Sembunyi, mungkin hal itu sudah tidak berat lagi Maryam lakoni dalam hidupnya, karena hampir 19 tahun dia menjalani hidupnya dalam persembunyian. Meskipun pada awalnya Maryam berpikir jika kisah dalam persembunyian tidak akan dia alami setelah pergi ke Jerman, tapi ternyata semua tetap kembali seperti semula, dia harus bersembunyi dalam sebuah kejaran bukan hanya untuk kebaikannya tapi juga untuk kebaikan Bilqis, karena jika sampai dia tertangkap, maka dia akan berpisah dengan Bilqis.
“Bilqis kenapa sayang ? tumben hari ini Bilqis rewel sekali, kenapa ?” tanya Maryam, sambil menimang – nimang tubuh Bilqis yang saat itu sedang menangis.
Tidak tahu karena alasan apa, tapi di hari ke tiga Maryam tinggal di Singapore, Bilqis benar – benar menangis tidak henti – henti, dia bahkan tidak mau lepas dari gendongan Maryam, dan saat itu Maryam sendiri tidak bisa memahami apa yang sebenarnya Bilqis inginkan. Saat itu, Maryam juga sudah mengecek suhu tubuh Bilqis, tapi keadaan anak itu normal tidak demam sedikitpun, karena biasanya Bilqis rewel saat dia sedang sakit, itupun tidak serewel yang saat itu sedang terjadi.
“Tenang ya sayang, Bunda di sini bersama Bilqis, tenang ya” ujar Marya, sambil menatap mata putrinya yang saat itu sedang menatap mata Maryam juga dengan tatapannya yang sulit didefinisikan.
“Kenapa sayang, ini Bunda di sini memeluk Bilqis sejak tadi, tenang ya sayang” lanjut Maryam, sambil mengecup pipi gembil Bilqis dengan penuh kasih sayang.
Kemudian, Maryam kembali menimang – nimang tubuh Bilqis lagi sambil menyenandungkan shalawat, berharap saat itu Bilqis akan tenang dan tidak rewel – rewel lagi. Hingga akhirnya, suara dering panggilan dari ponselnya, yang ternyata itu adalah panggilan video dari Jenifer yang baru menghubunginya lagi setelah dia tinggal di Singapore. Bibir Maryam seketika langsung menyunggingkan senyuman, karena dia juga merindukan Jenifer, sedangkan dia tidak bisa menghungi siapapun sesuai perkataan Jenifer.
“Bagaimana kabar kalian sayang – sayang ku ? kalian betah tinggal di sana ?” tanya Jenifer untuk pertama kalinya saat Maryam sudah mengangkat panggilan video call tersebut.
“Sayang, lihat Grandma Jen menelpon, kamu mau bicara ?” ujar Maryam, kepada Bilqis yang saat itu sudah tampak tenang dalam gendongannya.
Kemudian, Maryam mengarahkan layar ponselnya pada wajah Bilqis membuat Jenifer bisa melihat wajah Bilqis dengan jelas. “Aku lagi rewel, hari ini mood ku lagi gak baik Grandma Jen” ujar Maryam, seakan mewakili Bilqis yang pada kenyataannya memang belum bisa bicara, selain itu Bilqis juga terlihat diam tidak seceria biasanya ketika dia bertemu Jenifer.
“Cucu Grandma kenapa sayang, jangan rewel – rewel ya, kasihan sayang nanti Bunda sedih” ujar Jenifer, mengajak Bilqis yang saat itu masih tampak diam untuk bicara.
Sadar jika saat itu Bilqis masih belum mau diajak berinteraksi oleh Jenifer karena tidak memberikan respon apapun, akhirnya Maryam kembali mengarahkan handphone ke wajahnya lagi. Tidak bisa bertukar kabar setiap hari bersama Jenifer dengan permasalahan yang sedang menjeratnya di Jerman, Maryam merasa tidak tenang.
“Tan, saat nanti aku sudah benar – benar tidak bisa sembunyi lagi, aku mohon tolong jaga Bilqis dengan sebaik mungkin, katakan padanya jika aku sedang pergi untuk sekolah lagi, katakan padanya jika aku sangat mencintainya” ujar Maryam berhasil membuat Jenifer sesaat terdiam.
“Kamu bicara apa ? kamu gak akan kemana – mana sayang, kamu akan tetap ada bersama kami dan menemani Bilqis tumbuh, jangan berpikir yang aneh – aneh, kamu tidak bersalah dan kamu tidak akan dipenjara, ingat itu” ujar Jenifer, dengan tegas seakan menampik perkataan Maryam dengan kalimatnya yang begitu yakin jika Maryam tidak akan tertangkap.
