Dengan semua kesabaran, ketekutan, dan keikhlasn akhirnya Hasan bisa kembali berjalan setelah melawati terapi, kakinya yang sempat tidak berfungsi akhirnya bisa kembali dia gunakan untuk berjalan lagi. Tidak ada lagi kursi roda yang dia gunakan untuk berjalan, karena kini tuhan sudah mengembalikan fungsi kakinya.
“Bun, aku mau pulang” ujar Hasan, sambil menoleh menatap kearah Risa yang saat itu sedang duduk disampingnya.
“Kak, kamu baik – baik aja kan ?” tanya Risa, sambil menggenggam tangan Hasan dan menatap mata putranya dengan dalam berusaha memastikan secara langsung bagaimana keadaann putranya.
Sesaat Hasan terdiam, kemudian dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, berusaha menutupi apapun yang saat itu sedang dia rasakan. Karena Hasan, sudah tidak ingin memberikan beban kepada ibunya, adiknya, dan ayahnya, Hasan merasa selama dia sakit, dia sudah cukup menyusahkan, jadi setelah dia dinyatakan sembuh dia tidak akan lagi membiarkan mereka menanggung semua bebannya.
“Jujur dan katakan pada Bunda, apa yang sekarang kamu pikirkan, apa yang sekarang kamu rasakan ?” tanya Risa, sambil mengeratkan genggaman tangannya saat Risa tahu jika saat itu putranya sedang berbohong.
“Aku baik – baik aja Bun, cuma lagi mikir aja tentang konsep pembangunan perusahaan baru aku sama Kiano, kamikan sebentar lagi akan membangun perusaha yang beragerak dalam operasi jaringan sebagai anak perusahaan ku yang ada di Indonesia, aku juga lagi mikir apa perusahaan ini nanti akan mengalami kemajuan yang cukup pesat seperti perusahaan ku yang ada di Indonesia, rasanya sekarang aku benar – benar gak sabar sekaligus degdegan menunggu bagaimana hasilnya, sama seperti ketika aku akan membangun perusahaan ku yang ada di Indonesia dulu” ujar Hasan, sambil tersenyum berusaha mengatakan kegundahan hatinya, meskipun saat itu Hasan tahu bukan kegundahan hatinya yang itu yang ibunya tanyakan.
Risa mencubit pipi putranya yang sudah sangat dewasa itu, kemudian dia melukiskan senyuman mendengar Hasan mengatakan jika dia sedang berdebar – debar karena takut dengan perkembangan perusahaannya yang akan segera didirikan bersama Kiano. Padahal, saat itu yang Risa tanyakan adalah tentang bagian hatinya, tentang perasaan lukanya, tentang semua sakit dan lukanya.
“Jangan menyimpan semua sakit mu sendiri Kak, di sini ada Bunda yang tidak akan pernah meninggalkan kamu, Bunda akan di sini menjadi orang pertama yang akan selalu mendukung kamu, dan Bunda yakin kamu paham kemana arah pembicaraan yang Bunda maksudkan tadi” ujar Risa, berhasil membuat senyuman semakin terlukis lebar di bibir Hasan.
Namun, saat itu Risa tahu, jika senyuman yang saat itu Hasan tunjukan, senyuman yang terlukis begitu lebar dari bibir Hasan. Hanyalah senyuman dusta yang Hasan tunjukan untuk membuatnya merasa tenang. Karena jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam, perasaan Hasan pasti sudah hancur, dan Risa tidak tahu apakah saat itu Hasan sudah kembali mengumpulkan kepingan hatinya atau masih berantakan dan tercepai berai.
“Aku tidak papa, aku hanya ingin pulang ke Indonesia” ujar Hasan, sambil tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Risa.
Setelah itu, tidak ada pembicaraan apapun yang lagi antara Risa dan Hasan, karena saat itu Risa merasa jika Hasan belum mampu menceritakan apa yang saat itu ingin Risa dengar, jadi yang Risa lakukan saat itu hanya bisa berdoa semoga semua luka yang putranya terima akan segera sembuh dan dia bisa kembali baik – baik saja.
Risa dan Hasan langsung sama – sama fokus menatap kearah televisi saat mereka mendengar sebuah berita tentang kematian seorang pengusaha muda menantu pengusaha besar yaitu Aland Friendrick yang diduga karena keracunan alami oleh istrinya sendiri dan setelah itu disebutkan inisial namanya.
“MAPA, Maryam Aisya Putri Alaric” gumam Hasan, menyebut inisial nama yang di sebut oleh presenter tadi dan mencocokannya dengan nama Maryam.
“Ini gak mungkin Bun, mana mungkin Maryam berani melakukan kasus pembunahan seperti ini, ini sangat mustahil” ujar Hasan, sambil bangkit dari posisi duduknya membuat Risa ikut bangkit juga karena selain Hasan dia juga merasa tidak percaya dengan berita yang baru saja dia dengar.
