Kotak pertama diisi buku. Erika meletakkannya di lantai kamar, menyusun dari ukuran yang paling besar, lalu berhenti ketika menemukan halaman yang masih menyimpan catatan pembacaan bersama Lina. Dia mengeluarkan buku itu lagi, memindahkan ke tumpukan yang akan dibawa dengan tas.
Iccha memperhatikan dari tempat tidur.
"Kalau setiap buku punya alasan tinggal di luar kotak, kotaknya akan pulang kosong."
"Yang ini masih perlu kubaca."
"Lo mengatakan itu kepada tiga buku sebelumnya."
Erika tertawa, menutup buku, lalu memilih dua yang benar-benar sedang dipakai. Sisanya kembali disusun. Tanggal pindah sudah disepakati, pembayaran awal sudah dicatat, dan kunci akan diterima setelah pemeriksaan bersama pada hari yang ditentukan. Kini rencana itu menuntut keputusan mengenai benda-benda kecil yang selama ini selalu berada di jangkauan.
Ada kertas yang tidak perlu dibawa. Ada catatan proyek yang harus disimpan terpisah, bukan dibiarkan di antara halaman novel. Ada pakaian yang dapat dilipat cepat dan satu selendang yang pernah dicari Ibu melalui telepon karena mengira tertinggal di Semarang.
Erika memotret selendang, mengirim kepada Bu Mei, lalu kembali bekerja. Balasan datang beberapa menit kemudian, disertai pesan agar putrinya tidak mengemas semua pakaian hingga tidak punya yang bisa dipakai besok.
Gadis itu menunjukkan kepada Iccha. Keduanya tertawa, kemudian memisahkan tas untuk kebutuhan hari pertama.
Di bawah buku catatan, Erika menemukan amplop lama berisi daftar wawancara. Nama Aldin tertulis pada satu sudut. Jarinya berhenti, bukan karena ingin menyembunyikan, tetapi karena mendadak mengingat betapa mudah dirinya dulu menganggap kakaknya dapat menjawab apa pun yang belum diketahui.
Ponsel berbunyi sebelum dia kembali memasukkan amplop. Pesan Aldin menanyakan apakah boleh menelepon malam nanti. Bukan mengenai Jo, bukan meminta kabar Caca diteruskan, hanya mengatakan ada sesuatu tentang Ibu yang ingin dibicarakan langsung.
Erika membalas waktu ketika dirinya sudah selesai bekerja. Dia juga menambahkan bahwa jika ada yang perlu disampaikan kepada Ibu, kakaknya tetap harus menelepon sendiri.
Aldin menyetujui. Jawaban singkat itu tidak membuat semua hal terasa ringan, tetapi setidaknya perempuan tersebut tidak perlu menyiapkan penolakan panjang sebelum mendengar maksudnya.
Siang hari dipakai untuk pertemuan proyek. Jo telah membaca bagian yang dijanjikan. Erika membawa versi yang dapat dibandingkan, serta daftar perubahan yang disetujui sebelumnya. Mereka duduk dengan pintu ruang kerja tidak tertutup rapat, membiarkan suara kegiatan rumah tetap terdengar.
"Bagian ini bisa selesai," kata Jo setelah memeriksa beberapa halaman. "Tidak perlu menunggu aku punya jawaban untuk semua yang terjadi sesudahnya."
Erika mengangguk. "Berarti yang ini naskah akhir untuk bagian yang disepakati. Catatan lain tetap bahan pribadi, belum menjadi bab."
"Iya."
Mereka memberi tanda pada daftar, menuliskan pekerjaan yang masih tersisa, dan mengatur waktu pemeriksaan terakhir untuk penataan berkas. Tidak ada janji bahwa seluruh masa lalu telah menjadi buku yang lengkap. Yang selesai adalah bagian yang memang dapat mereka pertanggungjawabkan saat ini.
Erika menanyakan pembayaran dan kewajiban yang masih tercatat agar perpindahan alamat tidak membuat pembicaraan nanti kabur. Jo mengambil dokumen yang sudah ada, membaca bersamanya, dan mencatat kesepakatan perubahan pekerjaan secara jelas. Dia tidak mengubah bayaran karena hubungan dengan Caca berakhir, juga tidak menawarkan tambahan yang dikaitkan dengan kemungkinan Erika menerima perasaannya.
Pembicaraan terasa kering setelah beberapa hari penuh sesuatu yang hangat. Justru karena itu, gadis tersebut dapat bernapas lebih lega. Dia ingin tahu bahwa pekerjaan tetap mempunyai bentuk yang dapat diperiksa saat keduanya sedang senang maupun ketika nanti berbeda pendapat.
