Jawaban mengenai kamar datang keesokan paginya. Erika membaca penjelasan biaya, mencocokkan dengan catatan kunjungan, lalu menuliskan dua pertanyaan terakhir. Setelah semuanya dijawab, dia menentukan waktu mulai sewa yang memberi kesempatan membereskan proyek dan barang tanpa terburu-buru.
Keputusan itu tidak diumumkan di meja sarapan sebelum dirinya yakin. Dia mengabari Ibu lebih dahulu, kemudian meminta waktu berbicara kepada Jack. Lelaki tersebut berada di ruang baca, dengan buku terbuka dan kacamata yang diletakkan pada halaman.
"Sudah memilih?"
Erika mengangguk, menjelaskan tempat yang dilihat bersama Iccha. Dia memperlihatkan jadwal, bukan meminta Daddy membayar atau mengambil alih urusan. Jack mendengarkan, menanyakan apakah ketentuan yang penting sudah dipahami, lalu tersenyum ketika gadis itu menunjukkan daftar yang penuh tanda selesai.
"Kamu lebih rapi daripada Daddy waktu pertama harus mengatur tempat kerja sendiri."
"Daddy dulu bagaimana?"
"Mengira kalau sudah punya meja, semua akan selesai. Lalu sadar kursinya membuat punggung sakit dan lampunya ada di sisi yang salah."
Erika tertawa. Jack menunjuk buku di hadapannya, mengaku pernah menulis beberapa halaman sambil berpindah tempat karena tidak ingin mengakui pilihan awal kurang nyaman.
"Jadi kalau nanti ada yang perlu diperbaiki, perbaiki," ujarnya. "Memilih sendiri tidak berarti harus mempertahankan sampai capek hanya supaya terlihat benar."
Gadis itu mengangguk. Pembicaraan tersebut terasa lebih berguna daripada janji bahwa kamar pertamanya pasti sempurna. Dia mengucapkan terima kasih atas tempat tinggal dan ruang kerja selama ini, lalu berhenti karena suaranya tiba-tiba lebih berat.
Jack memberi waktu. Erika menelan, tersenyum kecil.
"Aku belum pergi hari ini, tetapi kok sudah ingin menangis."
"Karena kamu tahu harinya sudah ada."
Lelaki itu mengambil kacamata, menutup buku. Dia tidak mengubah keharuan menjadi alasan agar Erika tinggal. Setelah mendengar rencana berikutnya, dia meminta gadis tersebut mengabari keluarga pada saat yang dirasa nyaman.
Sore harinya, Lina dan Erika berangkat lebih awal ke pertemuan komunitas. Halaman yang dibawa sudah dipilih, diberi nomor, dan diperiksa agar tidak memuat catatan yang hanya boleh diketahui klien. Kiki membantu memasukkan ke map, mengeluh karena kedua penulis tersebut punya kebiasaan membawa terlalu banyak kertas.
"Kalau cuma membaca tiga halaman, kenapa ada cadangan sebanyak ini?"
"Karena gue gugup," jawab Lina jujur.
Kiki menatapnya, kemudian memisahkan bagian yang tidak perlu dibawa. Dia menyisakan satu salinan tambahan, memasukkan pada sisi berbeda, lalu menyerahkan map.
"Yang ini kalau jatuh. Bukan untuk dibacakan semua."
Lina menerima dengan senyum kecil. "Terima kasih."
"Jangan berterima kasih sebelum lo berhenti menukar halaman kedua dengan keempat."
Erika tertawa, membantu memeriksa urutan terakhir. Kiki tidak ikut, tetapi meminta Lina mengirim kabar setelah selesai. Permintaan itu diucapkan sambil memandang map, seolah masih lebih mudah daripada menatap adiknya langsung.
Tempat pertemuan tidak sebesar acara pertama. Beberapa kursi disusun mengelilingi meja panjang, menyisakan tempat di belakang bagi yang hanya ingin mendengar. Lina menyapa orang yang telah berkomunikasi dengannya, sementara Erika membantu menaruh halaman contoh.
Arya datang sebelum acara dimulai. Dia membawa buku yang sudah pernah dibicarakan dengan Lina, bukan bunga atau sesuatu yang memerlukan penjelasan. Setelah memberi salam, dia menanyakan apakah boleh duduk di sisi yang masih kosong.
