Langit malam di atas Samudra Hindia perlahan berganti warna, menyisakan bias kelam keunguan di ujung cakrawala sebelum digantikan oleh garis fajar yang memerah. Di dalam kamar utama vila, aku terbangun bukan karena suara ombak, melainkan oleh keheningan yang terasa begitu pekat dan menegangkan.
Sisi ranjang sebelahku sudah kosong. Seprai linen putih itu telah dingin, menandakan North telah meninggalkan tempat tidurnya sejak beberapa jam lalu.
Aku bangkit, mengenakan jubah sutra, lalu melangkah keluar menuju ruang keluarga yang menghadap langsung ke arah teras. Di sana, di balik dinding kaca besar yang tembus pandang, siluet tubuh tinggi North berdiri tegak. Pria itu mengenakan kemeja hitam gulung siku, memegang ponsel di satu tangan, sementara tangan kanannya yang lain menopang pinggang