Maryam tahu, apa yang Jenifer katakan hanyalah sebuah kebohongan yang sengaja perempuan itu katakan untuk menenangkannya, Maryam tahu Jenifer tidak ingin Maryam tahu bagaimana sebenarnya perkembangan kasusnya. Hanya saja, Maryam tahu jika kini dia sudah dinyatakan sebagai tahanan sementara berdasarkan saksi dan bukti dari Alexa, dan pihak polisi sedang melakukan pencarian terhadap dirinya, dan Maryam yakin cepat atau lambat mereka pasti akan menemukan persembunyiannya sekalipun Maryam sudah melakukan penyamaran dan pindah negara.
“Aku tahu Tan, sekarang aku adalah buronan, aku dinyatakan sebagai tahanan sementara berdasarkan bukti dan kesaksian Kak Alexa, dan besok mereka akan melakukan gelar TKP di rumah untuk memperkuat bukti yang diberikan oleh Kak Alexa” ujar Maryam, masih berusaha tersenyum meskipun saat itu sebenarnya dia sudah sangat ingin menangis.
“Jadi, jika suatu hari aku benar – benar tertangkap, tolong, tolong jaga Bilqis untuk ku” lanjut Maryam, dengan senyuman ketenangan yang berusaha dia tunjukan kepada Jenifer dan hal itu justru berhasil membuat Jenifer meneteskan air matanya.
“Kamu tidak akan kemana – mana Maryam, Kakak pastikan kamu akan selalu berada di dekat Bilqis, menjaga dan menemani dia, karena Bilqis pasti akan selalu membutuhkan kamu, ibunya”
Selama beberapa saat, Maryam terdiam saat dia melihat kemunculan sosok yang tidak pernah dia sangka, sosok yang belakangan masih sering hadir dalam ingatnya dan selalu berusaha Maryam lenyapkan kenangnya untuk menghargai sosok suaminya. Sosok yang diakhir pertamuannya Maryam usir dan dia minta untuk jangan datang dihadapannya lagi, tapi kini laki – laki itu justru muncul dalam sambungan video call dirinya dan Jenifer, dengan begitu Maryam juga jadi tahu jika Hasan pasti membantu Jenifer malakukan pencarian bukti di rumahnya.
“Jangan pernah berpikir pergi meninggalkan Bilqis, bagaimana bisa dia hidup tanpa ada kamu di sampingnya, tugas kamu sekarang adalah bersabar, ikhlas, dan berdo’a, minta kepada Allah untuk dibukakan jalan agar kamu bisa terbukti tidak bersalah, paham ?” tanya Hasan, dengan tatapan penuh keseriusan yang terpancar dari tatapan matanya.
Tidak tahu karena apa, tapi melihat Hasan, melihat betapa perhatiannya laki – laki itu, air mata yang sejak tadi mampu Maryam tahan agar tidak jatuh dihadapan Jenifer, akhirnya tumpuh dihadapan Hasan dengan isak tangis memilukan. Pertahanan Maryam yang sejak tadi berusaha terlihat tenang akhirnya runtuh dihadapan laki – laki yang sudah membersamai hampir seumur hidupnya.
“Pap… paaaaaapa,” Maryam langsung menoleh kearah Bilqis yang saat itu tiba – tiba tersenyum seakan dia bahagia mengetahui ayahnya sedang menelpon.
Hasan yang saat itu mendengar celoteh Bilqis ikut merasa senang, laki – laki itu benar – benar tidak mampu menyembunyikan sirat kebahagiaan yang terpancar dari matanya. Kemudian, Maryam mengarahkan handphonenya kewajah Bilqis sehingga membuat sepasang anak dan ayah itu bisa saling bertegur sapa melalui sambungan telepon. Saat itu, tidak tahu kenapa, tapi Maryam merasa mood Bilqis berubah menbaik tepat setelah dia mendengar suara Hasan. senyuman yang sejak tadi tidak terbit dari bibir Bilqis kini tampak tercetak dari bibir kecilnya saat dia berbincang bersama Hasan.
“Kamu tenang di sana, di sini aku dan Tante Jenifer dan Tante Naomi juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuktikan jika kamu tidak bersalah” ujar Hasan, sambil mengalihkan kamera pada Jenifer dan Naomi secara bergantian.
“Jaga diri kalian baik – baik, dadah sayang …” ujar Hasan, sambil melambaikan tangannya menatap Bilqis, kemudian mengalihkan tatapan matanya pada Maryam hingga akhirnya sambungan teleponnya terputus.
Sesaat, Maryam terdiam sambil menatap wajah putri kecilnya dengan senyum yang mengembang diwajahnya. Saat itu Maryam benar – benar tidak habis pikir dengan putrinya, sejak pagi dia sangat rewel, tapi dalam hitungan detik dia langsung terlihat ceria setelah bicara bersama Hasan.