Lina mengangguk. Erika menjelaskan bahwa mereka akan membaca contoh singkat, lalu mendengar tanggapan. Arya melihat halaman pertama, menanyakan apakah nama Anggrek perlu disebut atau Erika lebih nyaman memakai nama sendiri saat percakapan.
"Di tulisan tetap Anggrek," jawab gadis itu. "Kalau bicara, Erika juga boleh."
"Baik. Aku tidak ingin salah memanggil di depan orang."
Dia tersenyum, lalu pindah ketika seseorang hendak meletakkan tas. Perhatian kecil tersebut terasa biasa dan menyenangkan. Erika tidak perlu menafsirkannya menjadi sesuatu yang lebih jauh agar boleh menerima dengan ramah.
Jo tiba beberapa menit kemudian. Dia berhenti pada pintu, mencari Lina, lalu melihat Erika sedang menunjukkan perbedaan dua kalimat kepada Arya. Gadis itu menunjuk satu kata, tertawa pada tanggapan lelaki tersebut, kemudian mengangkat kepala setelah Lina memanggil.
"Mas Jo, di sini," kata Erika.
Lelaki itu berjalan mendekat. Dia memberi salam kepada Arya, menanyakan kursi mana yang boleh dipakai, lalu memilih tempat di belakang sesuai penjelasan Lina. Ada kursi lebih dekat dengan Erika, tetapi masih digunakan untuk peserta yang membawa tulisan.
Saat duduk, Jo merasakan dorongan bodoh untuk mengatakan bahwa dirinya telah membaca versi sebelumnya. Seolah mengetahui satu kalimat lebih awal dapat membuktikan posisi yang belum pernah diberikan Erika.
Dia mengambil air yang tersedia, membuka halaman contoh, dan memilih membaca.
Acara dimulai dengan Lina. Perempuan itu menjelaskan bagaimana sebuah adegan dapat menahan informasi tanpa membuat pembaca bingung mengenai tempat dan tokoh. Suaranya sedikit bergetar pada kalimat pertama, tetapi menjadi lebih tenang setelah seseorang menanyakan contoh.
Erika ikut membaca percakapan pendek. Pada versi awal, dua tokoh terlalu banyak mengatakan bahwa mereka takut. Pada versi yang diperbaiki, salah satu akhirnya melakukan sesuatu, sehingga ketakutan dapat terlihat melalui tindakannya.
"Aku sering perlu membaca keras-keras," ujarnya. "Kalau napasku habis sebelum tokoh selesai menjawab, mungkin dia memang terlalu lama bicara."
Beberapa orang tertawa. Jo juga tertawa, mengingat bagaimana Erika dapat menghentikan wawancara ketika dirinya menyusun kalimat yang terlalu rapi untuk sesuatu yang belum jelas.
Arya mengangkat tangan setelah pembacaan. Dia menanyakan apakah semua pengulangan harus dihapus, atau ada pengulangan yang justru menunjukkan tokoh belum berani menjawab.
Erika menatap halaman, berpikir sebelum memberikan jawaban.
"Mungkin yang dilihat bukan berapa kali kalimat muncul, tetapi apakah setelah itu ada yang berubah. Kalau tokohnya mengulang karena lawan bicara belum mendengar, bisa punya guna. Kalau pembaca sudah tahu dan adegannya tetap di tempat sama, aku biasanya memeriksa lagi."
Lina menambahkan contoh dari tulisannya. Percakapan berkembang, beberapa peserta membaca bagian sendiri, dan waktu berjalan lebih cepat daripada dugaan. Jo tidak mendapat kesempatan berbicara khusus dengan Erika sepanjang bagian tersebut. Anehnya, setelah beberapa menit pertama, dia mulai menikmati mendengar gadis itu berada di antara orang yang menanggapi pekerjaannya dengan sungguh-sungguh.
Pada giliran membaca berikutnya, seseorang meminta pendapat Jo sebagai orang yang belum terbiasa membicarakan proses menulis. Lelaki tersebut menoleh, memastikan pertanyaan memang ditujukan kepadanya, lalu melihat halaman yang baru dibacakan.
"Aku lebih mudah mengikuti versi kedua," jawabnya. "Tapi aku tidak yakin bisa menjelaskan dengan istilah yang kalian pakai."
Erika tersenyum. "Tidak harus pakai istilah. Bagian mana yang membuat Mas ingin lanjut?"
