Setelah berbincang bersama Risa tepat saat dia baru saja tiba dari Jerman, Hasan seakan mendapat semangat baru, laki – laki itu seakan kembali mengibarkan bendara perangnya pada semua orang yang saat itu tidak mempercayai Maryam. Hari ini, adalah hari dimana Maryam akan melakukukan sidang dengan satu bukti yang memberatkan Maryam sebagai tersangka, dan satu bukti yang bisa meringankan Maryam sebagai tersangka juga.
Tepat setelah persidangan, pihak kepolisian melakukan konfersifers yang ddi liput banyak media di Jerman tapi Hasan yakin tayangan itu akan sampai ke Indonesia. Saat itu, pihak kepolian mengklarifikasi tentang bukti yang sudah ada di tangan mereka, memamerkan tentang apa yang sudah mereka temukan, dan menginformasikan tentang sidang putusan Maryam yang saat itu masih harus tinggal dalam tahanan karena kasus Maryam akan di selidiki lebih lanjut.
“Kami sudah melakukan Gelar TKP di rumah yang sempat di huni oleh korban dan tersangka, tidak ada hal yang mencurigakan di sana, selain itu tidak banyak barang bukti yang kami dapat di sana, kami hanya menemukan satu botol minum bayi yang terkubur dihalaman belakang dan masih terisi air” ujar pihak kepolian yang saat itu sedang melakuan konfersifers sambil memperlihatkan botol minum bayi yang dia maksudkan menggunakan bahasa Jerman.
“Kemudian, saat kamu menyerahkan air dalam botol ini ke Laboratorium untuk melakukan pemeriksaan, ternyata air yang terkandung dalam minimuman ini bukan air biasa, tapi terdapat kandungan racun andromedotoxin sebesar 8% dalam botoh air minum bayi ini, dimana jika dikonsimsi anak kecil bisa menyebabkan muntah – muntah dan sakit perut, racun itu adalah racun yang sama dengan racun yang sudah menjadi penyebab kematian korban bernama Adler Geraldine” jelas polisi, sambil memperlihatkan sampel cairan yang saat itu sudah di pindah ke tempat lain dan di perlihatkan kearah kamera.
“Selain itu, dalam botol s**u ini tidak ditemukan sidik jari dari tersangka, justru kami menemukan sidik jari orang lain yang berinisial AC, dan saat ini kami juga akan melakukan penyidikan lebih lanjut terhadap beliau” lanjut polisi, yang hanya mendapat anggukan kepala dari para wartawan.
“Namun, saat ini tersangka masih berstatus sebagai tahanan sementara, karena masih ada satu bukti dimana ditemukannya sebuah gelas minum dan terdapat sidik jari tersangaka di sana, sehingga pihak kepolisian akan melakukan penyidikan lebih lanjut terhadap kasus ini”
Setelah itu, pihak kepolisian memilih untuk menyelesaikan konfersifers kasus pembunuhan Adler sampai di situ. Hasan, yang sejak tadi berdiri paling belakang menjadi penonton dalam konfersifers tersebut langsung mengepalkan tangannya, karena saat itu dia sadar Maryam masih harus tersiksa tinggal dalam jeruji besi. Kemudian, dia langsung bergegas pergi, hendak menemui Maryam yang saat itu sudah ada di penjara.
Hanya 15 menit waktu yang Hasan butuhkan hingga akhirnya dia bisa duduk di kursi yang sudah di khusus untuk para pengujung tahanan, tidak lama setelah Hasan meminta bertemu Maryam, perempuan itu datang masih menggunakan pakaian yang kemarin terakhir kali dia gunakan.
“Kamu udah makan ?” tanya Hasan, untuk pertama kalinya saat Maryam sudah duduk dihadapannya.
Dengan senyuman yang saat itu sudah terbit dari bibirnya, Maryam menganggukkan kepala. “Semalan apa Bilqis rewel ?” tanya Maryam, karena di dalam tahanan hampir semalaman Maryam benar – benar tidak bisa tidur memikirkan keadaan Bilqis.
“Saat Kakak bawa pulang ke Jerman Bilqis sudah tidur, jadi saat sampai apartemen dia tidak terbangun, kamu tenang saja Kakak dan yang lain pasti akan menjaga Bilqis dengan sebaik mungkin” ujar Hasan, mengelus kepala Maryam seperti yang dulu selalu dia lakukan, karena memang dulu mengelus kepala Maryam sudah menjadi kebiasaan Hasan, tapi hanya sebatas itu tidak lebih.
“Kemungkinan besar, Alexa juga akan di tahan karena penyidik menemukan bukti di rumah kamu dan Adler” ujar Hasan, berhasil membuat Maryam menoleh dan menatap Hasan dengan tatapan kaget.
