Seperti apa takdir yang dipersiapkan yang Maha Kausa untuk Maryam, mungkin pertanyaan seperti itulah yang sedang berkecamuk dalam kepala Maryam. Karena, diusianya yang baru saja genap 20 tahun, sudah begitu banyak ujian yang sudah gadis itu dapatkan. Hanya saja, setiap kali hatinya ingin mengeluh, Maryam selalu kembali ingat, jika ujian – ujian itu datang dari yang maha kuasa untuk dirinya karena tuhan tahu dirinya kuat.
Sehingga, saat kepolisian membawa Maryam dan memenjarakannya sebagai tehanan sementara, Maryam memilih diam dan mengikuti semua alur hukum yang saat itu dia tetapkan tanpa melakukan perlawanan meskipun saat itu Maryam harus mengorbankan waktu yang seharusnya dia lalui bersama Bilqis. Namun, saat itu Maryam sadar, jika tuhan tidaklah tidur, melalui orang – orang terdekatnya, Tuhan membantu Maryam dengan menggerakan hati mereka untuk membantu Maryam mengumpulkan bukti – bukti.
“Jangan asal memegang karena sidik jari kalian bisa saja tertinggal di sana, karena sepertiya alat ini adalah filtrasi yaitu alat yang gunakan untuk menjernihkan air” ujar pengacara, yang saat itu memang sengaja datang untuk memastikan benda yang saat itu di temukan Hasan, Kiana dan Kiano di bawah lantai yang ada di gudang.
“Ini bener – bener gila sih, tuh cewe ilmu kedokterannya bukan dia pake buat racik obat supaya bisa dipake buat nolong orang, malah di pake buat racuk obat supaya bisa bunuh orang, bener – bener udah gila” ujar Kiano, sambil menggeleng – gelengkan kepalanya karena dia tidak menyangka ada manusia yang bisa merencakan sebuah kasus pembunuhan serapih itu.
“Dia otaknya emang udah bener – bener kriminal banget sih” timpal Kiana, yang saat itu sedang duduk diatas sofa sambil menatap alat yang baru ditemukan dan sudah dikeluarkan dari tempatnya persembunyiannya.
“Semoga aja dengan bukti ini bisa memperkuat pernyataan jika Maryam tidak bersalah, dan memperkuat juga kalau Alexalah yang bersalah atas kematian Adler” ujar Hasan, yang sejak tadi hanya diam kemudian mengeluarkan suaranya.
Karena kemungkinan besar, bukti yang saat itu baru saja mereka temukan adalah bukti yang selama ini mereka cari, bukti yang bisa menguatkan Maryam agar tidak dinyatakan sebagai tersangka atas kasus pembunuhan Adler lagi.
Kemudian, pengacara langsung membereskan semua barang bukti tersebut karena besok dia akan membawanya ke penyidik agar semua barang bukti itu di cek mengenai siapa pemiliknya melalui sidik jari yang ada di dalam dua alat yang baru ditemukan itu. Serta, bekas apa barang itu sehingga bisa tersimpan di bawah keramik yang memang sepertinya sengaja untuk disembunyikan.
“Setelah kemarin dilakukukan persidangan untuk kasus Maryam semoga besok dipersidangan yang selanjutnya Maryam bisa membuktikan jika tuduhan Alexa tidak benar” ujar pengacara, yang saat itu baru saja selesai membereskan barang – barang yang dia temukan untuk diperiksa.
Setelah itu, pengacara memilih pamit, sehingga yang tersisa hanya ada Kiana dan Kiano, Hasan, dan Jenifer. Setelah kepergian pengacara, tidak ada yang mereka lakukan selain diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing – masing, karena saat itu yang mereka inginkan adalah Maryam bisa segera dibebaskan.
***
Hasan yang saat itu datang membawa Bilqis menatap Maryam dengan tatapan yang sulit didefinisikan. Karena nyatanya melihat Maryam berada di sebuah persidangan menggunakan pakaian hitam putih sebagai tersangka kasus pembunuhan tidak pernah ada dalam bayangan Hasan. Jadi, saat dia benar – benar melihatnya, Hasan merasa jika semua itu bagaikan sebuah mimpi.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan dan kesaksian yang berikan oleh saudari Alexa Charlotte, Nona Maryam dituduh sebagai tersangka kasus pembunuhan berencana dengan bukti ditemukannya sebuah gelas botol berisi racun alami yang sempat digunakan untuk membunuh tuan Adler” ujar Jaksa Penuntut Umum, kepada Hakim.
Saat itu, sebagai seorang terdakwa yang tidak mengerti apa yang sebenarnya harus dia lakukan, Maryam hanya bisa diam. Beruntung saat itu, Jenifer sudah mengirimkan seorang pengacara yang mana saat itu akan sangat – sangat membantu Maryam, yang saat itu benar – benar tidak mengerti tentang apa sebenarnya yang harus dia lakukan.
