Maryam terdiam merenung menimakmati suasana sore sambil menimang tubuh putrinya yang semakin hari semakin besar dihalaman belakang sambil menikmati indahnya bunga – bunga azalea yang selalu rajin dia rawat, dengan senandung shalawat yang Maryam dengarkan tepat di samping telinga putrinya. Namun, suara notifikasi yang muncul dari ponselnya membuat Maryam sesaat terdiam kemudian melihat siapakah yang baru saja mengirim pesan di sore hari seperti ini.
Sesaat Maryam berstigfar saat dia ingat jika Jenifer akan datang berkunjung ke rumahnya bersama Adler, karena memang mereka sudah lama tidak bertemu. Jadi, Jenifer memutuskan untuk datang sekaligus menengok keadaan Bilqis yang sudah sangat lama tidak dia temui, dan saat itu dia mengabari Maryam jika dia sudah berada didepan rumahnya, jadi Maryam memutuskan untuk langsung ke depan dan menyambut kedatangannya.
“Maaf ya Tan, aku lupa Tante mau ke sini, tadi aku malah mengajak Bilqis main di belakang” ujar Maryam, sambil tersenyum tepat setelah dia membukakan pintu untuk Jenifer.
“Tidak papa sayang, oh iya ini anak manis bagaimana kabar mu sayang, sini biar grandma menggendong mu sayang” ujar Jenifer, sambil mengambil alih Bilqis dari gendongan Maryam, dan menyerahkan bingkisan yang dia bawa pada Maryam.
Kemudian, mereka sama – sama berjalan menuju ruang tamu, tepat setelah Maryam mengambilkan Jenifer minum baru mereka berbincang – bincang mengenai berbagai hal yang menurut mereka menyenangkan.
“Tante senang, akhirnya hubungan kamu dan Adler membaik sayang, semoga semakin ke depan hubungan kalian semakin baik lagi, dan Bilqis bisa segera mempunyai adik agar dia tidak kesepian” ujar Jenifer, sambil menggengam tangan Maryam.
“Tante tidak bermaksud untuk ikut campur dalam rumah tangga mu sayang, tapi sebagai orang yang lebih tua, Tante bisa melihat meskipun sekarang hubungan kalian membaik tapi kalian masih belum memiliki hubungan selayaknya suami istri, tante paham dengan perasaan mu sayang, dan tante juga paham dengan komitmen apa yang kamu lakukan bersama Adler tanpa harus kalian ceritakan, hanya saja sebagai orang tua Tante hanya ingin mengingatkan, jika kawajiban melayani suami diatas ranjang itu adalah kewajiban seorang istri dan hal yang harus didapat oleh seorang suami” ujar Jenifer, sambil mengeratkan genggaman tangannya, pada tangan Maryam yang saat itu masih terdiam.
“Setidaknya itulah yang tante pahami sayang” lanjut Jenifer, sambil mengelus kepala Maryam dengan penuh kasih sayang.
Sesaat Maryam terdiam, mendengar perkataan Jenifer membuat Maryam tiba – tiba teringat dengan perbincangannya bersama Adler tadi pagi, yang menyatakan jika dia adalah laki – laki normal yang memiliki kebutuhun dan harus di penuhi. Pagi itu dia memang menyampaikannya dengan becanda, tapi setelah mendengar perkataan Jenifer, Maryam seakan merasa saat itu Adler bukan hanya sekedar becanda.
“Terima kasih Tan, terima kasih karena selama aku di sini Tante sangat perhatian sama aku, Tante selalu menyempatkan datang untuk menjenguk aku dan Bilqis, terimakasih” ujar Maryam, sambil tersenyum tulus pada Jenifer.
Jenifer tersenyum mendengar perkataan Maryam, kemudian perempuan itu berpindah duduk dan membawa ibu serta anak itu ke dalam dekapannya. Selama di Jerman, Jenifer memang sosok orang yang selalu ada untuk Maryam, dia seakan hadir menjadi penguat layaknya seorang ibu, dan Maryam sangat – sangat bersyukur dipertemukan dengan dia.
“Sama – sama sayang” jawab Jenifer, sambil tersenyum penuh ketulusan.
Jenifer, dia sosok yang berhasil membuat Maryam berlajar untuk mencintai dengan penuh ketulusan tanpa menuntut balasan. Karena, ketulusan cintanya kepada sang Ayah, perempuan itu tidak menyimpan sedikitpun kebencian saat Alaric memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Perempuan itu memilih untuk menerima dan bertahan mencintai Alaric sekalipun banyak luka yang harus dia terima. Bahkan, kepada Maryam sosok anak dari pernikahan Alaric bersama Intan yang seharusnya jika di pikirkan menggunakan ego yang tinggi, Jenifer sangat pantas membenci Maryam, tapi nyatanya perempuan itu justru begitu menyayangi dan mencintai Maryam.