“Kak mau kemana ?” tanya Risa, saat dia melihat Hasan beranjak pergi. “Aku mau memastikan keadaan Maryam, dia pasti sedang gak baik – baik aja Bun” ujar Hasan, sambil kembali berbalik untuk pamit pada Risa kemudian menyambar kunci mobil milik Kiano yang saat itu tergeletak diatas meja.
Mulut Risa sudah hendak kembali terbuka untuk melarang Hasan pergi sendiri dan mengendarai mobilnya sendiri, karena Risa masih merasa khawatir pada keadaan Hasan yang baru saja sembuh. Namun, belum sempat Risa melarang Hasan sudah benar – benar pergi, sehingga tidak ada yang bisa Risa lakukan saat itu selain mendoakan Hasan agar putranya itu bisa dilindungi dalam keselamatan dan bisa memberikan bantuan kepada Maryam yang saat itu pasti sedang mengalami kesulitan.
***
Hasan menatap bangunan rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal Maryam bersama Adler yang saat itu sudah penuh dikerubuni oleh banyak wartawan, tapi yang Hasan lihat sepertinya rumah itu sudah terlihat kosong karena terlihat dari gerbangnya yang tampak di gembok dan kaca – kacanya masih terlihat di tutup tirai padahal saat itu sudah cukup siang. Kemudian, Hasan melanjutkan perjalanannya menuju sebuah rumah yang terakhir kali dia datangi berhasil membuatnya babak belur.
Rumah kakek Aland, adalah tujuan Hasan. karena Hasan pikir mereka adalah keluarga Maryam, jadi kemungkinan besar disanalah Maryam berada untuk meminta perlindungan.
Tidak lama, hanya 15 menit perjalanan yang Hasan lalui dan dia sudah tiba di kediaman kakek Aland yang ternyata sudah ramai oleh wartawan juga. Selama beberapa saat, Hasan memilih bertahan di dalam mobil berharap para wartawan itu pergi, tapi sepertinya semua itu hanya akan terjadi dalam hayalnya saja.
“Dia keluar” gumam Hasan, sambil menegakan posisi duduknya di dalam mobil saat melihat kakek Aland berjalan keluar dan menghampiri para wartawan ditemani oleh beberapa orang bodyguard yang menjaganya di samping dan belakang.
“Sebagai kakek dari Maryam Aisyah Putri Alaric, bagaimana tanggapan anda mengenai kasus yang sedang dituduhkan pada cucu anda tuan ?” ujar salah seorang wakratawan, menggunakan bahasa lokalnya kepada kakek Aland yang saat itu baru saja keluar.
“Tentu aku tidak akan langsung mempercayainya, karena cucu ku adalah putri yang sangat baik dan lembut, dia tidak mungkin melakukan kasus pembunuhan terlebih kepada laki – laki yang sangat dicintainya, tidak ada satupun keturunan dari Friendrick yang memiliki darah pembunuh, karena selama ini kami di kenal karena prestasi, kecerdasan, dan kakayaan yang kami miliki, bukan di kenal dari kasus pidana yang saat ini terjadi” ujar kakek Adler, menjawab perkataan dari wartawan tadi.
Setelah itu, banyak pertanyaan dari para wartawan dan sudah beberapa kakek Aland jawab juga. “Lalu apa yang akan anda lakukan terhadap nona Maryam jika dia benar – benar dinyatakan sebagai pembunuh suaminya sendiri, dan apa yang akan anda lakukan pada Bilqis ana yang katanya bukan anak sah dari pernikahan nona Maryam dan suaminya melainkan anak dari hasil perselingkuhan” ujar salah satu Wartawan, berhasil membuat kakek Aland terdiam selama beberapa saat.
Mendengar pertanyaan yang disampaikan oleh Wartawan, Hasan jadi sama penasarannya dengan bagaimana tanggapan kakek Aland, terlebih Bilqis memang bukan anak dari pernikahan yang sah. Jadi, Hasan ingin tahu tentang apa yang kakek Aland lakukan, setidaknya dengan begitu Hasan tahu pergerakan apa yang harus dia lakukan kedepannya demi menyelamatkan Bilqis.
Sesaat, kakek Aland tersenyum kecut mendengar pertanyaan itu. “Sudah pasti aku akan menghapus Maryam dari hak waris keluarga ini karena dia sudah benar – benar mencorang nama baik dan nama besar keluarganya, dan untuk anak itu, aku rasa tidak ada yang lebih pantas aku lakukan padanya selain tidak menganggapnya sebagai bagian dari keluarga Friendrick juga, mungkin akan jauh lebih baik jika dia hidup dijalanan karena dia adalah anak hasil dari perbuatan yang kotor” ujar kakek Aland, berhasil membuat Hasan tanpa sadar merasa sangat – sangat kesal.
