Gelar Tempat Kejadian Perkara atau TKP mungkin itulah yang sedang dilakukan pihak kepolisian di rumah Maryam, mengusut tuntas kasus kematian Adler yang sudah di ketahui pembunuhnya tapi masih diselidiki tentang kebenarannya. Saat itu, rumah Maryam yang biasanya belakangan sepi, akhirnya kembali ramai oleh beberapa polisi yang sedang melakukan olah TKP. Saat itu, Jenifer dan Hasan yang sengaja ikut datang untuk mengatahui apa saja yang pihak kepolisian dapatkan dari hasil gelar TKP, tapi saat sudah hampir empat jam berlalu mereka masih belum juga menemukan bukti apapun.
“Dan, ada botol minum bayi dengan setengah minuman yang belum habis di dalamnya” ujar salah seorang polisi, saat salah satu diantara mereka melihat ada keanehan dari rumput dihalaman belakang dan saat di gali ternyata di temukan botol minum bayi.
“Botol s**u Bilqis” ujar Hasan, tanpa sadar saat dia melihat botol s**u yang ditemukan oleh seorang polisi.
Jenifer langsung menoleh saat tanpa sengaja mendengar gumaman Hasan. Karena, jika memang botol s**u itu milik Bilqis, kenapa botol itu bisa tertimbun di bawah tanah saat Bilqis sendiri masih membutuhkan dan menggunakan botol s**u. Baik Hasan atau siapapun, tentu merasa heran, karena tidak mungkin Maryam menimbun botol s**u milik anaknya sendiri, hingga akhirnya Hasan kembali pada suatu kejadian tepat saat dulu dia sering datang dan hanya memperhatikan Maryam dan Bilqis dari kejauhan.
Dari dalam mobil yang sengaja Hasan parir tidak jauh dari depan rumah Maryam, tapi masih bisa melihat apa yang terjadi dihalaman depan, Hasan menatap Maryam yang saat itu sedang membantu Bilqis meminum susunya menggunakan gelas kecil, padahal biasanya setiap pagi Hasan selalu melihat Maryam memberi Bilqis s**u menggunakan botol. Namun, pagi itu dengan penuh ketelatenan, Maryam memberi Bilqis s**u menggunakan gelas.
“Ko minum susunya pakai gelas, dot Bilqis kemana ?” suara itu muncul dari arah belakang Maryam yang tidak lain adalah Adler, saat itu dia tampak terlihat menggunakan pakaian santai karena hari ini adalah hari week end.
“Bilqis hanya punya satu botol s**u Kak, tapi setelah kemarin aku panik tepat saat Bilqis tiba – tiba muntah setelah meminum air yang diberikan Kak Alexa, aku lupa lagi dimana menyimpan botol susunya” ujar Maryam, dengan wajahnya yang saat itu terlihat bersalah kepada putrinya.
“Dasar, orang tua udah pelupa ya” ujar Adler, sambil mengelus kepala Maryam dengan kekehan lucu yang keluar dari mulutnya, dan berhasil membuat Maryam memberengut kesal.
Hanya kilatan ingatan itulah yang Hasan ingat, tentang sebuah percakapan singkat dimana Maryam bercerita tentang botol s**u Bilqis yang dia dengar samar – samar. Dari ingatan itu, Hasan merasa tidak mungkin Maryam yang menguburnya, karena saat itu Maryam sendiri kebingungan tentang keberadaan botol s**u Bilqis.
“Itu gak mungkin Maryam yang buang, karena saat itu jelas Maryam mengatakan jika dia tidak tahu dimana keberadaan botol s**u Bilqis yang tiba – tiba hilang, dan aku yakin jika botol s**u yang Maryam maksud saat itu adalah botol s**u yang ditemukan polisi itu, karena saat awal – awal aku sering melihat Maryam memberi s**u Bilqis dengan botol s**u itu” ujar Hasan, begitu yakin membuat Jenifer langsung menarik tangannya ke arah polisi dan meminta Hasan menjelaskan ulah tentang apa yang dia ingat mengenai botol s**u itu.
Hasan berusaha menjelaskan semuanya dengan sedetail mungkin tentang apa yang dia ingat beberapa bulan lalu. “Baik, mungkin jika ada hal lain yang kami perlukan tentang botol s**u ini kami akan menghubungi anda untuk dimintai ke saksian mengenai botol s**u ini” ujar polisi, yang tentu langsung mendapat anggukan dari Hasan.
Suara dering ponsel dari handphone Jenifer berhasil membuat Hasan menoleh, kemudian dengan tiba – tiba Jenifer langsung pergi menuju mobil tepat setelah dia melihat siapa yang menghubunginya. Melihat Jenifer, Hasan langsung berlari untuk menyusul, karena saat itu Hasan merasa curiga dengan siapa yang menghubunginya.