"Aku akan mengirim salinan catatan ini," ujar Jo.
"Baik. Aku periksa setelah menerima."
Lelaki itu meletakkan pena, memandang kotak kecil yang dibawa Erika untuk mengembalikan beberapa perlengkapan proyek milik rumah.
"Barangmu sudah banyak dikemas?"
"Buku dulu. Ternyata yang lama itu memilih apa yang masuk tas."
"Kalau semuanya masuk tas, mungkin perlu membeli tas lebih besar."
"Mas terdengar seperti orang yang ndak pernah mengangkat semua tasnya sendiri."
Jo tertawa, mengakui pernah membuat kesalahan membawa terlalu banyak saat bepergian. Erika meminta contoh, dan lelaki tersebut menceritakan bagaimana Ammar pernah menemukan tiga pakaian dengan fungsi sama sementara satu barang penting justru tertinggal.
"Apa yang tertinggal?"
"Yang diperlukan untuk rapat."
"Berarti tiga pakaian itu tidak bisa menyelamatkan."
"Tidak. Mas Ammar tidak membiarkan aku lupa."
Gadis itu tertawa. Mereka mengembalikan pembicaraan pada daftar sebelum waktu habis, tetapi lelucon tersebut membuat akhir pertemuan tidak terasa seperti dua orang sedang menghitung seberapa cepat dapat berpisah.
Sore itu, Lina datang membawa kantong kecil berisi dua buku yang dipinjam. Dia mengembalikan sebelum Erika pindah, menanyakan apakah nanti masih boleh bertukar halaman lewat pesan.
"Boleh. Kalau perlu membaca bersama, kita atur juga," jawab Erika.
Lina duduk di lantai, membantu menyusun kotak kedua. Beberapa menit kemudian Kiki muncul, memandang tali yang belum diikat rapi, lalu berjongkok tanpa menunggu dipanggil.
"Lo mau bawa kotak ini atau menyebarkan isinya di tangga?"
Erika menyerahkan ujung tali dengan malu. Kiki memperbaiki, memastikan dasar kotak tidak terlalu berat, kemudian meminta buku dibagi dua agar mudah diangkat. Lina menurut tanpa menjadikan nada kakaknya sebagai awal perdebatan.
"Foto Mama sudah dipasang?" tanya Kiki sambil menarik simpul.
"Sudah. Di tempat yang tidak kena matahari langsung."
Perempuan itu mengangguk. Lina menambahkan bahwa salinan pada bingkainya terlihat lebih jelas setelah dibersihkan. Kiki tidak menjawab segera, tetapi wajahnya berubah sedikit.
"Yang punya gue juga."
Erika membiarkan percakapan berhenti di sana. Mereka tidak perlu menjadikannya pidato mengenai keluarga yang sudah pulih. Dua saudara tersebut sedang menyebut benda yang kini sama-sama dapat dilihat setiap hari.
Setelah kotak selesai, Kiki berdiri, mengusap telapak tangan pada celana.
"Kalau nanti mau dibawa, jangan menarik talinya saja. Pegang bawah."
"Iya. Terima kasih, Mbak."
Kiki menatap Erika, seolah hendak mengeluh mengenai panggilan tersebut, lalu memilih keluar. Lina menyusul setelah membantu menggeser kotak agar tidak menghalangi pintu.
Menjelang malam, Ammar dan Iccha berhenti di depan kamar. Mereka baru kembali dari makan, dengan satu bungkus untuk Erika yang sebelumnya mengatakan belum sempat mengambil makanan. Gadis itu menerima setelah memastikan bukan pesanan seseorang yang dibawa tanpa sengaja.
"Ini memang buat lo," kata Iccha. "Gue sudah tahu lo bisa lupa makan kalau sedang memilih kertas."
Erika berterima kasih. Ammar memandang tumpukan yang lebih rapi, lalu menanyakan apakah perlu bantuan mengangkat pada hari pindah. Gadis itu mengatakan akan mencocokkan waktu dan memastikan kendaraan lebih dahulu.
"Jangan membuat semua orang libur kerja untuk dua kotak," ujarnya.
"Belum tentu cuma dua," jawab Iccha, menunjuk tumpukan di meja.
Mereka tertawa. Sebelum Ammar pergi, Erika mengangkat ponsel yang selama ini digunakan. Perangkat tersebut mengingatkannya pada hadiah lain dari lelaki itu, yang belum dibicarakan bersama laptop.
