Memulai perjuangan baru, itulah yang Hasan lakukan karena saat itu dia merasa jika dia memutuskan untuk pergi menuruti seperti yang Maryam inginkan, adalah bukan waktu yang tepat, karena sekarang Maryam dan Bilqis sedang berada dalam keadaan yang tidak aman. Jadi Hasan merasa jika dia perlu mengamankan dan memastikan keadaan Maryam dan Bilqis dulu sebelum akhirnya dia memutuskan untuk benar – benar pergi meninggalkan mereka.
“Aku harap hari ini aku bisa menemukan kamu Maryam, aku benar – benar khawatir dengan keadaan mu dan Bilqis, kemana sebenarnya kalian, kenapa tiba – tiba menghilang” gumam Hasan, sambil memperhatikan jalan karena saat itu dia memang sedang mengendarai mobil menuju rumah Maryam.
Meskipun beberapa hari lalu sebelum dia sakit karena ulah anak buah kakek Aland yang mengeroyok Hasan pernah menemukan keadaan rumah Maryam sangat sepi, tapi kali ini Hasan masih memutuskan untuk mencoba mengeceknya kembali, dia berangkat dengan harapan besar jika sekarang dia akan menemukan Maryam dan Bilqis di sana.
“Kamu dan Bilqis harus berada dalam keadaan yang baik dana, karena keamanan kalian adalah rasa tenang bagi ku” gumam Hasan, sambil menginjak rem dan menyandarkan kepalanya pada jok mobil dengan mata terpejam saat dia sudah tiba di depan rumah Maryam.
Kemudian, Hasan keluar dari dalam mobilnya, karena saat itu Hasan memang bertekad jika dia akan masuk ke dalam rumah Maryam secara paksa, untuk memastikan jika perempuan itu memang benar – benar tidak ada di dalam rumahnya, atau hanya sedang bersembunyi di dalam rumahnya itu. Namun, dahi Hasan seketika berkerut bingung saat dia melihat ada sebuah mobil di dalam gerbang rumah Maryam, hal itu berhasil membuat Hasan penasaran hingga akhirnya membuat dia melangkah lebih cepat.
“Maryam … Bilqis … apa kalian di dalam ?” tanya Hasan, dari luar rumah saat dia melihat pintu rumah tanpa sengaja terbuka karena tanpa sengaja tertiup oleh angin.
Saat itu, tidak ada sahutan apapun yang Hasan dengar dari dalam, jadi dengan sedikit memantapkan keyakinan, pelan – pelan Hasan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, mulai mencari Maryam di setiap ruangan yang dia temui di dalam rumah, karena sejak tadi dia memanggil – manggil nama Maryam, masih belum mendapat sahutan, padahal sudah jelas jika rumah itu sedang di masuki seseorang.
“Tante Jenny ?” panggil Hasan, dengan dahi berkerut saat dia melihat Jenifer berada di sebuah kamar dan saat itu dia terlihat sedang mencari sesuatu.
Sesaat Jenny menoleh, tapi sesaat kemudian, Jenifer kembali fokus pada pekerjaaannya yang saat itu terlihat sedang mencari sesuatu seakan saat itu dia tidak peduli dengan kemunculan Hasan. Hingga akhirnya, karena penasaran Hasan berjalan mendekat untuk memastikan tentang apa yang saat itu sebenarnya sedang Jenifer cari.
“Untuk apa kamu datang ke sini ? mencari Maryam dan Bilqis ? lebih baik berhenti mencari dia jika kamu hanya datang dalam hidup Maryam untuk merecokinya saja ? permasalahan hidup dia sudah banyak, jadi kamu jangan menambahnya lagi” ujar Jenifer, ssambil menoleh kearah Hasan dengan tatapan yang terlihat dingin kemudian keluar dari ruangan kamar satu dan berjalan menuju ruangan lain yang ternyata sebuah kamar juga.
Mendengar perkataan Jenifer, Hasan langsung berjalan mengikuti Jenifer. Saat itu, Hasan merasa jika dia harus meluruskan suatu hal dengan Jenifer, karena pada kenyataannya, Hasan tidak pernah bermaksud membebani hidup Maryam, dia selalu datang dengan tujuannya yang sama, yaitu melindungi Maryam dari semua hal yang menurut Hasan berbahaya baginya.
“Apa kamu tahu diamana Maryam?” tanya Hasan, yang saat itu tidak langsung mendapat tanggapan apapun dari Jenifer.
“Tolong beritahu aku dimana Maryam berada ? aku harus memastikan bagaimana keadaan dia terlebih dahulu, dengan begitu aku akan merasa tenang” ujar Hasan, saat dia sudah berdiri tepat didekat Maryam.