“Kamu tenang, jangan panik okey, mereka pasti tidak akan menemukan kamu, karena identitas kamu di sana sudah di ganti, tenangkan diri kamu dan tenangkan Bilqis, tolong bertahanlah hingga semuanya selesai, karena jika sampai kamu masuk perjara Tante akan sangat merasa bersalah pada ayah mu” ujar Jenifer, berusaha menenangkan sosok yang saat itu sedang menghubunginya.
“Aku rasa, mungkin memang sudah seharusnya aku menyerahkan diri Tan, dari pada aku merepotkan kalian, karena anak – anak buah Kakek benar – benar menggeledah masing – masing rumah di sini, dan aku merasa jika aku sudah tidak punya celah lagi untuk menghindar setelah tadi aku bersembunyi seakan di rumah ini tidak ada orang, aku yakin beberapa jam lagi mereka akan datang ke sini Tan” Jawab Maryam, berhasil membuat Jenifer sesaat terdiam.
Saat itu, Jenifer merasa jika dirinya terlalu lalai, kemarin tepat setelah Naomi mengatakan jika Kakeknya sudah mengetahui tempat keberadaan Maryam, Naomi yakin kakek Aland langsung bergerak cepat dengan mengirim anak – anak buahnya, begitupun dengan Jenifer, perempuan itu langsung mencari tempat baru untuk memindahkan Maryam, dan saat itu Jenifer merencakan kepindahan Maryam nanti malam untuk menghindari pertanyaan banyak orang karena sebelumnya Jenifer mengira meraka tidak akan dengan cepat menemukan lokasi Maryam yang saat itu memang sangat terpencil. Namun, ternyata Jenifer justru di dahului oleh mereka, saat itu untuk memindahkan Maryam ke tempat baru yang sudah dia siapkan saja, Jenifer merasa semua akan sia – sia karena pengawal kakek Aland pasti sudah memperketat penjagaan di daerah tersebut.
Jenifer langsung menoleh saat dia merasa handphone yang sejak tadi menempel di telinganya di ambil secara tiba – tiba oleh seseorang yang tidak lain adalah Hasan.
“Dengar Kakak baik – baik Maryam, tidak akan ada apapun yang terjadi di sana, kamu harus tetap baik – baik saja, kamu akan baik – baik saja, dan kamu tidak akan pergi kemana – mana Maryam” ujar Hasan, kepada Maryam yang saat itu masih terhubungan dengan panggilan handphone Jenifer.
“Tunggu Kakak di sana, setelah ini Kakak akan langsung berangkat ke sana” ujar Hasan, sambil menyerahkan ponsel pada Jenifer, kemudian berlalu keluar dan segera pergi ke mobilnya.
Melihat sikap Hasan, Jenifer langsung pamit pada Maryam kemudian mematikan sambungan telepon. Setelah itu, dia langsung berlari menyusul Hasan untuk mamastikan tentang apa yang akan sebenarnya laki – laki itu akan lakukan.
“Apa sebenarnya yang kamu rencanakan ? apa yang akan kamu rencanakan sekarang Hasan ? jangan gegabah di sini banyak polisi, tindakan mu yang mencurigakan akan mengundang kepenasaran mereka” ujar Jenifer, setengah berbisik karena takut pembicaraan mereka terdengar oleh beberapa orang polisi yang sedang lalu lalang melakukan olah TKP yang belum juga selesai.
“Aku akan pergi ke Singapore menyusul Maryam, aku akan diam di sana menemani dia, dan saat orang – orang itu datang, maka aku adalah orang yang akan menghadapi mereka, aku tidak bisa duduk di sini menunggu kabar dari Maryam Tan, aku benar – benar harus memastikan jika dia baik – baik saja” ujar Hasan, dengan kesungguhan yang terlihat begitu nyata dari mata Hasan.
“Jagalah Mayam dengan sebaik mungkin kalau begitu” ujat Jenifer, sambil menepuh bahu Hasan, sebagai bentuk dukungan yang dia berikan untuk laki – laki itu.
***
Setelah berpamitan kepada ibu, adik, dan juga ayahnya hanya melalui panggilan telepon karena saat itu Hasan memilih langsung berangkat tanpa pulang lebih dulu, dan hanya membawa pakaian yang ada di mobilnya saja. Akhirnya laki – laki itu berhasil mendarat di negera Singapore di jam dini hari. Laki – laki itu langsung bergegas pergi menuju alamat kediaman Maryam, karena saat itu Hasan benar – benar merasa tidak sabar untuk memastikan bagaimana keadaan perempuan itu dan juga anaknya.
Hasan mengetuk pintu rumah yang saat itu dia yakin adalah rumah Maryam, dengan perasaannya yang saat itu tidak tahu kenapa tiba – tiba berdebar kencang. Hasan kembali mengetuk pintu rumah itu untuk yang kedua kalinya.
“Assalamu’alikum …” ujar Hasan, hendak mengetuk pintu untuk yang ketiga kalinya.