“Yang Mulia, kami menolak tuduhan yang diberikan oleh Jaksa Penuntut Umum, karena ada berbagai hal yang memungkinkan kenapa sidik jari dari Maryam bisa ada di botol itu, sedangkan terkait dengan masalah kesaksian Nyonya Alexa, kami juga menolaknya karena apa yang beliau katakan tidak sesuai kenyataan, pada kanyataannya, meskipun pernikahan mereka tidak dilandasi oleh cinta dari kedua belah pihak hidup rukun, dan harmonis, tidak terjadi perselingkuhan didalam pernikahan mereka, bahkan meskipun benar anak itu bukan hasil dari pernikahan mereka tapi Tuan Adler sangat menyayangi dan mencintai anak Nyonya Maryam” ujar Pengacara, yang saat itu menolak eksepsi dari Jaksa Penuntut Umum.
Mendengar eksepsi dari penasihat hukum Maryam yang ternyata di tolak, persidagangan berlanjut pada pembuktian. Dimana penuntut umum menghadirkan saksi dan pemeriksaan bukti. Kegiatan persidangan terus berlanjut mengikuti alur dan proses – prosesnya. Hingga pada akhirnya, bukti yang kamarin di temukan akhirnya di keluarkan, dan pengeluaran bukti itu, berhasil membuat Alexa kaget, karena mungkin perempuan itu tidak menyangka mereka akan menemukan bukti itu.
“Ditemukannya satu bukti penumbuk obat yang saat itu terdeteksi bekas penumbukan bunga azalea dan terdapat sidik jari dari Nyonya Alexa, sudah menjadi satu bukti nyata jika dia punya salah satu alat untuk untuk membuat racun”
“Ditambah dua alat ini yang terdapat sidik dari Nyonya Alexa juga, sudah menjadi bukti yang sangat kuat jika Alexa adalah penyebab kematian Adler”
Perdebatan terus terjadi dalam ruang persidangan tersebut, semuanya terus berlanjut hingga saksi – saksi yang saat itu di hadirkan oleh penuntut umum menyampaikan apa yang seharusnya mereka sampaikan. Karena banyaknya Bukti yang menyudutkan Alexa, jadi bukannya Maryam tapi justru malah Alexa yang teramcam akan ditahan. Sedangkan Maryam, karena tidak ada bukti selain yang diberikan oleh Alexa, jadi saat itu mereka akan kembali memeriksa Alexa dan menanyakan tentang keberanaran dari kesaksian yang dia berikan, Karena berdasarkan saksi – saksi yang datang beserta alat bukti yang ada, Maryam dinyatakan tidak bersalah dan bisa di bebaskan.
Maryam, yang pada dasarnya hanya seorang yang tidak mengerti apa – apa hanya mengikuti alurnya saja, hingga satu putusan lagi kemungkinan besar Maryam akan dibebaskan. Hanya saja, saat itu Hakim memutuskan untuk menunda persidangan dan akan dilanjutkan besok. Sebelum Maryam kembali ke tahanan, Hasan meminta waktu kepada petugas agar membiarkan dia bicara bersama Maryam, karena saat itu Hasan rasa jika Bilqis sudah merindukan ibunya. Beruntung saat itu petugas mau berbaik hati memperbolehkan Bilqis bertemu ibunya.
“Sayang … Bunda kangen nak” ujar Maryam, sambil mengecup pipi Bilqis kemudian membawa dia ke dalam dekapannya.
“Sebentar lagi sayang ya, yang sabar nanti kita akan sama – sama lagi, selama Bunda tidak ada jadi anak yang baik sama Ayah ya” ujar Maryam, sambil tersenyum menatap mata putri kecilnya yang saat itu menatap Maryam dengan tatapan penuh makna.
Sedangkan Maryam, bertemu putri kecilnya setelah hampir dua minggu tidak pernah lagi bertemu, membuat Maryam benar – benar sangat merindukannya. Karena pada kenyataannya tidak ada seorang ibu yang akan mampu berjauhan dengan putri kecilnya, terlebih saat itu Maryam merasa jika Bilqis adalah satu – satunya penguat yang dia punya untuk menghadapi semua keruminan yang sedang terjadi.
“Sabar ya, nanti pasti akan ada saatnya dimana kamu akan terbebas, karena kamu tidak bersalah, Allah maha kuasa, dia masa adil, Dia tidak mungkin membiarkan hambanya yang tidak bersalah mendapat hukuman yang tidak seharusnya dia dapatkan” ujar Hasan, sambil mengelus kepada Maryam, membuat perempuan itu menoleh menatap Hasan kemudian menganggukan kepalanya.
