Istri mana yang tidak akan bersedih saat suaminya sendiri tiba – tiba tidak sadarkan diri tepat diatas lahunannya. Istri mana yang tidak akan merasa takut saat melihat suaminya yang tiba – tiba tidak sadarkan diri tepat didepan matanya sendiri. Karena, hakikatnya suami istri adalah keterikatan antara laki – laki dan perempuan yang saling mencintai dengan landasan percaya yang membuat mereka saling memiliki mengasihi satu sama lain.
“Kak Adler gak boleh kenapa – napa, Kakak harus baik – baik aja, ada banyak hal yang harus kita selesaikan sama – sama Kak, Kakak udah janji akan selalu ada bersama ku hingga kelak Bilqis menikah bahkan mempunyai anak dan kita akan menjadi Kakek dan Nenek mereka” ujar Maryam, sambil menatap Adler yang saat itu sedang terbaring di ruang ICU karena ternyata laki – laki itu mengalami gangguan pernafasan parah.
Saat itu, Maryam hanya bisa menatap tubuh Adler yang masih terbaring lemah di luar ruangan melalui sebuah kaca besar. Sebelumnya, Maryam tidak pernah menyangka jika keadaan Adler bisa tiba – tiba mengalami kritis, karena selama ini laki – laki itu terlihat baik – naik saja, hingga tiba – tiba dia datang meminta dibacakan Al – Quran kemudian tidak megalami kesadaran.
“Tenang sayang, semua akan baik – baik saja, Tante yakin Adler pasti akan bertahan karena dia mencintai kamu” ujar Jenifer, sambil merengkuh bahu Maryam dan membawa perempuan itu ke dalam dekapannya.
Saat itu, Maryam pikir akan menjadi malam pertama yang dia lalui bersama Adler sebagai semua istri seutuhnya, tapi ternyata malam itu menjadi malam pertama dimana Maryam harus melihat Adler terbaring dalam keadaan kritis. Tangisnya benar – benar tidak mampu dia tahan lagi, karena semua terjadi benar – benar secara tiba – tiba dan hal itu membuat Maryam merasa kaget sekaligus takut tentang semua kemungkinan buruk yang akan terjadi.
“Aku takut, aku takut Kak Addler pergi jauh meninggalkan aku Kak, padahal kami khususnya aku baru saja akan memulai, menatap semuanya dengan sebaik mungkin” ujar Maryam, sambil menatap Jenifer dengan matanya yang saat itu memang terlihat memancarkan ketakutan.
“Semua akan baik – baik saja, tenanglah lebih baik sekarang kamu pulang, kasihan Bilqis, dia pasti menunggu mu di rumah, biar tante yang menjaga Adler di sini” ujar Jenifer, sambil menghapus lelehan air mata dibalik cadar yang saat itu Maryam gunakan.
Bilqis, Maryam sejak tadi selain khawatir pada keadaan suaminya, Maryam juga memikirkan bagaimana keadaan anaknya yang dia tinggalkan hanya bersama Naomi. Saat itu, di satu sisi Maryam ingin pergi menemui anaknya, memeluk dia dan berharap hari esok dia bisa melihat Adler baik – baik saja, tapi di sisi lain keadaan seakan menampar Maryam karena pada kenyataannya Adler sedang berada dalam keadaan tidak baik – baik saja, bahkan saat itu Maryam masih berdoa jika besok pagi dia akan mendapat kabar baik dari Dokter mengenai keadaan Hasan.
“Aku ingin di sini menemani Kak Adler, Tan” ujar Maryam, dengan suaranya yang terdengar bergetar dengan tatapan matanya yang masih menyiratkan ketakutan.
Tidak ada yang bisa Jenifer lakukan saat itu selain membawa Maryam ke dalam dekapannya, berharap dengan cara itu Maryam akan bisa mendapatkan ketenangan atas rasa takut dan khawatir yang saat itu sedang dia rasakan.
“Padahal kemarin aku masih mendengar suara Kak Adler, suara dia yang sedang becanda, tertawa, tapi ternyata tadi adalah kali terakhirnya aku mendengar suara dia Tan, suara dia yang meminta ku membaca surat Al – Anbiya ayat 34 dan 35 yang didalamnya membahas tentang kematian, aku takut Tan, aku masih ingin bersama Kak Adler, ingin melihat senyum, tawa, dan candanya” ujar Maryam dengan tangisnya yang kembali pecah.
“Aku bahagia sayang, karena mala mini kamu bersedia menunaikan kewajiban kitas sebagai mana mestinya, aku bahagia sangat – sangat bahagia” ujar Adler, sambil mendongak dan tangannya mengelus pipi Maryam dengan penuh kelembutan.