Setelah itu, Maryam menidurkan Bilqis lebih dulu, baru setelah itu dia membuat makan malam atau lebih tepatnya memasak makan malam bersama Jenifer yang saat itu memang datang sekalian membawa bahan makanan. Setelah makanannya siap mereka langsung menyantapnya bersama, karena malam itu Adler memang akan pulang sedikit terlambat karena memiliki banyak pekerjaan di kantornya.
“Lain kali Tante harus datang lagi ke sini tepat saat Kak Adler sedang di rumah, agar kita bisa makan malam bersama” ujar Maryam, saat mereka baru saja selesai makan malam.
“Iya sayang” ujar Jenifer, sambil tersenyum hangat. “Tante pulang dulu ya, soalnya ada saudara tante yang akan datang ke rumah” ujar Jenifer, melirik jam yang melingkar dipergelagan tangannya.
“Oh iya dan jangan lupa mengirim gambar pakaian yang sudah Tente belikan untuk mu, kemudian sambut kepulangannya dengan memakai pakaian itu” ujar Jenifer, sambil tersenyum penuh arti kemudian berlalu pergi meninggalkan Maryam yang masih terlihat kebingungan mendengar perkataan Jenifer.
Setelah Jenifer benar – benar pergi, Maryam bergegas masuk ke dalam rumahnya, mencari pakaian yang Jenifer maksudkan, karena sejak tadi, Maryam merasa Jenifer tidak memberikan satu pakaianpun kepadanya, sehinga saat Jenifer membahas tentang pakaian perempuan itu merasa bingung. Tepat saat kaki Maryam sampai di ruang tamu, di sanalah dia melihat satu paperbag yang tersisa, dan saat Maryam buka, matanya sempat membulat kaget tapi pipinya terasa memanas saat melihat pakaian yang dimaksud Jenifer tadi.
***
Meskipun waktu sudah malam, tapi hal itu tidak membuat Adler mengeluh untuk melanjutkan pekerjaannya, terlebih untuk mempersiapkan meeting penting yang harus dia hadiri besok. Malam itu, hanya dengan ditemani suara jam yang berdetak serta suara keyboard yang dia tekan, Adler telihat fokus untuk mengerjakan semuanya hingga selesai karena dia ingin segera pulang.
Dahi laki – laki itu tampak mengerut bingung saat dia melihat ada satu pesan masuk dengan nama pengirim Maryam. Kemudian, Adler membuka pesannya, hanya saja tepat saat pesan itu terbuka Adler langsung menegakan punggungnya dengan bibir yang tidak mampu menahan senyum yang terbit dari bibirnya. Tangannya, dengan cepat langsung mendial nomor Maryam, karena saat itu Adler merasa apa yang baru saja istrinya kirimkan sangat di luar kewajaran seperti biasanya.
“Apa maksud kamu mengirim gambar itu ? kamu mencoba menggoda ku ya agar cepat pulang karena di rumah kamu kesepian setelah Bilqis tidur duluan” ujar Adler, tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
“Kakak ….” rengek Maryam, karena saat itu dia merasa malu mendapat pertanyaan semacam itu dari Adler.
Saat itu Adler hanya mampu tertawa mendengar rengekan Maryam, karena sejujurnya saat itu dia benar – benar merasa penasaran apa maksud dan tujuan Maryam mengirimkan pakaian seksi yang tentu akan membuat Adler sebagai suaminya merasa tergiur sekaligus ingin segera pulang di tengah padatnya pekerjaan yang harus dia kerjakan.
“Pulanglah jika Kakak ingin melihat ku menggunakan pakaian itu, pulanglah dan mari kita mulai semuanya dari sini, kita perbaiki semuanya dari sini, karena mulai detik ini aku siap menjadi istri seutuhnya untuk mu Kak” ujar Maryam, dengan penuh ketenangan dan kelembutan berhasil membuat perasaan Adler terasa menghangat.
“Terimakasih Maryam dan tunggulah aku di rumah, sekarang aku paham kenapa kamu mengirimkan jamu tadi dengan makan malam” ujar Adler, sambil mematikan sambungan telepon setelah mengucapkan salam terlebih dahulu.
Kemudian, Adler langsung bergegas pergi menuju rumahnya karena saat itu dia sudah benar – benar merasa tidak sabar akan bertemu dengan Maryam. Sementara di rumah, Maryam merasa bingung dengan jamu dan makan malam yang Adler katakan, karena dia tidak merasa pernah mengirimkan makanan atau jamu untuk makan malam Adler.
Selama diperjalanan, Adler benar – benar tidak mampu membiarkan bibirnya berbentuk normal, karena setiap kali dia mencoba menormalkan bentuk bibirnya saat itulah kedua ujung bibirnya selalu membentuk lengkungan ke atas atau lebih tepatnya membentuk senyuman.