"Yang ini masih kupakai," katanya. "Aku belum punya rencana mengganti sekarang. Aku ingin mengatakan supaya tidak seperti sengaja diam setelah mengembalikan yang lain."
Ammar mengangguk. "Itu diberikan kepada kamu. Tidak ada daftar yang harus dikembalikan semua. Kalau masih berguna, pakai."
"Baik. Aku hanya ingin jelas."
"Sudah jelas."
Erika meletakkan kembali ponsel. Keputusan membeli alat kerja sendiri tidak berarti dirinya harus membuang setiap bantuan yang pernah diterima agar terlihat pantas. Dia telah memilih apa yang dapat dilakukan sekarang, dan lelaki tersebut tidak menagih sesuatu sebagai penggantinya.
Ammar berpamitan, Iccha masuk membawa air. Ketika pintu tertutup, gadis itu menggoda temannya karena pulang dengan senyum yang sulit disembunyikan.
"Mas Ammar tadi kenapa terus melihat kamu?"
"Karena gue berhasil memilih makanan sebelum dia memberi tiga saran yang sama."
Erika tertawa. Iccha menambahkan bahwa mereka sedang membiasakan waktu di luar kantor, sesuatu yang ternyata masih terasa aneh meskipun sudah saling mengenal sejak kecil.
"Gue tahu cara dia marah pada pekerjaan," ujarnya. "Belum tentu gue tahu cara dia diam kalau sedang gugup."
Gadis itu mengangguk. Mengenal lama ternyata tidak selalu berarti mengenal semua bagian. Dia menyimpan kalimat tersebut ketika ponsel berbunyi pada waktu yang dijanjikan Aldin.
Iccha memberi ruang dengan turun mengambil sesuatu. Erika menerima panggilan, duduk di sisi meja yang mulai kosong.
"Ka, Ibu bilang kamu mencari tempat sendiri."
"Sudah memilih."
"Bagus. Aku ingin dengar langsung, tetapi tidak mau menelepon saat kamu kerja."
Erika mendengarkan. Kakaknya terdengar lebih hati-hati daripada dulu, ketika panggilan hampir selalu dimulai dengan lelucon atau permintaan sederhana yang ternyata menyimpan hal lain.
Aldin menjelaskan rencana mengunjungi Ibu. Dia sudah berbicara langsung, dan kali ini ingin datang bersama Caca jika Bu Mei bersedia. Belum ada jawaban yang pasti. Dia tidak meminta Erika meyakinkan, hanya ingin adiknya mendengar kabar dari dirinya sebelum Ibu menceritakan.
Gadis itu memegang tepi meja.
"Ibu sudah menerima kamu datang sendiri. Itu tidak berarti otomatis siap menerima kalian berdua," ujarnya.
"Aku tahu. Aku bilang boleh menolak."
"Dan kalau menolak, jangan menyuruh aku menjelaskan kenapa Ibu harus mencoba."
"Tidak. Aku tidak akan meminta."
Erika mengembuskan napas pelan. Dia menanyakan apakah Caca mengetahui bahwa kemungkinan ditolak tetap ada. Aldin mengiyakan, mengatakan mereka telah membicarakan bahwa kunjungan bukan cara mendapatkan persetujuan cepat.
"Aku ingin memperkenalkan kehidupan yang sedang kupilih dengan jujur," lanjutnya. "Dulu aku membuat Ibu mendengar sesudah semuanya pecah. Aku tidak mau mengulang dengan diam lagi."
Perempuan itu terdiam. Niat tersebut dapat didengar tanpa berarti dirinya harus menyebut semua sudah baik.
"Kabari Ibu langsung kalau waktunya berubah. Aku tidak mau jadi pengingat."
"Iya."
Aldin kemudian menanyakan kamar. Erika bercerita mengenai meja di dekat jendela, perjalanan melihat dua tempat, dan Iccha yang memastikan mereka makan sebelum terlalu lelah. Kakaknya mendengar tanpa menawarkan akan memeriksa semuanya sendiri.
Aldin sempat bertanya apakah perpindahan itu membuat pekerjaan dengan Jo berubah. Erika mengatakan bentuk akhirnya sedang dicatat, lalu menghentikan dirinya sebelum mulai menceritakan semua hal yang bukan milik kakaknya untuk diketahui.
"Urusan kerja kami tetap kami bicarakan sendiri," ujarnya.
"Iya. Aku cuma ingin tahu kamu tidak kehilangan pekerjaan karena alamat berubah."