“Ada botol minum bayi yang di kubur dihalaman belakang rumah kalian, dari dalam botol itu di temukan air yang mengandung racun yang sama dengan racun yang menyebabkan Adler meninggal hanya saja kandungannya tidak terlalu tinggi, bila itu di minum oleh anak – anak bisa menyebabkan muntah – muntah, dan di botol itu ditemukan sidik jari Alexa” ujar Hasan, tapi belum mendapat tanggapan apapun dari Maryam.
Sesaat, Maryam terdiam merenungkan perkataan Adler. Mual – mual, kata itu cukup menarik dalam pendengaran Maryam, karena setiap kali Bilqis di ajak Alexa jalan – jalan keliling rumah, pasti dia akan muntah – muntah, tidak tahu kenapa saat itu Maryam bisa sampai berpikir ke situ, padahal hal itu bisa termasuk kedalam sebuah fitnah.
“Muntah – muntah ?” ujar Maryam, sambil menoleh kearah Hasan. “Bilqis sering mengalami mungtah – muntah …” lanjutnya, tanpa menyelesaikan hingga tuntas.
“Ada apa ? apa kamu mencurigai sesuatu ?” tanya Hasan, saat dia merasa jika Maryam mencurigai sesuatu tanteng botol s**u itu.
Namun, meskipun saat itu Maryam sudah mulai mencurigai Alexa, tapi perempuan itu memilih untuk diam dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban jika dia tidak mengetahui apapun, meskipun pada kenyataannya kecurigaan itu sudah dia miliki. Hanya saja, Maryam tidak ingin menyampaikannya kepada Hasan.
Sesaat, Hasan mengehela nafas. “Ya sudah kamu baik – baik di sini, jaga kesehatan kamu karena di rumah Bilqis selalu menunggu kepulangan kamu” ujar Hasan, sambil mengelus kepala Bilqis yang lagi – lagi dijawab sebuah anggukan kepala oleh Maryam.
“Kakak pergi dulu ya” ujar Hasan, sambil bangkit dari posisi duduknya kemudian berlalu setelah mengucapkan salam dan mendengar jawaban salamnya dari Maryam.
***
Kiana dan Kiano, dua manusia kembar dengan segala sikap menyebalkan mereka, memaksa Hasan datang ke rumah Maryam dan Adler ketika laki – laki itu sudah mengatakan jika dia akan pergi menemui Alexa. Hanya saja, apa yang dia agendakan saat itu benar – benar gagal karena dia terpaksa harus meneruti keinginan mereka, hingga akhirnya membuat mobil Hasan melaju menuju jalur rumah Maryam dan Adler kemudian berakhir didepan rumah itu.
“Kalian ngapain lagi sih, maksa segala nyuruh datang ke sini, gue sibuk ya” ujar Hasan, sambil berkaca pinggang saat melihat dua orang kembar itu sedang berdiri di depan rumah seperti sengaja untuk menyambut kedatangannya.
“Tadi kita datang ke sini buat ambil baju ganti Bilqis, tapi pas datang rumahnya kotor banget, kita udah cape nyapu lantai atas sampai bawah terus udah pel lantai atas juga, nih …” ujar Kiano, sambil memindahkan gagang pel yang sejak tadi sedang dia pegang ke dalam genggaman tangannya.
“Sekarang giliran lo pel lantai bawah” lanjut Kiano, sambil sedikit menyingkirkan tubuhnya ke samping seakan memberi jalan kepada Hasan untuk berjalan masuk.
“Sekalian tolong benerin lampu kamar, kayanya kamar buat Bilqis deh, lampunya udah pecah” ujar Kiana, sambil tersenyum tanpa dosa dan memindahkan
“Kalian ya bener – bener...” ujar Hasan setengah menggerutu dan berhasil membuat Kiano dan Kiana terkekeh mendengarnya.
“Ambil tangganya” ujar Hasan, sambil berlalu masuk dan menyerahkan kembali lampu yang sempat diserahkan oleh Kiana.
Kemudian, meskipun dengan wajahnya yang saat itu tampak kesal, laki – laki itu tetap mengerjakan apa yang dua orang berwajah kembar itu minta kepadanya, yaitu mengepel lantai. Sedangan Kiano, laki – laki itu langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa saat dia merasa tugasnya sudah selesai. Melihat hal itu, Kiana tentu merasa tidak terima, karena seharusnya laki – laki itu membantunya untuk mengambil tangga di gudang. Kiana berusaha menarik – narik kaki Kiano tapi dia tidak kunjung mau menemaninya hingga berakhir dengan dirinya sendiri saja.
