena sedari tadi Angga terus memandangnya tanpa berkata apapun.
"Oh iya Sorry abis kamu cantik banget malam ini," ucap Angga tersenyum.
"Ohh jadi dari kemaren kemaren tuh aku gak cantik ya," celetuk Nada.
"Loh ngga gitu maksudnya malam ini sangat cantik lebih dari biasanya,"ucapnya sungguh-sungguh.
Angga terus menggoda gadis itu hingga wajah Nada terlihat merah merona karena malu.
Sebelum menyantap makanan di depannya Angga menyodorkan sebouqet bunga mawar merah yang indah.Ia menggenggam tangan gadis itu.
"Aku mengagumimu sejak pertemuan pertama siang itu, semakin lama rasa kagum itu semakin berkembang menjadi rasa yang lebih dari sekedar kagum, selama kita bersama aku selalu nyaman denganmu, Aku mencintaimu Nada Felicia, Apa kamu merasakan hal yang sama?"
Angga mengutarakan perasaannya dengan tulus.Ia berharap Nada merasakan hal yang sama.
Nada terdiam mematung Ia tidak percaya bahwa dugaannya ternyata benar bahwa Angga akan menyatakan perasaannya malam ini juga
Bukannya tidak senang dengan situasi ini hanya saja Nada masih bingung dengan apa yang ia rasakan.Angga memang sudah memasuki sebagian hatinya namun di hatinya juga masih ada cinta yang tertinggal untuk Yoga.
"Nada kalau kamu gak bisa jawab sekarang aku ngerti, kamu gak perlu jawab sekarang ya aku bakal nunggu jawaban kamu kapanpun kamu siap,"sambungnya.
Angga tau kalau Nada mungkin belum bisa membuat keputusan saat ini, dia juga sadar mungkin ini terlalu cepat untuk Nada.Angga berusaha memahami Nada dan tidak memaksakan perasaannya.
"Angga aku tahu kamu selama ini begitu baik dan tulus sama aku," ucap Nada gugup.
Nada mulai berusaha bicara dengan gemetar.
"Aku juga nyaman sama kamu tapi maaf perasaanku belum sepenuhnya untukmu, jadi kasih aku waktu ya," sambungnya dengan lembut.
"Oke Nad, aku ngerti aku bakal berusaha lebih keras lagi biar kamu bisa cinta sama aku," ucap Angga sedikit kecewa.
"Makasih Angga" ucap Nada lirih.
Seketika suasananya menjadi sunyi keduanya saling diam dan tenggelam dengan isi kepalanya masing-masing. Setelah beberapa saat hanya saling diam Angga mulai berusaha mencairkan kembali suasana diantara mereka. "Naad!" Panggil Angga pelan memecah kebisuan diantara keduanya.
"i-iyaa?" Jawab Nada. "it's okay Nadd gak usah kamu pikirin, aku tau kamu hanya belum yakin dan butuh waktu lebih banyak lagi. Tenanglah aku bisa menunggu sebanyak kamu membutuhkannya,udah ya jangan dipikirin dulu, ayo kita makan," ajaknya berusaha mengalihkan. Keduanya makan sambil sesekali saling melirik dan berusaha bersikap normal. Nada merasa bersalah tapi disisi lain Nada juga tidak ingin menerima Angga jika hatinya belum sepenuhnya. Nada takut menyakiti hati pria baik itu lebih parah sehingga dia harus memikirkan ulang keputusan yang akan dia ambil. Angga juga tidak akan memaksakan keadaan, dia akan selalu menunggu Nada dengan sabar dan berusaha lagi membuat gadis kesayangannya itu mencintai dia sepenuhnya.Tidak ada perjuangan yang sia-sia Angga yakin suatu saat dirinya akan berhasil memenangkan hati Nada, ini hanya perihal waktu.Angga harus lebih sabar lagi menunggu saat-saat indah itu.