"Ndak. Aku sudah memastikan."
Ada jeda, kemudian Aldin mengembuskan napas. Dia tidak menggunakan jawaban itu untuk bertanya apakah Jo sudah lebih tenang atau apakah nama Caca masih disebut. Erika menghargai bahwa percakapan dapat berhenti pada batas yang telah disampaikan.
Kakaknya lalu bercerita mengenai pekerjaan yang sedang dicari dan urusan yang harus diselesaikan sebelum dapat mengatur hari dengan lebih pasti. Tidak ada tawaran bahwa keluarga Jack akan memberi jalan cepat. Dia menyebut hal-hal yang dapat dilakukan sendiri, termasuk mengirim kembali berkas yang belum lengkap.
"Dulu aku terlalu mudah mengira yang belum selesai bisa dititipkan," katanya. "Sekarang ternyata banyak yang tidak bisa."
Erika memutar pena di tangan. "Ibu juga punya hari yang harus diatur. Jangan membuat dia menunggu tanpa kabar."
"Aku sudah mencatat waktu menelepon. Kalau berubah, aku akan bilang."
Gadis itu mengangguk. Dia tidak ingin menilai kakaknya seolah satu percakapan rapi dapat menjadi bukti bahwa semuanya berubah. Namun, mendengar pekerjaan kecil yang benar-benar sedang dilakukan lebih mudah diterima daripada permintaan agar dirinya percaya saja.
"Aku tidak selalu tahu harus bagaimana bicara sama kamu sekarang," Aldin mengaku kemudian.
Erika diam beberapa detik. Kejujuran tersebut mengenai sesuatu yang juga dirasakannya, tetapi selama ini sulit diberi kata tanpa terdengar seperti ingin menghukum terus.
"Aku juga," jawabnya. "Kadang aku ingin cerita seperti dulu. Lalu ingat ada banyak yang dulu tidak kamu ceritakan."
"Aku tahu."
"Jadi kalau aku berhenti di tengah, jangan langsung bilang aku belum bisa melupakan. Mungkin aku sedang mencoba menentukan yang mau kubagi."
Aldin menerima. Dia tidak mengatakan bahwa adiknya terlalu lama memikirkan. Setelah beberapa detik, dia meminta Erika melanjutkan cerita tentang kamar jika masih ingin. Gadis itu melihat catatan di meja, kemudian menceritakan bagaimana mereka menemukan meja yang dapat dipakai tanpa memiringkan tubuh. Kali ini lelucon kecil dari kunjungan keluar dengan lebih mudah, dan Aldin tertawa pada bagian yang memang lucu.
"Kamu terdengar senang," katanya.
"Aku memang senang. Juga takut sedikit."
"Kalau ada yang ingin dibicarakan, aku masih bisa mendengar. Aku tahu kamu mungkin tidak mau meminta bantuan sekarang."
Erika memandang kotak di lantai. Ada masa ketika kalimat tersebut pasti membuatnya langsung bercerita lebih banyak. Malam itu dia hanya mengucapkan terima kasih.
Aldin menerima tanpa menuntut. Percakapan selesai setelah keduanya membicarakan kabar Ibu dan pekerjaan masing-masing secara singkat. Tidak ada pertanyaan mengenai apakah Jo telah memaafkan, juga tidak ada permintaan agar Erika menyampaikan sesuatu kepada mantan sahabatnya.
Setelah telepon ditutup, gadis itu menulis waktu untuk menelepon Ibu sendiri. Bukan untuk memutuskan jawaban atas kunjungan, tetapi untuk mendengar bagaimana Bu Mei merasa setelah menerima permintaan tersebut.
Iccha kembali, meletakkan air di meja, dan tidak menanyakan seluruh isi panggilan. Erika membuka bungkus makanan, menyadari perutnya benar-benar lapar. Mereka makan sambil membicarakan barang yang masih harus dipisahkan.
Ketika malam hampir selesai, Erika menemukan satu kertas kecil di bawah kotak. Catatan pertamanya saat tiba di rumah Jack: pertanyaan yang ingin diajukan kepada Jo, ditulis dengan tangan yang waktu itu jauh lebih gugup.
Dia membacanya, tersenyum karena ada satu pertanyaan terlalu panjang, lalu menyimpan di antara halaman buku sendiri. Kertas tersebut akan ikut pergi. Rasa bersalah karena perbuatan kakaknya, yang selama ini tanpa sadar sering dibawa ke setiap ruangan, tidak perlu diberi kotak baru.