“Malam ini lelah, d**a ku terasa sedikit sakit, bisakah kamu membacakan surat Al – Anbiya ayat 34 dan 35, aku ingin mendengarkannya” ujar Adler, sambil tersenyum memandang Maryam ketika dadanya terasa samakin sesak.
Setelah itu, Adler benar – benar kehilangan kesadarannya, sedangkan Maryam dengan suaranya yang sudah bergetar menepuk pelan pipi Adler, dia berharap saat itu Adler sedang berpura – pura untuk mengerjainya, dia berharap laki – laki itu terbangun karena berhasil menipunya. Namun, ternyata beberapa kali Maryam coba untuk bangunkan, dia tetap menutup mata, dia tetap tidak mau bangun dan tertawa.
“Bangun Kak, tolong jangan begini aku gak bisa, jangan buat aku takut” ujar Maryam, sambil memeluk kepala Adler yang saat itu sedang berada diatas lahunannya.
Sadar jika saat itu keadaan Adler benar – benar tidak baik – baik saja, Maryam langsung meminta bantuan kepada Naomi sebagai sosok tantenya yang cukup dengannya serta kepada Jenifer sosok orang yang cukup dekat juga dengan Maryam. Hingga akhirnya, Maryam mereka benar – benar datang, kemudian pada akhirnya Naomi yang menjaga Bilqis di rumah, sedangkan Maryam dibantu Arnold ditemani Jenifer mengantarkan Adler ke rumah sakit, dan akhirnya ruang ICU menjadi ruangan tempat laki – laki itu di rawat setelah Dokter menyatakan jika Adler mengami gangguan pernafasan parah.
“Kamu tenang, berdoa, dan yakin jika Tuhan akan membantu Adler melewati masa kritisnya, Tuhan maha melihat sayang, Adler orang yang baik, Tuhan pasti akan menyelamatkan dia” ujar Jenifer, berusaha menenangkan Maryam yang dia yakin sedang berada ditahap rasa khawatir luar biasa.
***
Maryam langsung bengkit dari posisinya setelah dia terbangun karena kaget ketika beberapa orang suster dan seorang Dokter tiba – tiba datang dan masuk dengan terburu – buru menuju ruang perawatan Adler, dengan perasaannya yang dilanda rasa takut dan khawatir, Maryam hanya mampu berdoa semoga Allah masih memberikan Adler kesempatan. Karena, saat itu Maryam masih benar – benar merasa bingung dengan keadaan Adler, dia masih merasa kaget atas keadaan Adler yang tiba – tiba drop.
“Apa yang kamu berikan pada Adler hingga dia tiba – tiba kritis seperti ini ? racun apa yang kamu campur pada makannya hingga dia tiba – tiba mengalami keadaan koma seperti sekarang, katakan !!” ujar seseorang, sambil membalik tubuh Maryam secara kasar.
“KATAKAN !! apa yang kamu berikan hingga dia bisa terbaring di ruangan itu” ujarnya lagi, sambil mendorong tubuh Maryam hingga mundur beberapa langkah.
Saat itu, tidak ada pembelaan apapun yang bisa dia berikan sekalipun apa yang dia tuduhkan tidak benar. Maryam hanya diam seakan dia menerima semua tuduhan yang ditujukan kepadanya. Karena, saat itu pikiran Maryam hanya berfokus pada keadaa Adler, bukan hal lain terlebih hanya sekedar pembelaan atas tuduhan yang bahkan tidak begitu penting menurut Maryam.
“Maaf, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menyematkan pasieun, tapi ternyata pasien sudah dinyatakan meninggal tepat jam 01.00 dini hari karena gangguan pernafasan kronis” ujar Dokter, berhasil mengalihkan perhatian semua orang.
Saat itu, tubuh Maryam terasa melemah, kaki yang menopang dia tetap berdiri kuat tiba – tiba terasa lemas hingga membuat tubuh Maryam melorot jatuh keatas lantai dengan tatapan mata yang terlihat kosong. Namun, air mata masih berjatuhan membasahi kedua belah pipinya. Maryam terlihat seperti manusia linglung yang tidak sadar dirinya sedang dimana dan sedang dimana. Wajahnya terlihat sangat terpukul atas apa yang terjadi. Hingga akhirnya, blangkar yang sejak tadi di tiduri Adler keluar tangis perempuan itu baru terdengar bersuara, kemudian dengan sisa tenaga yang dia punya, perempuan itu bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri tubuh Adler yang saat itu sudah tidak bernyawa lagi.
