George Blake membuka pintu ruang duduk dengan kain kecil tersampir di bahu.
Annalise menatap benda itu, kemudian wajah sepupunya. George mengikuti arah pandangannya dan menghela napas seperti seorang pria yang baru menyadari seluruh kehormatannya telah ditinggalkan di kamar lain.
"Aku lupa melepaskannya."
"Kurasa warnanya cocok dengan pakaianmu," kata Annalise.
"Terima kasih. Kate mengatakan hal yang sama, tetapi dia tertawa lebih lama."
Henrieta masuk di belakang adiknya, membawa bungkusan kecil dari Gresham. Kedua saudari itu akhirnya memenuhi undangan berkunjung setelah memberi Annalise sehari penuh untuk beristirahat sesudah pesta. George menerima bungkusan, lalu mempersilakan mereka duduk sambil menjelaskan bahwa istrinya sedang bersama anak-anak.
Dari ruang bersebelahan terdengar suara tangis.
George langsung menoleh.
"Steve," katanya dengan yakin.
Kate muncul beberapa saat kemudian membawa Rafe.
Annalise tidak mengatakan apa-apa. Wajahnya sudah cukup membuat George mengangkat tangan menyerah.
***
Kunjungan tersebut tidak menyerupai gambaran tenang yang pernah dibayangkan Annalise tentang rumah seorang wanita yang selalu tampak anggun di pertemuan.
Ada bantal yang berpindah tanpa henti. Teh Kate menjadi dingin sebelum sempat diminum. George mencoba berbicara mengenai keadaan London, tetapi kehilangan urutan cerita karena terus memperhatikan gerakan kecil putranya.
Kate akhirnya menyerahkan Rafe kepada pengasuh dan duduk sambil merapikan rambut yang terlepas.
"Sekarang aku dapat mendengarkan dengan benar. Bagaimana pestanya?"
Henrieta memandang Annalise.
"Menyenangkan," jawab gadis itu sebelum kakaknya sempat menambahkan sesuatu.
"Ia berdansa," ujar Henrieta.
"Orang memang melakukan itu di pesta dansa."
Kate tertawa. Ia tidak menanyakan dengan siapa, sesuatu yang segera disyukuri Annalise. George rupanya tidak memiliki kemurahan hati serupa.
"Wellington datang?"
"Ya."
"Dan kakimu masih utuh?"
"Kakiku bukan yang dikhawatirkan."
George tersenyum, kemudian berdiri ketika seorang pelayan memberitahukan kedatangan tamu lain. Kate menepuk keningnya pelan.
"Aku hampir lupa Edith mengatakan akan singgah sesudah membeli sesuatu."
Annalise memandang pintu sebelum berhasil berpura-pura bahwa kabar itu tidak membuatnya berharap.
***
Edith datang bersama putranya.
Thomas tampak sama terkejutnya melihat Annalise. Itu sedikit mengurangi kecurigaan gadis tersebut bahwa kedua ibu mereka sudah kembali menyusun rencana di belakang semua orang.
"Mama mengatakan kunjungan singkat," ujar Thomas setelah menyapa mereka.
"Dan belum ada yang membuktikan sebaliknya," jawab Edith.
George menyambutnya dengan hangat. Mereka semula bermaksud membicarakan sebuah buku yang pernah dipinjam George, tetapi percakapan segera berubah ketika pengasuh kembali membawa Steve yang tidak mau tenang.
Edith menanyakan apakah Kate ingin dibantu. George mengambil putranya lebih dahulu dan mulai berjalan perlahan di dekat jendela.
Thomas menggeser kursi yang menghalangi jalan tanpa diminta.
Annalise memperhatikan tindakan kecil itu. Pria tersebut tidak mendadak menunjukkan kepandaian luar biasa menenangkan bayi. Ketika George memintanya mengambil kain yang terjatuh, ia sempat mengambil benda yang salah.
"Yang itu penutup teko," kata Kate.
Thomas menatap kain di tangannya.
Henrieta mulai tertawa. Annalise menyusul, dan untuk sekali ini Duke of Wellington tidak mempunyai jawaban yang dapat menyelamatkannya.
***
Setelah anak-anak dibawa beristirahat, percakapan menjadi lebih tenang. George menjelaskan bahwa ia sedang belajar menyelesaikan urusan di rumah dalam bagian-bagian waktu yang lebih pendek daripada sebelumnya.
"Aku dahulu mengira bisa menyelesaikan surat kapan saja," katanya. "Sekarang aku tahu kapan saja bukan waktu yang benar-benar ada."
Thomas tampak memahami bagian tersebut, meskipun alasan kesibukannya berbeda.
Annalise mendengarkan sambil melihat Kate akhirnya mendapat teh hangat. Pernikahan sepupunya tidak tampak seperti akhir dari segala kesulitan. Rumah mereka mempunyai gangguan, kelelahan, dan gurauan yang lahir justru karena tidak semuanya berjalan sesuai rencana.