Hanya saja, belum sampai pintu itu di ketuk, terdengar jawaban salam dari dalam bersamaan dengan pintu yang sejak tadi Hasan ketuk akhirnya terbuka. Selama beberapa saat, Hasan terdiam menatap Maryam yang saat itu rasanya sudah lama tidak dia lihat.
“Kakak beneran datang ?” tanya Maryam, sambil menatap Hasan dengan tatapan kaget.
Selama beberapa saat Hasan terdiam, kemudian dia tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Hingga akhirnya terdengar tangis Bilqis dari dalam rumah yang berhasil membuat Maryam secara terburu – buru masuk untuk melihat bagaimana keadaan anaknya. Saat itu, ternyata Bilqis baru saja terbangun dari tidurnya, tapi tidak tahu kenapa bayi itu menangis saat terbangun padahal biasanya dia tidak seperti itu. Maryam langsung membawa Bilqis ke dalam gendongannya, berusaha menenangkan dia yang saat itu tidak kunjung berhenti menangis.
“Kenapa sayang ? ko nangis, jangan nangis dong,” Maryam langsung menoleh saat dia mendengar suara Hasan yang tiba – tiba ada di dekatnya.
Saat itu, Hasan tampak tersenyum menatap putri kecilnya sambil menoel – noel pipi Bilqis dan hal itu berhasil membuat Bilqis terdiam. Selama beberapa Bilqis menatap sosok Hasan yang saat itu sedang mengajaknya bermain, hingga akhirnya senyuman terbit dari bibir Bilqis.
“Paaaa …” ujarnya sambil mengarahkan tangan kearah Hasan seakan saat itu dia meminta di gendong.
“Iya sayang, ini Papah, sini Bilqis mau di gendong Papah” ujar Hasan, sambil menyimpan ranselnya di lantai kemudian mengambil alih Bilqis dari gendongan Maryam.
“Maaf ya, tadi Kakak langsung masuk gitu aja, soalnya Kakak denger Bilqis gak berenti nangis” ujar Hasan, sambil mengelus punggung Bilqis yang saat itu sedang berada dalam gendongannya.
Selama beberapa saat, Maryam terdiam menatap Hasan dan Bilqis yang saat itu terlihat akrab. Dalam benaknya, Maryam bertanya – tanya, bagaimana mungkin mereka bisa terlihat sangat dekat saat mereka sendiri sangat jarang bertemu ? dan bagaimana bisa Bilqis langsung terlihat tenang saat Hasan menggendongnya setelah dua hari gadis kecil itu sangat rewel. Kemudian, Maryam mengalihkan tatapannya kearah lain, berusaha menyingkirkan semua pertanyaan yang saat itu mulai berkecamuk dalam pikirannya.
“Ada apa ?” tanya Hasan, sambil mengelus kepala Maryam hingga membuat perempuan itu tersadar setelah selama beberapa menit tampak melamun.
Maryam menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang terbit dari bibirnya, saat itu Maryam merasa seperti semua mimpi – mimpinya terealisasi, melihat Hasan yang tampak sangat menyayangi anaknya, membuat Maryam merasa seperti melihat Hasan yang dulu dia pikir akan menjadi suaminya benar – benar terjadi, dan melihat Hasan bersama Bilqis membuat Maryam merasa seperti semua mimpi itu berwujud menjadi nyata. Namun, Maryam berusaha mempertahankan kesadarannya, jika semua itu tidak akan mungkin terjadi.
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada ku setelah ini Kak, tapi jika memang aku harus pergi, tolong, tolong jaga Bilqis, sayangi dan cintai dia Kak, tolong” ujar Maryam, sambil menatap Bilqis yang saat itu sudah terlihat benar – benar tenang dalam gendongan Hasan.
“Bilqis sangat menyukai s**u rasa vanilla, dia tidak suka buah Jeruk, dan dia alergi dengan kecang hijau” ujar Maryam, sambil mengelus kepala Biqlis dengan tatapan kesedihan tapi ada senyuman yang terbit dari balik cadarnya.
“Kenapa sama dengan ku” ujar Hasan, sambil menatap tubuh putri kecilnya yang saat itu sedang dia gendong.
Selama beberapa saat, Maryam terdiam dengan senyuman yang terbit dari bibirnya. “Karena dia benar – benar putri mu Kak” batin Maryam
Namun, saat itu Maryam memilih diam tidak memberikan jawaban apapun, karena seharusnya tanpa Maryam jelaskan sekalipun seharusnya Hasan tahu kenapa sesuatu yang Bilqis sukai, sesuatu yang Bilqis tidak sukai, dan sesuatu yang membuat Bilqis alergi bisa sama dengannya.
“Meskipun sebenarnya aku sangat takut perpisahan terjadi antara aku dan Bilqis, tapi aku tahu jika aku harus melewatinya, jadi tolong, aku mohon tolong jaga Bilqis dengan baik” ujar Maryam, masih sambil mengelus kepala Bilqis, kemudian menolehkan tatapan matanya keadaan Hasan bersamaan dengan air mata yang ikut menetes dari pelupuk matanya juga.