“Kangen ya sama Papah Hasan ?” tanya Maryam, sambil mengelitiki perut bayi itu hingga membuat dia tertawa khas bayi karena kegelian.
Melihat tawa Bilqis, lagi – lagi Maryam jadi berpikir, bagaimana jadinya jika suatu hari takdir benar – benar memisahkan dia dengan Bilqis, saat itu Maryam bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia mampu melewati harinya dengan tenang tanpa adanya Bilqis bersama dia.
Setelah itu, Maryam langsung membawa Bilqis ke dalam dekapannya, mencium aroma putrinya, karena tidak tahu kenapa saat itu Maryam seakan mempunyai firasat jika dia akan berpisah dengan Bilqis.
***
“Tidak ditemukan sidik jari siapapun dalam alat penumbuk ramuan dan piasu kater yang ditemukan, meskipun saat diuji alat itu memang benar – benar alat yang digunakan untuk meracik racun alami yang menyebabkan Tuan Adler tiada, sepertinya orang yang menggunakan alat itu sudah memprediksi hari ini akan terjadi” ujar Pengacara Jenifer saat mereka sedang melakukan pertemuan untuk membahas bukti yang ditemukan di rumah Maryam dan Adler.
“Besok, pihak kepolisian akan datang untuk melakukan gelar TKP di rumah Maryam, dan untuk sementara Maryam dinyatakan sebagai tahanan sementara sehingga selama penyidikan seharusnya Maryam berada dipenjara” lanjut Pengacara, sambil menghela nafasnya terlebih dahulu.
“Sekarang, tidak ada apapun yang bisa kita lakukan selain berdoa semoga besok pihak kepolisian tidak menemukan bukti yang semakin menyudutkan nyonya Maryam, tapi justru mereka akan menemukan bukti yang membebaskan Nyonya Maryam” lanjut Pengacara, yang mendapatkan anggukan kepala dari Alexa dan Hasan yang saat itu ikut datang untuk mendengar penjelasan yang akan disampaikan pengacara.
Sedangkan Naomi, perempuan itu tidak bisa ikut datang karena ayahnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kakek Aland sedang berada di rumah, jika dia ikut datang dia takut akan membuat ayahnya curiga, karena selama ini dia bergerak ikut membantu mencari bukti untuk membebaskan Maryam memang diam – diam.
“Aku yakin masih ada alat lain yang tertimbun di rumah itu, karena tidak mungkin Alexa membuat racun Alami tanpa bantuan alat canggih untuk memprosesnya, karena saat racun itu diberikan pada Adler aku yakin jika racun itu sudah tidak berbau dan memperlihatkan warna yang bening, karena jika racun itu masih berbau dan memperlihatkan warna yang aneh Adler pasti akan curiga dan tidak akan mau meminumnya,” perkataan Hasan berhasil membuat Jenifer dan pengacara menoleh, karena pada kenyataannya apa yang Hasan katakan sangat benar.
“Pasti ada bukti lain yang belum di temukan, kita hanya perlu berusaha lebih keras, dan kita juga berdoa semoga pihak kepolisian besok bisa menemukan bukti dalam gelar TKP yang akan dilakukan di rumah Maryam” lanjut Hasan, berhasil membuat Jenifer dan pengacara mengangguk – angguk setuju.
“Kamu benar …” jawab Jenifer, dengan tatapan kosong seakan saat itu dia juga sedang berpikir.
Dering ponsel yang masuk melalui handphone Jenifer berhasil mengalihkan perhatian mereka. Ternyata itu adalah panggilan telepon dari Naomi, yang ada dalam pikiran Jenifer, Naomi menghubunginya karena hanya ingin tahu saja mengenai bagaimana perkembangan pencariannya untuk mencari bukti Maryam. Hanya saja, tepat saat Jenifer mengangkat sambungan telepon, saat itulah Maryam mendengar Naomi sangat khawatir dan panik, seakan ada sesuatu yang darurat dan bahaya.
“Daddy diam – diam mengambil ponsel ku dan sepertinya dia memeriksa pesan chat aku dan kamu, karena tadi pagi dia dan anak buahnya pamit pergi ke Singapore, dan sepertinya tujuan dia pergi ke Singapore adalah Maryam” Jelas Naomi, dengan suaranya yang saat itu terdengar panik.
Selama beberapa saat Jenifer terdiam, dia berusaha merenungkan apa yang baru saja Naomi katakan, otaknya seakan langsung berpikir untuk mencari jalan lain jika dalam waktu kilat kakek Aland bisa menemukan rumah Maryam. Karena meskipun Maryam sudah menyamar dengan mengganti namanya, tapi Jenifer merasa dengan kekuatan yang dia punya, bukan hal yang tidak mungkin jika kakek Aland akan menemukannya.