Saat itu, melihat pertemuan Bilqis dan Maryam, Hasan merasa kasihan. Karena selama ini mereka memang selalu bersama – sama tidak pernah terpisahkan, tapi kini saat keadaan memisahkan mereka, mereka harus berpisah karena sebuah keadaan sulit yang tentu tidak akan disukai siapapun.
“Selama aku di sini, aku hanya meminta tolong kepada Kakak, tolong jaga dan lindungi Bilqis, sayangi dan cintai dia dengan sebaik mungkin, karena bagi ku dia segalanya” ujar Maryam, sambil tersenyum tapi ada air mata yang sudah berjatuhan dari pelupuk matanya.
Sesaat, Hasan tersenyum getir, karena saat itu Hasan merasa tidak kuasa melihat mereka berada dalam keadaan seperti itu. “Berjanji jugalah jika kamu akan tetap baik – baik saja, agar bisa segera bertemu Bilqis, karena jika sampai terjadi sesuatu sama kamu, maka saat itulah Bilqis akan menangis” ujar Hasan, sambil menatap wajah Maryam yang tertutup cadar dengan tatapan penuh makna.
“Dan jika sampai terjadi sesuatu sama kamu, Kakak juga gak akan bisa maafin diri Kakak sendiri” batin Hasan, sambil menatap Maryam dengan tatapan yang begitu dalam.
“Kamu harus tahu, kalau kamu gak pernah sendiri, Kakak akan selalu ada di dekat kamu sejauh manapun kamu pergi, Kakak akan selalu ada selama apapun kamu pergi meninggalkan Kakak” ujar Hasan, sambil menatap Maryam.
“Tolong, tolong jaga diri kamu baik - baik” lanjut Hasan, dengan tatapan yang begitu dalam.
Karena, jika saja dia di perbolehkan untuk memeluk Maryam, Hasan sangat ingin melakukannya. Saat itu Hasan yakin jika Maryam pasti terluka karena dia dituduh sebagai pembunuh suaminya, Hasan yakin Maryam pasti bersedih atas hal yang menimpa dirinya, Maryam pasti rapuh, hanya saja dia berpura – pura terlihat kuat dihadapan banyak orang.
“Setelah ini, Kakak janji tidak akan ada lagi kesedihan untuk kamu, Kakak janji akan selalu memperjuangkan kebahagiaan kamu” ujar Hasan, sambil tersenyum kecil diakhir kalimatnya.
“Setelah semua ini usai, mari kita mulai semuanya dari awal, mari kita perbaiki semuanya yang salah dan kurang untuk menjadi benar dan lebih baik, mari kita sama – sama memupuk rasa cinta dalam halal, Maryam” ujar Hasan, sambil menatap Maryam penuh keseriuasan membuat Maryam terdiam menatap Hasan seakan dia tidak paham apa yang Hasan sampaikan.
“Maryam, sampai hari ini, rasa yang Kakak miliki untuk kamu masih belum berubah sedikit pun, rasa itu masih sama dan masih hidup di dalam sini” ujar Hasan, menyentuh bagian dadanya. “Jika mungkin, mari kita buka lembaran kisah baru bersama, kita mulai semuanya dari awal” ujar Hasan, sambil tersenyum menenangkan.
“Kamu tidak perlu menjawab semua sekarang, karena Kakak pasti akan sangat dengan sabar menunggu kamu” ujar Hasan, sambil mengelus kapada Maryam.
Saat itu, tidak ada apapun yang Maryam katakan, dia hanya diam dalam tundukannya. Karena pada kenyataannya, apa yang Hasan katakan semuanya terlalu mendadak, meskipun pada kenyataannya Maryam tahu jika cinta Hasan memang masih menjadi miliknya.
“Nyonya Maryam, sudah saatnya anda kembali ke tahanan” ujar seorang polisi yang saat itu datang untuk mengajak Maryam pergi.
Sekilas, Maryam menganggukkan kepalanya, kemudian dia mendaratkan satu kecupan hangat didagi putrinya. Ada air mata yang hampir jatuh membasi pipinya, karena perpisahan bersama Bilqis selalu menjadi bagian paling berat dalam hidup Maryam. Karena setelah kepergian Adler, tidak ada lagi teman hidup yang Maryam miliki selain Bilqis.
“Bunda sangat – sangat mencintai mu, jadilah anak yang baik sayang” ujar Maryam, kemudian mendaratkan satu keupan di dahi Bilqis.
Setelah itu, Maryam mengalihkan Bilqis ke dalam gendongan Hasan, satu elusan terakhir yang Maryam lakukan di kepala Bilqis, hingga kemudian dia benar – benar berlalu pergi bersama seorang polwan yang menemaninya dari belakang.
Saat itu, meskipun sudah tidak akan ada lagi perpisahan, tapi pada kanyataannya dia tidak bisa mengendalihakan kenyataannya. Jadi, meskipun perpisahan bersama Bilqis menyakitkan, tapi Maryam tidak punya pilihan lain selain mengiklashkan.