"Mimpi di siang bolong," cibirku pelan, mencoba menepis tangannya dari daguku. Namun, cengkeraman North tidak beralih. Pria itu justru semakin mendekatkan tubuhnya, membuatku terjebak di antara kusen pintu dan dadanya yang bidang.
"Kau boleh mendebatku sepanjang hari, Mindy, tapi untuk urusan yang satu ini, kau tidak punya pilihan," bisik North rendah, manik hazel-nya menatapku tajam sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. "Badanmu masih tegang karena insiden kemarin. Mandi air hangat sekarang, atau aku yang akan menyeretmu ke sana."
Sebelum aku sempat membalas, North sudah mengangkat tubuhku dengan mudah ke dalam gendongannya. Aku sempat memekik kaget dan memukul bahunya pelan, namun ia tidak bergeming sedikit pun. Pria itu membawa langkah panjangnya langsung menuju k