Jo menunjuk satu tindakan kecil, ketika tokoh memindahkan kursi agar lawan bicara dapat duduk. Pada versi awal tindakan itu tidak ada, sehingga percakapan panjang terasa dimulai oleh dua orang yang belum benar-benar berada di ruangan sama.
Lina mengangguk, mengajak peserta lain membandingkan. Arya memberi tanggapan berbeda mengenai kalimat terakhir. Tidak ada yang perlu mengalah agar pendapat Jo dianggap paling benar.
Lelaki tersebut mendengarkan, lalu mengakui bahwa bagian yang baginya cukup jelas ternyata masih membuat orang lain bertanya. Dia sempat ingin menambahkan alasan, tetapi penulis halaman tersebut justru mengatakan tanggapan yang berbeda membantu menemukan bagian yang perlu diperiksa.
"Berarti tidak harus memilih satu jawaban?" tanya Jo.
"Untuk adegan ini belum," jawab Erika. "Penulisnya perlu membaca lagi, lalu menentukan yang sesuai ceritanya."
Jo mengangguk. Ada rasa lega yang tidak diduga karena dirinya dapat menjadi pendengar dengan pendapat biasa. Dia tidak memimpin rapat, tidak diminta memberi keputusan akhir, dan tidak perlu membuktikan bahwa datang berarti paling memahami semua tulisan Erika. Ketika pembacaan berlanjut, dia menaruh halaman pada lutut dan benar-benar mendengar.
Ada seorang peserta yang bertanya mengenai memakai pengalaman keluarga sebagai bahan. Erika meletakkan halaman, tidak langsung menjawab melalui contoh dari rumah Jack.
"Aku membedakan apa yang ingin kuceritakan dengan apa yang sebenarnya milik orang lain," katanya. "Kadang lebih jujur mengaku belum bisa menulis daripada membuat orang di dekat kita merasa semua percakapannya akan masuk cerita."
Jo menatapnya. Dia pernah menganggap kemampuan menulis Erika sebagai cara membuat perasaannya lebih mudah dimengerti. Sekarang dia mendengar bagaimana perempuan tersebut juga memikirkan orang yang mungkin tidak ingin dituliskan.
Seusai acara, kursi kembali diatur. Arya membantu membawa beberapa ke sisi ruangan, sementara Jo mengumpulkan halaman yang terjatuh. Erika menerima, memeriksa nomor, lalu mengucapkan terima kasih.
"Mas ndak bosan?"
"Aku baru tahu ada banyak cara menilai orang yang belum menjawab."
Gadis itu menatapnya, kemudian tertawa karena menangkap lelucon yang disampaikan pelan. Jo tersenyum, tidak melanjutkan dengan pertanyaan mengenai dirinya.
Arya mendekat setelah selesai membantu. Dia menyebut satu bagian cerita Anggrek yang membuatnya ingin membaca kelanjutan, lalu bertanya apakah Erika masih menerima pekerjaan menulis lain di luar proyek yang sedang berlangsung.
"Tergantung bentuk dan waktunya," jawab gadis itu.
"Kalau ada permintaan yang sesuai, boleh aku meneruskan kontak yang kamu gunakan untuk pekerjaan? Aku tidak akan menjanjikan kamu pasti menerima."
Erika berpikir, kemudian memberikan alamat yang memang disiapkan untuk urusan tersebut. Dia meminta agar permintaan dijelaskan tertulis supaya bisa menilai tanpa harus menyetujui saat telepon pertama.
Arya mengangguk. "Baik. Aku hanya meneruskan jika memang ada yang jelas."
Jo mendengar dari jarak beberapa langkah. Ada keinginan menawarkan sesuatu juga, mungkin sebuah proyek dengan bayaran yang tidak perlu Erika pertimbangkan terlalu lama. Dia segera mengenali kesalahan arah pikiran itu. Gadis tersebut baru saja mengatakan ingin mempunyai pekerjaan yang tidak semuanya berasal dari satu orang.
Lina menghampiri, mengingatkan bahwa mereka masih harus membawa map pulang. Arya menawarkan membantu sampai kendaraan, lalu berhenti setelah melihat mereka sudah mengatur perjalanan. Dia tidak meminta perubahan agar dapat ikut lebih lama.
Erika berpamitan, Jo juga. Mereka keluar bersama Lina dan berjalan menuju tempat menunggu kendaraan. Angin sore mengangkat ujung jilbab Lina. Perempuan itu memegang map dengan kedua tangan, tersenyum puas karena acara kedua tidak membuatnya kehilangan semua suara di awal.