“Ya Tuhan, kanapa lampu merah ini mendadak jadi terasa begitu lama, padahal aku biasa melewati jalan ini, dan menunggu lampu merah di sini” gerutu Adler, sambil menatap lampu merah yang tidak kunjung berubah padahal saat itu Adler merasa sudah sangat lama menunggu.
Kemudian, Adler kembali membuka ponselnya, melihat gambar yang di kirim Maryam sehingga membuat lengkung senyuman kembali terbit dari bibir Adler. Saat itu, Adler tidak pernah mengira Maryam melakukan semua ini untuknya, hanya saja jauh di dalam lubuk hatinya Adler merasa sangat bersyukur, setidaknya kesiapan Maryam, bersedianya dia menjadi istri seutuhanya adalah sesuatu yang sangat luar biasa bagi Adler.
Adler langsung melajukan kembali mobilnya saat dia melihat lampu merah sudah berganti menjadi hijau. Bibirnya, masih belum berhenti melengkungkan senyuman, hingga sesaat senyuman itu sempat memudar saat dia merasakan dadanya terasa sesak, hanya saja Adler berusaha untuk tidak menghiraukannya, dia berpikir dadanya sesak karena polusi udara atau karena dia kelelahan bekerja, sehingga saat itu Adler memutuskan untuk terus melajukan mobilnya sampai di rumah.
Adler menghentikan mobilnya tepat di depan rumah, tapi saat itu dia tidak langsung turun dari dalam mobilnya. Selama beberapa saat, dia menyandarkan kepalanya pada jok mobil dengan mata terpejam, tangannya menyentuh bagian dadanya yang saat itu terasa semakin sesak. Namun, saat itu Adler berusaha memaksa dirinya untuk keluar dari dalam mobil, dia menarik nafas dalam – dalam, melengkungkan senyuman dan berusaha bersikap baik – baik saja agar tidak membuat Maryam merasa khawatir, terlebih malam ini adalah malam yang sangat istimewa bagi dirinya dan Maryam.
“Assalamu’alaikum, Maryam sayang tolong bukakan pintu untuk suami mu” ujar Adler, dengan ekspresi yang dia buat seceria mungkin meskipun saat itu sesekali dia menarik nafas dalam untuk mengurasi dadanya yang terasa sangat sesak.
Tidak lama setelah itu pintu terbuka hanya saja sosok Maryam masih belum terlihat, dan Adler tahu perempuan itu sedang bersembunyi di balik pintu. Kemudian, dengan senyuman yang semakin melengkung lebar, Adler masuk ke dalam rumah, selama beberapa saat dia menatap Maryam dari atas hingga bawah, karena malam itu, dia terlihat benar – benat berbeda, bahkan Adler sendiri tidak pernah membayangkan akan melihat Maryam berpenampilan seperti yang sedang dia lihat.
“Ya Allah Ya Rahman, lihatlah betapa cantiknya kamu ini” ujar Adler, sambil mengelus pipi Maryam.
Tidak ada yang Maryam katakan saat itu, karena sejujurnya Maryam merasa tidak nyaman dengan pakaian yang saat itu dia gunakan, rok pendek diatas lutut tanpa lengan dengan bahan yang sedikit tranparan, benar – benar berhasil membuat Maryam merasa seperti bertelanjang.
Kemudian, tanpa aba – aba, Adler langsung mengangkat tubuh Maryam dan menutup pintunya. Setelah itu, dia langsung membawa Maryam menuju kamar, bibir Adler benar – benar tidak bisa berhenti melengkungkan senyuman, matanya menatap Maryam dengan tatapan yang sangat sulit di definisikan. Setelah tiba di kamar, dia langsung mendudukan Maryam di atas ranjang, dan tanpa di sangka Adler justru memakaikan Maryam mukena dan menyerahkan Al – Qur’an kepada Maryam, sementara dia membaringkan kepalanya diatas pangkuan Maryam.
“Aku bahagia sayang, karena malam ini kamu bersedia menunaikan kewajiban kita sebagai mana mestinya, aku bahagia sangat – sangat bahagia” ujar Adler, sambil mendongak dan tangannya mengelus pipi Maryam dengan penuh kelembutan.
“Malam ini aku lelah, d**a ku terasa sedikit sakit, bisakah kamu membacakan surat Al – Qur’an untuk ku, aku ingin mendengarkannya” ujar Adler, sambil tersenyum memandang Maryam ketika dadanya terasa samakin sesak.
Saat itu, Maryam terdiam memandang Adler, surat Al – Anbiya ayat 34 dan 35 adalah surat tentang sakaratul maut, Maryam mengetahui hal itu. Hanya saja, yang membuat Maryam heran kenapa Adler meminta dibacakan surat itu, terlebih saat melihat Adler yang terlihat kesulitan bernafas, hal itu semakin membuat Maryam merasa khawatir pada keadaan suaminya.