Sementara kakek Aland, memilih langsung berbalik setelah dia merasa cukup sudah menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan para wartawan. Dia seakan tidak peduli pada panggilan beberapa wartawan yang saat itu masih merasa belum puas dengan pertanyaan yang diajukannyannya. Hingga akhirnya, tubuh kakek Aland tiba – tiba jatuh terjerembab saat seseorang mendorongnya dengan kasar dari arah belakang.
Hasan dialah pelakukanya, laki – laki itu langsung keluar dari mobil dan berlari menghampiri kakek Adler yang sudah berbalik hendak memasuki rumahnya lagi setelah dia selesai melakukan wawancara, kemudian dengan keberanian yang dia punya Hasan menerobos masuk pada gerbang yang saat itu sedang di tutup penjaga kemudian dia mendorong kakek Aland dengan sedikit kencang.
“Selama ini aku sudah cukup sabar membiarkan mu membawa Maryam, menahannya untuk tinggal di rumah mu yang megah tapi pasti akan seperti berada di dalam neraka bagi Maryam, aku sudah cukup bersabar membiarkan mu untuk menikahkan Maryam bersama laki – laki yang tidak dia cintai, dan sekarang aku sudah tidak bisa lagi bersabar saat kau dengan gampangnya mengatakan tidak akan mengakui Maryam setelah semua hal yang sudah kamu lakukan pada dia. Kau tahu Tuan Aland yang terhormat, karena mu selama 20 tahun dia hidup dalam persembunyian dan ketakutan, kau benar – benar sumber duka bukan hanya untuk mendiang putramu tapi juga untuk cucu mu !!!” ujar Hasan, penuh keberanian membuat kakek Aland menatapnya penuh emosi.
“Kamu sangat – sangat kurangajar, beri dia pelajaran !!” ujar kakek Aland, pada beberapa bodyguardnya yang setelah itu langsung memukuli Hasan tanpa rasa ampun atas perintah kakek Aland.
“Pukul saja sekerang yang kalian mau, pukul saja sebanyak yang kalian bisa, setidaknya sekeras dan sebanyak itulah aku akan balas menghancurkan bos mu itu !” ujar Hasan, dengan suaranya yang sudah terdengar lemah saat beberapa orang bodyguard masih memukuli tubuhnya.
Mendengar perkataan Hasan, mereka tentu semakin kesal, dan saat itu Hasan benar – benar tidak bisa melakukan perlawanan saat tubuhnya ambruk setelah dia berkelahi dan kalah jumlah dengan mereka. Hingga akhirnya, setelah tubuh Hasan benar – benar sudah tidak berdaya, mereka menyeret tubuh Hasan keluar dari gerbang dan membiarkannya begitu saja.
“Jika kalian tidak bisa melindungi Maryam dan Bilqis, biar aku yang melakukannya, tapi setelah itu jangan harap kalian bisa berbuat seenaknya lagi pada dia” ujar Hasan, sambil memegang dadanya kemudian berjalan dengan sedikit tertatih menuju mobilnya.
Setelah itu, Hasan melajukan mobilnya menuju apartemen tempat dia dan orang – orang yang disayanginya tinggal. Selama perjalanan yang cukup berjarak, Hasan sempat beberapa kali berhenti, hingga akhirnya mobil itu berhasil berhenti di basement apartemennya, kemudian dengan sisa tenaga yang dia miliki, Hasan langsung bergeges menuju unit apartemen tempatnya tinggal.
“Kak, Ya Allah lo kenapa ?” Kiano yang saat itu kebetulan membuka pintu langsung membantu Hasan dengan memapahnya menuju ruang tamu.
“Tante Risa, Kak Hasan babak belur abis tawuran” teriak Kiano, dengan wajahnya yang saat itu terlihat panik berhasil membuat Hasan tersenyum kecil sambil memukil ringan pipi Kiano.
Tidak lama setelah itu Risa, Alina, dan Kiana datang menghampiri Hasan, dengan wajah mereka yang terlihat sangat khawatir. Mereka terutama Risa dan Alina, langsung duduk di samping Hasan, jika Risa terlihat mengecek luka – luka Hasan, Alina justru malah menangis sambil memearahi Hasan dan menanyakan alasan mengapa dia bisa babak belur, tapi bukannya dijawab Hasan malah tertawa karena merasa gemas pada adiknya.
“Bun, sekarang aku mau di sini, mau kembali berjuang melindungi Maryam dan Bilqis, aku ingin memastikan mereka aman” ujar Hasan, sambil menatap wajah Risa.
“Berjuanglah Kak, Bunda tahu saat kamu memutuskan untuk berjuang saat itulah memang yang terbaik dan memang sudah seharusnya diperjuangkan, Bunda pasti akan selalu mendukung dan mendoakan” ujar Risa, membuat senyuman terbit dari bibir Hasan.