“Dasar Kiano Kakak gak punya hati, masa gue adenya yang anggun kaya di suruh ngambil tangga segede gini, sendiri pula” gerutu Kiana, sambil menatap tangga yang harus di bawa ke kamar Biqlis.
Setelah menggerutu, Kiana langsung masuk ke dalam gudang, dengan susah payah dia mengambil tangga yang tingginya tentu melebihi tinggi badannya. Namun, saat itu karena Kiana berjalan tanpa memperhatikan jalan, tanpa sengaja kakinya tersandung keramik yang saat itu tidak rapih hingga keramik itu menggeser dari tempatnya, dan saat itu Kiana hanya mampu meringis kesakitan karena kakinya berdarah.
“Kiana, hati – hati dong kaki lo berdarah itu” ujar Hasan, yang saat itu tiba – tiba muncul dari ambang pintu.
Setelah itu, dia langsung menghampiri Kiana membantu gadis itu yang sudah terlihat kesakitan. Kemudian, dari arah belakang Kiano datang dengan wajah yang tidak kalah panik, dan saat itu kehadiran Kiano berhasil membuat Hasan kesal, karena bisa – bisanya dia meminta Kiana yang jelas – jelas adiknya, yang jelas – jelas perempuan untuk mengambil tangga.
“Lo gimana sih, masa nyuruh Kiana buat ambil tangga, dimata otak lo, kaki lo kenapa lumpuh ?” tanya Hasan, sambil menimpuk Kiano dengan wajah kesalnya.
“Sorry … sorry tadi gue cuma becanda, gue kira dia gak akan beneran ambil, tapi ternyata dia benaran ambil” ujar Kiano, sambil menatap adiknya dengan penuh khawatir. “Lagian elo, kenapa gak duduk aja sih, liat kaki lo jadi berdarahkan sekarang” ujar Kiano, yang kini justru malah balik memarahi Kiana.
“Ko malah jadi elo yang marah sih, Kak” ujar Kiana, sambil menatap kakaknya tidak kalah kesal.
Saat itu, Kiana langsung terdiam, karena pada nyatanya dia marah bukan karena dia benci kepada Kiana justru karena dia sayang kepada adiknya, dia khawatir pada keaadaan Kiana yang saat itu kakinya sudah terlihat berdarah.
“Lagian, elo ngapain itu kramik sampai jauh ketendang kaya gitu, lo jalan kaya gimana hah, pantes aja itu kaki sampai berdarah kaya gitu ?” ujar Kiano, sambil menutupi luka kaki Kiana dengan kain yang saat itu dia bawa.
Kiana langsung menoleh kearah keramik yang Kiano maksudkan, saat itu sebenarnya Kiana baru sadar jika dia menendang Keramik jauh dari tempatnya. Namun, sesaat kemudian Kiana mengerutkan dahinya bingung saat melihat bekas tempat keramik itu tidak di tembok, tapi seperti ada sebuah lubang, menyadari hal itu, dia langsung bangkit dari posisi duduknya hendak melihat apa sebenarnya yang ada di balik tempat keramik itu.
“Mau kemana lagi” tanya Kiano, terliaht semakin kesal kepada adiknya.
Namun, dengan kakinya yang saat itu masih berdarah, Kiana tidak memberikan jawaban apapun, dia memilih untuk terus berjalan tanpa mempedulikan pertanyaan saudaranya. Tepat saat Kiana sudah sampai di lubang itu, dia tampak terlihat kebingungat saat melihat sebuah benda yang terlihat asing di matanya, karena sepanjang dia hidup baru pertama kalinya dia lihat.
“Kak itu ada benda apa ?” tanya Kiana, sambil berjongkok seakan luka dikakinya tidak terasa sakit.
Mendengar dan melihat Kiana yang saat itu terlihat menemukan sesuatu, Hasan dan Kiano langsung mendekat, dua laki – laki itu langsung saling bertatapan dengan dahi yang tampak berkerut, karena bukan hanya Kiana yang merasa aneh dengan alat itu, tapi Hasan dan Kianopun sama herannya seperti Kiana. Kemudian, dua laki – laki itu berjongkok, memperhatikan benda itu dalam diam.
“Apa mungkin benda ini adalah satu barang bukti yang sengaja di sembunyikan Kak Alexa ?” tanya Kiano berhasil membuat Hasan tersadar, karena sebelumnya dia tidak berpikir sampai ke situ.
Kemudian, Hasan langsung menghubungi Jenifer dan meminta perempuan itu datang bersama pengacara untuk memastikan semuanya. Karena jika sampai itu benar, pasti barang bukti ini akan meringankan Maryam dari kasus tuduhan pembunuhan yang dituduhkan kepada Maryam.