Mrs. Hudson menyambut Annalise dengan berpindah ke pangkuan Thomas.
Gadis itu berhenti mengulurkan tangan, lalu memandang kucing tersebut dengan penghinaan yang cukup jelas untuk membuat Joanna tertawa.
"Setahun berlalu dan penilaiannya masih buruk."
Thomas mengusap punggung hewan itu dengan wajah terlalu puas.
"Aku merasa diterima."
"Kau membawa makanan?"
"Tidak. Rupanya pesonaku bekerja tanpa bantuan."
Annalise menoleh kepada Joanna. "Aku menyesal membiarkan mereka bertemu lagi."
Sahabatnya tertawa lebih keras. Mereka berada di ruangan tempat rombongan menerima beberapa tamu sebelum pertunjukan, dengan Matthew duduk dekat pintu dan Alaric masih memeriksa urusan yang perlu selesai sebelum panggung digunakan.
Edith dan Gresham akan bergabung di tempat duduk. Kedua ibu itu sudah tiba di Bath sehari sebelumnya, membawa cukup banyak cerita untuk membuat teh menjadi dingin pada kunjungan pertama.
Hari itu seluruh orang mempunyai alasan hadir yang sudah diketahui.
Tidak ada yang sedang dicari diam-diam.
***
Joanna menanyakan buku gambar Annalise, dan gadis itu memperlihatkan beberapa halaman yang dikerjakan selama perjalanan.
Kali ini ia tidak meminta maaf sebelum setiap gambar buruk terlihat. Joanna pun sudah mengetahui bahwa pujian tidak harus diberikan kepada semuanya agar sahabatnya tetap senang berbagi.
Mereka berhenti pada gambar tangan yang memegang cangkir.
"Thomas?"
Annalise mengangguk.
"Kau tampaknya cukup sering menjadi model," ujar Joanna kepada pria tersebut.
"Aku dibayar dengan kesempatan menerima kritik."
"Bayaran yang murah hati," kata Matthew.
Thomas memandang sepupunya, tetapi tidak menemukan alasan yang cukup baik untuk mempertahankan wajah tersinggung.
Ia tertawa bersama mereka.
Mrs. Hudson meninggalkan pangkuannya beberapa saat kemudian, seolah memutuskan perhatian kepada kucing telah menurun sampai tingkat yang tidak dapat diterima. Hewan itu melompat ke kursi lain tanpa memerlukan bantuan siapa pun.
Annalise mengikuti gerakannya, kemudian menutup buku dan memilih tidak mengejar.
Beberapa makhluk memang lebih baik dibiarkan menentukan tempat duduk sendiri.
***
Alaric datang ketika waktu pertunjukan mendekat. Ia menyapa pasangan itu, lalu menerima kabar mengenai buku yang pernah diberikannya kepada Thomas.
Sang murid mengaku masih tidak setuju dengan beberapa catatan.
"Aku berharap kau menulis alasanmu di kertas terpisah," kata Alaric. "Aku mungkin ingin meminjam buku itu kembali."
"Kau memberikannya kepadaku."
"Aku memberikan kesempatan menyimpan. Aku belum berhenti membaca."
Annalise tertawa, sementara Thomas memandang mentornya dengan kesabaran yang sudah memperoleh banyak latihan.
Mereka berpisah sementara ketika Alaric dipanggil. Joanna juga perlu bersiap, dan Matthew mengantar mereka menuju tempat duduk sebelum kembali memastikan dirinya tidak menghalangi pekerjaan siapa pun.
Annalise memandang ruangan yang mulai ramai.
Dahulu begitu banyak hal di tempat semacam ini tampak seperti jawaban yang disembunyikan dari dirinya.
Kini ia dapat duduk dan menantikan sebuah cerita yang memang akan dibagikan kepada seluruh penonton.
***
Pertunjukan dimulai setelah kedua ibu bergabung. Edith menyapa Thomas dengan tatapan yang segera turun kepada bulu kucing pada mantelnya.
"Kau membawa sebagian tamu sebelum acara?"
Annalise tidak mampu menahan tawa. Gresham tampak sangat lega mengetahui Mrs. Hudson tidak berada di bawah kursi mereka.
Thomas membersihkan mantelnya dengan kehormatan yang tersisa, lalu memusatkan perhatian kepada panggung.
Joanna tampil dengan keyakinan yang sudah dikenali Matthew. Ia tidak lagi menyaksikan adiknya seolah setiap langkah merupakan sesuatu yang akan menjauhkannya dari keluarga.
Pekerjaan itu bagian hidup Joanna.
Hubungan mereka juga demikian, dan keduanya telah menemukan cara membiarkan dua hal tersebut tetap ada.
Annalise menikmati cerita, tertawa pada bagian yang lucu, dan berhenti memikirkan bagaimana wajahnya terlihat ketika senang.
Sesekali ia menoleh kepada Thomas.
Suaminya tersenyum setiap kali mengetahui dirinya sedang diperhatikan.
***
Saat jeda, mereka tetap duduk sambil menikmati minuman. Annalise merasa cukup nyaman untuk menyelesaikan pertunjukan, tetapi tidak ingin menambah kegiatan lain setelahnya.