Namun, saat itu tidak ada jawaban yang Jenifer katakan. Perempuan itu memilih diam, berpura – pura seakan dia tidak ada Hasan yang saat itu sedang bertanya padanya. Dia hanya sibuk mengobrak abrik isi kamar mencari sesuatu yang sejak tadi berusaha dia cari tapi tidak kunjung ditemukan.
“Ini …” gumam Jenifer, saat dia mendorong lemari dan menemukan sebuah alat sederhana berbentuk mangkuk yang Jenifer tahu biasanya digunakan sebagai alat sederhana untuk menumbuk obat.
Selama beberapa saat, perempuan itu terdiam. Dia menatap sekeliling kamar, berusaha memastikan jika dia menemukan barang itu bukan di kamar Maryam. Kemudian, dia berjongkok memperhatikan dan menelisik barang itu secara pasti lebih dulu. Kemudian, menggunakan sarung tangan steril yang sudah sengaja dia siapkan sebelum datang, Jenifer mengambil barang itu dan mencium aromanya. Karena memang, wadah itu terlihat kotor, sepertinya setelah digunakan belum sempat dibersihkan. Kemudian, dengan cepat Jenifer segera menghubungi pengacaranya, karena saat itu barang yang dia temukan pasti akan sangat membantu Maryam pelan – pelan terlepas dari jeratkan kasus tuduhan pembunuhan pada Adler.
“Bapak bisa datang ke rumah tersangka sekarang, saya sedang berada di sana dan menemukan sesuatu yang sepertinya bisa dijadikan sebagai barang bukti” ujar Jenifer, pada sosok pengacaranya.
“…”
“Baik, saya tunggu” ujar Jenifer, kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Hasan, yang baru saja mendengar perbincangan Jenifer dengan seseorang melalui sambungan telepon, sedikit memahami apa sebenarnya yang saat itu sedang Jenifer lakukan di rumah Maryam dan Adler sebelumnya. Mencari barang bukti, itulah yang Jenifer lakukan, barang bukti apa ? Hasan yakin barang bukti itu pasti untuk membuktikan jika Maryam tidak bersalah.
Saat Hasan hendak memulai pembicaraan dengan Maryam. Namun, tiba – tiba dari depan terdengar ada sebuah mobil berhenti, kemudian tidak lama terdengar ada orang yang masuk ke dalam rumah. Hasan, langsung berjalan keluar dari kamar, selama beberapa saat dia terdiam, merasa kaget karena ada beberapa orang berpakaian serba hitam yang sangat Hasan tahu itulah adalah anak buah dari kakek Maryam.
“Apa yang kalian lakukan di sini ?” tanya Hasan, dengan tenang.
“Mencari pembunuh kejam berkedok alim, mencari sosok cucu yang ternyata adalah seorang pembunuh dan menghancurkan nama baik ku,” Hasan, menoleh kearag belakang tepat dimana ada seorang laki – laki yang sudah terlihat renta, tapi sirat ketegasan dan kekejaman masih terlihat begitu nyata dari pancaran matanya.
Hasan, tersenyum kecut mendengar perkataan kakek Aland, saat itu seakan dengan semua keberanian yang masih belum lenyap dari dalam diri Hasan sekalipun sudah berkali – kali mendapat penganiayaan dari sosok laki – laki tua itu. Hasan menertawakan dia secara terang – terangan dihadapannya secara langsung.
“Betapa lucunya adan Tuan Aland, percayalah selama kamu hidup kamu tidak akan menemukan kebahagiaan mu, karena kamu sudah merenggut kabahagiaan orang – orang yang jutru mencintaimu” ujar Hasan, tenang.
“Kau, membunuh putra mu yang sangaat begitu menghormati mu, kau begitu egois memaksakan kehendak mu padanya yang bahkan saat itu sudah mempunyai pilihan hidupnya sendiri, kau adalah orang yang berpengaruh besar atas penyebab kematian Kak Alaric” lanjut Hasan, masih dengan tenang dan kepala tertunduk, karena setiap kali membahas tentang Alaric, tidak tahu kenapa hati Hasan masih sering di peluk rasa sedih mengingat dia sudah tidak ada lagi di dekatnya.
“Kini, kamu justru menuduh cucu mu membunuh suaminya yang sangat dia hormati, coba pikirkan oleh mu tuan, apakah itu mungkin ? Maryam dengan segala kelembutan hatinya membunuh suami yang sangat dia hormati, semua itu jauh dari kata mungkin, ini sungguh lucu kau yang nyatanya membunuh putra mu, malah menuduh cucu mu yang tidak mungkin melakukan pembunuhan, bercerminlah !” ujar Hasan, sambil menoleh kearah kakek Aland dengan tatapannya yang terlihat menajam dan suaranya yang terdengar menegas.