Namun, ketika Kate mencari cangkir, George sudah menggesernya mendekat sebelum istrinya bertanya.
Annalise menyukai hal itu.
Ia tidak perlu membayangkan dirinya berada di tempat Kate untuk mengetahui bahwa perhatian yang kecil dapat membuat sebuah ruangan terasa menyenangkan.
Thomas menangkap senyumnya dan menanyakan apa yang lucu.
"Tidak ada," jawabnya. "Aku hanya senang datang."
***
Henrieta membawa pembicaraan kepada gambar. Ia mengatakan telah menemukan kembali pemberian lama Annalise di antara barangnya, lalu menyarankan adiknya melihat beberapa gambar yang dipinjam seorang kenalan keluarga untuk dipelajari bersama.
Ada seorang pengajar yang sesekali datang memberi petunjuk kepada beberapa wanita dewasa. Pertemuannya kecil, tidak menuntut hasil bagus, dan berlangsung pada siang hari.
Annalise langsung tertarik, kemudian ragu dengan kecepatan yang sama.
"Aku belum pernah menggambar di hadapan orang yang sungguh mengetahui caranya."
"Kau pernah mengajariku," kata Thomas.
"Itu berbeda. Kau tidak mengetahui caranya sama sekali."
George tertawa ke dalam cangkir. Thomas menerima penghinaan tersebut dengan anggukan yang sangat sopan.
Henrieta menyarankan mencoba satu pertemuan dahulu. Annalise tidak harus menjanjikan seluruh pekan hanya karena menyukai satu sore.
Kate menambahkan bahwa mengetahui sesuatu masih dapat diperbaiki tidak perlu membuat kegemaran itu berhenti menyenangkan.
Annalise meminta Henrieta menanyakan waktunya.
Thomas tidak menawarkan membeli seluruh perlengkapan. Ia hanya bertanya apakah nanti dirinya akan mendapat penilaian baru mengenai gambar jendelanya yang buruk.
"Hampir pasti," jawab Annalise.
Edith ingin mengetahui gambar jendela yang sedang dibicarakan. Thomas menjelaskan dengan enggan, sementara Annalise menambahkan bagian yang dianggapnya sengaja dihilangkan.
"Aku ingin melihatnya," kata sang dowager.
"Mama mempunyai banyak jendela yang lebih baik untuk dipandang."
"Tetapi tidak dibuat oleh putraku."
Jawaban itu membuat Thomas berhenti menyiapkan bantahan. Annalise melihat perubahan kecil pada wajahnya, lalu memilih tidak melanjutkan gurauan. Ia mengatakan kertas tersebut dibawa pulang Thomas, jadi Edith dapat memintanya sendiri.
"Rupanya kau menyimpannya," ujar ibunya.
"Aku perlu mengingat kesalahanku."
George memandangnya dengan senyum meragukan, tetapi Kate menyelamatkan Thomas dengan menawarkan kue terakhir sebelum suaminya mengambilnya.
***
Saat para tamu bersiap pulang, Thomas memperoleh kesempatan berbicara dengannya di dekat meja, sementara yang lain masih bertukar kabar. Ia menanyakan apakah Annalise bersedia berjalan bersamanya tiga hari lagi.
Ada tempat yang ingin dilihatnya tidak terlalu jauh dari rumah Berrow. Mereka dapat memutuskan panjang perjalanan setelah mengetahui keadaan cuaca dan tubuhnya hari itu.
Annalise menyetujuinya. Henrieta belum menerima jawaban mengenai pertemuan menggambar, sehingga mereka memilih waktu yang tidak bertabrakan dengan rencana tersebut.
"Kau terdengar jauh lebih sibuk daripada di Bath," kata Thomas.
"Kau keberatan?"
Ia memandangnya sebelum tersenyum. "Aku hanya menyadari bahwa aku perlu membuat undangan lebih baik daripada kucing yang menjanjikan kekacauan."
"Standarnya cukup tinggi."
"Aku akan berusaha."
Annalise membawa senyum itu sampai ke kereta. Henrieta duduk di hadapannya dan tidak langsung bertanya tentang Thomas.
"Kau sungguh ingin mencoba pelajarannya?"
"Ya."
"Bagus. Kita akan mengaturnya."
Gadis itu memandang rumah George yang mulai menjauh. Kunjungan singkat telah memberinya lebih banyak hal untuk dipikirkan daripada yang diperkirakan: tangan yang menggeser cangkir, tawa Thomas ketika salah mengambil kain, serta kemungkinan mempunyai kesibukan yang dipilih sendiri.
Ia menantikan tiga hari lagi.
Namun, untuk pertama kalinya, bukan hanya Thomas yang membuat pekannya terasa menarik.