Thomas menerima keputusan itu dan memberi tahu Matthew mengenai rencana pulang agar tidak ada orang yang menunggu tanpa kabar.
Edith serta Gresham akan tinggal sedikit lebih lama untuk menyampaikan selamat kepada Alaric. Mereka tidak menganggap perpisahan rencana sebagai sesuatu yang mengurangi kegembiraan bersama.
Annalise mendengarkan ibunya menceritakan surat dari ayahnya, yang menanyakan apakah putrinya sudah menemukan toko buku baru untuk membuat peti perjalanan semakin berat.
"Papa mengenalku terlalu baik," katanya.
"Kami semua mulai mencurigai bukumu dapat berkembang biak," jawab Gresham.
Thomas mengangguk dengan kesungguhan yang tidak pantas.
Istrinya menatapnya tajam, kemudian tertawa sebelum dapat membuat teguran yang meyakinkan.
Di sekitar mereka, orang-orang kembali ke tempat duduk. Musik memberi tanda bahwa cerita akan dilanjutkan.
***
Tepuk tangan pada akhir pertunjukan terasa hangat dan panjang. Annalise melihat Joanna membungkuk bersama pemain lain, lalu Alaric muncul menerima penghargaan atas pekerjaan yang terus dipilihnya.
Orang-orang yang pernah hilang dari hidup mereka tetap dirindukan. Benyamin tidak kembali untuk melihat pernikahan putranya. Istri serta putra Alaric tidak berada di antara penonton.
Namun, kenangan tidak lagi meminta orang yang masih hidup berhenti memiliki hari yang menyenangkan.
Edith bertepuk tangan dengan senyum yang sesekali menjadi lebih lembut. Matthew tampak bangga, bukan gelisah. Gresham menanyakan apakah Annalise ingin berjalan pelan sebelum menuju kereta.
Gadis itu mengangguk.
Mereka mengucapkan selamat secara singkat ketika memperoleh kesempatan. Joanna memeluk sahabatnya dan mengatakan akan membalas surat berikutnya sebelum Annalise merasa perlu menulis teguran mengenai keterlambatan.
"Aku akan tetap menulis," jawab Annalise.
"Aku tahu. Itu yang kusukai."
***
Di luar, udara Bath membawa suara orang berpamitan, roda kereta, dan percakapan yang perlahan menjauh dari pintu gedung.
Thomas berjalan bersama istrinya menuju tempat yang sedikit lebih tenang sambil menunggu kendaraan mereka mendekat. Annalise berhenti sebentar di dekat dinding rendah, menatap langit yang mulai gelap.
"Kau lelah?"
"Sedikit. Aku senang datang."
Ia menyandarkan tangan pada lengan Thomas. Suaminya tidak menafsirkan satu jawaban sebagai pembatalan jawaban yang lain.
Untuk beberapa saat, keduanya menikmati keheningan yang berbeda dari suara panggung.
Annalise memikirkan pohon, luka, nama yang tidak lengkap, cincin yang pernah dikembalikan, dan semua percakapan yang membawa mereka sampai pada malam ini.
Tidak setiap kenangan layak ditertawakan. Ada bagian yang tetap ingin diingat karena dirinya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.
Namun, ia dapat memandang Thomas sekarang tanpa harus berpura-pura masa lalu selalu indah.
Ia mencintai pria yang berdiri di hadapannya, termasuk usahanya yang masih terus berlangsung untuk menjadi lebih baik.
***
"Apa yang kaupikirkan?" tanya Thomas.
Annalise tersenyum.
"Betapa banyak masalah yang dimulai seekor kucing."
"Aku mengingat seorang wanita di atas pohon sebagai bagian yang cukup penting."
"Dan seorang pria yang terlalu yakin dapat mengatur semuanya."
Thomas menerima sindiran itu dengan tawa pelan.
"Aku mempunyai banyak gagasan buruk."
"Aku ingat."
Ia memandang istrinya lebih lama. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan menunjukkan yang lebih baik."
Annalise tidak mengatakan bahwa kesempatan itu merupakan hadiah yang harus dibayar seumur hidup. Ia hanya meraih tangannya dan menggenggam dengan lembut.
"Kita berdua masih belajar."
Thomas mengangguk, lalu mencium keningnya sebelum suara kereta mereka terdengar lebih dekat.
Gadis itu memandang wajah yang telah digambarnya berkali-kali. Ia belum kehabisan hal yang ingin diperhatikan.
Mungkin itulah bagian yang paling disukainya dari kehidupan mereka sekarang.
***
Di rumah, masih ada buku baru yang belum selesai dibaca. Di London, sebuah gambar menunggu diperbaiki dan keluarga menantikan kabar. Di kediaman mereka di luar kota, pohon akan terus berubah sebelum Annalise sempat menyelesaikan setiap cabang.
Malam itu mereka tidak memerlukan jawaban untuk semuanya.
Ia tersenyum kepada suaminya dan mengulurkan tangan saat kereta berhenti.
"Ayo pulang."
Thomas menerima tangannya.
Mereka berangkat bersama, membawa sebuah kehidupan yang terus dipilih, jauh sesudah kata cinta pertama kali diucapkan.
***
TAMAT