“Kenapa ? kenapa Kakak pergi tiba – tiba seperti ini Kak, kenapa Kakak pergi saat kita sudah mulai menemukan kebahagiaan kita ? apa yang sebenarnya terjadi” tanya Maryam, sambil memeluk tubuh kaku Adler.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada Kakak ?” tanya Maryam, pada tubuh kaku Adler yang jelas tidak akan memberikan jawaban.
Tubuh Maryam yang saat itu sedang berdiri menatap wajah tenang suaminya yang sudah menutup mata, tiba – tiba di tarik kemudian sebuah tamparan mendarat dengan sangat mulus di pipi Maryam. Selama beberapa saat, keadaan berubah menjadi hening, bahkan Maryam yang sebelumnya terisak menangis tiba – tiba terdiam meskipun air mata saat itu belum juga berhenti mengalir jatuh dari pelupuk matanya.
“Jangan pernah kamu sentuh tubuh putra mu dengan tangan kotor mu itu,coba katakan padaku, racun apa yang sebenarnya kamu berikan pada Adler hingga dia bisa tiba – tiba meninggal, KATAKAN !!!” teriak ibu Adler, sambil mengguncang tubuh Maryam yang saat itu hanya bisa diam dengan kepala tertunduk.
“Katakan kepada ku perempuan IBLIS ! racun apa yang kamu berikan padanya, kenapa dia bisa tiba – tiba pergi meninggalkan aku” ujarnya lagi, dengan suaranya yang terdengar melemah karena saat itu dia kehilangan kesadarannya.
Melihat mertuanya pingsan, Maryam masih belum melakukan pergerakan, perempuan itu masih berdiri mematung dengan kepala tertunduk dan menatap ibu mertuanya yang saat itu sedang berusaha dibopong oleh ayah mertuanya. Karena, saat itu Maryam merasa masih belum mengerti dengan keadaan yang dia hadapi. Dia masih merasa semuanya seperti mimpi.
“Sayang …” ujar Jenifer, sambil menyentuh bahu Maryam.
Tidak ada jawaban apapun yang saat itu Maryam sampaikan, perempuan itu hanya berbalik kemudian berlutut menyamakan tinggi badannya dengan Adler yang saat itu masih berbaring dibangsal yang akan membawanya menuju ruang jenazah. Sesaat, Maryam terdiam memandang wajah Adler, tangannya membawa tangan Adler ke dalam genggaman tangannya, selama beberapa saat, Maryam hanya diam memandang wajah Adler dan menangkupkan tangan dingin Adler pada pipinya, kemudian Maryam memberikan satu kedupan pada punggung tangan Adler sebagai bentuk penghormatannya kepada sosok laki – laki yang selama ini sangat begitu baik padanya.
“Apa Kak Adler marah pada ku Tan, jadi dia memutuskan pergi untuk selamanya meninggalkan aku dan Bilqis begitu saja ?” tanya Maryam, sambil mendongak menatap Jenifer yang saat itu masih berdiri menyentuh pundak Maryam seakan berusaha menguatkan Maryam yang saat itu sedang rapuh.
Jenifer, berusaha menunjukan senyuman pada Maryam, kemudian dia membawa tangan Maryam ke dalam genggaman tangannya, dengan penuh kelembutan dia menghapus lelehan air mata yang jatuh membasahi pipi Maryam.
“Kamu tahukan, Adler begitu mencintai kamu, tapi cinta Tuhan kepada Adler lebih besar dari pada cinta Adler kepada mu, jadi Tuhan mengambil Adler agar dia bisa bahagia di sampi – Nya” ujar Jenifer, sambil tersenyum penuh kelembutan tapi saat itu matanya terlihat berkaca – kaca karena nyatanya kepergian Adler bukan hanya mengangetkan Maryam dan keluarga, bukan hanya memberikan duka pada Maryam dan keluarga tapi pada Jenifer juga.
“Maka menangislah jika memang kamu berduka atas kepergian suami mu, sampaikan duka mu dengan luapan air mata, tapi ingat jangan berlarut – larut karena dari tempatnya Adler pasti sedang memperhatikan mu, dia pasti akan bersedih jika melihat kamu bersedih di sini, di tempatnya Adler pasti akan bahagia jadi kamu di sinipun harus bahagia” ujar Jenifer, sambil menatap mata Maryam, hingga akhirnya tangis Maryam kembali pecah seakan itu adalah luapan kesedihan, luapan duka yang dia rasakan atas kepergian Adler, dan saat itu tidak ada yang bisa Jenifer lakukan selain memberikan gadis itu sandaran.