"Kiki akan senang halaman lo tidak berantakan," kata Erika.
"Gue akan mengirim bukti."
Lina memotret map, menambahkan satu pesan, lalu memberi ruang ketika Jo dan Erika berhenti sebentar di sisi jalan. Mereka tidak terlalu jauh, masih dapat melihat satu sama lain.
"Mas tadi diam sekali setelah Arya bicara soal pekerjaan," ujar Erika.
Jo memandangnya. Dia dapat menjawab bahwa dirinya sedang memikirkan perusahaan. Itu akan terdengar masuk akal, dan mungkin Erika tidak bertanya lagi.
"Aku cemburu sedikit," katanya.
Gadis itu terdiam. Jo segera melanjutkan, sebelum kata tersebut berubah menjadi beban yang diletakkan di tangan perempuan itu.
"Bukan alasan kamu harus berhenti bicara sama dia. Aku sedang membiasakan diri melihat kamu punya dunia yang tidak selalu kukenal."
Erika mengembuskan napas pelan. "Arya bicara baik. Aku tidak ingin merasa harus menjelaskan setiap orang yang menyapa."
"Kamu tidak harus."
"Kalau Mas bertanya karena ingin tahu, aku bisa cerita. Tapi kalau pertanyaannya seperti aku perlu membuktikan sesuatu, aku ndak mau."
Jo mengangguk. Kalimat itu mengenai sesuatu yang pernah terjadi, meskipun saat itu dirinya tidak berhak menghubungkan Erika dengan perbuatan Aldin dan Caca.
"Aku paham. Tadi aku hampir mencari alasan menawarkan proyek lain. Untung belum kulakukan."
Erika mengangkat alis. "Supaya aku ndak perlu menerima yang dari luar?"
"Mungkin. Aku tidak suka mengakuinya."
Gadis itu memandangnya cukup lama, kemudian menunduk pada map di tangan. Dia menghargai kejujuran tersebut, tetapi tidak ingin memberi hadiah hanya karena Jo berhasil menahan sesuatu yang memang tidak perlu dilakukan.
"Aku senang Mas tidak melakukan," ujarnya. "Aku ingin kita tetap bisa bicara seperti ini."
Lelaki itu mengangguk. Tidak ada pertengkaran besar yang perlu dimenangkan. Hanya satu perasaan tidak nyaman yang disebut sebelum berubah menjadi perintah.
Lina memanggil ketika kendaraan datang. Jo membuka jalan agar mereka dapat mendekat, lalu menanyakan apakah Erika ingin mengabarinya setelah tiba. Gadis itu mengangguk, mengatakan akan mengirim pesan ketika sudah di rumah, dan naik bersama Lina.
Sepanjang perjalanan, Erika lebih banyak melihat jendela. Lina membiarkan beberapa menit berlalu sebelum menanyakan apakah hari itu terlalu melelahkan.
"Sedikit. Tapi aku senang."
"Karena acara?"
"Karena acara. Dan karena aku bisa mengatakan sesuatu tanpa langsung ingin menarik lagi."
Lina mengangguk, tidak meminta seluruh percakapan diulang. Dia menunjukkan balasan Kiki: hanya dua kata yang menyatakan map masih utuh. Keduanya tertawa, dan Erika akhirnya mengambil ponsel untuk mengirim kabar kepada Ibu.
Di rumah, setelah pesan tiba dikirim kepada Jo, dia membuka halaman yang dibacakan tadi. Ada bekas lipatan di ujung, satu coretan dari tanggapan peserta, dan kalimat yang ingin diperbaiki besok.
Erika menyimpannya dengan rasa puas. Hari itu Jo telah melihat dirinya berbicara kepada orang lain, menerima kemungkinan kerja lain, dan pulang tanpa harus memberikan jawaban atas perasaan lelaki tersebut.
Namun, ketika ponselnya berbunyi dengan ucapan terima kasih karena telah mengundang, gadis itu tersenyum sebelum sempat menyuruh dirinya berhati-hati. Dia memandang senyum kecil yang terpantul samar pada layar gelap, lalu berhenti berpura-pura bahwa semuanya hanya ramah.
Ada sesuatu yang tumbuh. Dia belum tahu seberapa jauh ingin membiarkannya, tetapi untuk pertama kalinya dia mengakuinya kepada diri sendiri tanpa segera mencari alasan untuk menolak.