“KAU !!” ujar kakek Aland, sambil menunjuk Hasan, karena saat itu dia sudah pasti merasa kesal sekaligus marah mendengar semua perkataan yang baru saja Maryam katakan.
“Beri dia pelajaran agar mulutnya tidak kurangajar,” hanya dengan satu intruksi, mereka semua langsung menyergap tubuh Hasan. salah satu diantara mereka memegang tangan Hasan kemudian tiga diantaranya memukuli Hasan.
Sadar, jika saat itu Hasan sedang dalam masalah, Jenifer langsung menyembunyikan barang bukti yang dia temukan. Kemudian, keluar untuk menghentikan semua yang terjadi. Karena, meskipun pada kenyataannya Jenifer tidak begitu akrab dengan Hasan, dan belakangan dia di buat kesal oleh Hasan karena pertamuan Maryam bersama dia yang Maryam tidak ketahui, membuat Maryam bertengkar dengan Adler, tapi Jenifer tahu jika sampai terjadi sesuatu pada Hasan, Maryam pasti akan sedih, dan Jenifer tidak ingin hal itu terjadi.
“Berhenti menyakiti dia, atau kasus kematian Alaric akan aku perkarakan ditambah dengan kasus ini akan aku sebar di khayalak umum Tuan Aland, dan jika video ini benar – benar tersebar bukan hanya nama mu yang tercoreng, tapi wajah mu akan benar – benar ternadoi oleh sikap mu yang busuk” ujar Jenifer, sambil memperlihatkan video yang saat itu sempat dia ambil ketika anak buah kakek Aland sedang memukuli Hasan.
Sesaat, kakek Aland tersenyum kecut, kemudian dia memalingkan wajahnya. “Kamu pikir aku takut dengan ancaman mu itu ? untuk apa uang ku yang begitu melimpah aku miliki jika semua uang itu tidak bisa membantu ku terlebas dari jeratan kasus hukum sekecil itu” ujar kakek Aland, tapi hal itu tidak berhasil sedikitpun meruntuhkan pertahanan Jenifer.
“Pergi, kita cari anak itu di tempat lain” ujar kakek Aland, saat dia merasa jika Maryam tidak ada dirumahnya.
Hasan, yang saat itu masih terlihat lemas setelah dipukuli, langsung di lepaskan secara kasar sehingga membuat tubuhnya ambruk ke lantai dengan nafas yang gos – gossan, keringan yang bercucuran, dan beberapa luka memar dibagian wajahnya. Melihat hal itu, Jenifer langsung membantunya, karena saat itu Hasan memang benar – benar terlihat tidak berdaya.
“Jangan gaya – gayaan mau ngelawan mereka, karena jelas selain kalah jumlah kamu juga kalah kekuasaan dengan dia” ujar Jenifer, sambil memapah Hasan untuk berpindah duduk pada sofa yang ada diruang tamu.
“Dimana Maryam dan Bilqis ?” tanya Hasan, dengan suaranya yang masih terengah,
Jenifer yang saat itu sudah melangkahkan kakinya hendak mengbil kotak obat sesaat terhenti saat dia mendengar pertanyaan Hasan yang tidak berubah tepat dari mulai dia datang bahkan setelah dia dipukuli. Kemudian, Jenifer, memilih untuk melanjutkan langkahnya tanpa berniat menjawab pertanyaan Hasan terlebih dahulu.
“Tolong katakan pada ku jika mereka memang baik – baik saja, jika memang kamu tidak mau memberi tahu ku tentang keberadaan mereka” ujar Hasan, sambil memundurkan kepalanya saat Jenifer hendak membersihkan luka – luka diwajah Hasan.
“Ya, mereka akan aman dan baik – baik saja selama kamu tidak mengusik keberadaan mereka, jika memang kamu peduli kepada Maryam, maka tetaplah bersikap tenang, jika memang kamu yakin Maryam tidak melakukan kasus pembunuhan, maka bantulah dia untuk membuktikan jika dia memang tidak bersalah” ujar Jenifer, sambil mulai membersihkan luka – luka di wajah Hasan dengan penuh kehati – hatian.
“Ya, aku pasti akan buktikan jika Maryam tidak mungkin terlibat dalam sebuah kasus pembunuhan” ujar Hasan, sambil menatap langit – langit ruangan.
“Dia terlalu lembut untuk melakukan sebuah kasus pembunuhan seperti itu, dan dia terlalu polos untuk merencanakan sebuah kasus pembunuhan sedetail itu” ujar Hasan, yang diangguki oleh Jenifer, karena pada kenyataannya, apa yang Hasan katakan memang benar.