Laura berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia tersenyum dan memastikan bahwa penampilannya pagi ini sudah sempurna. Entah mengapa ia merasa begitu bersemangat pergi ke kampus hari ini, setelah tiga hari tidak masuk kuliah akibat kakinya yang terkilir.
Wajah Adnan yang berpeluh saat menolongnya di belakang gedung Taill itu melintas, membuat senyum Laura semakin merekah dan pipinya terlihat merona. Ia lantas meletakkan kedua telapak tangannya di pipi dan menahan malu terhadap dirinya sendiri.
“Apaan, sih? Kenapa harus ingat dia, coba?” gumam Laura pada dirinya sendiri. Namun, ia tak memungkiri bahwa semangatnya hari ini juga dikarenakan pemuda itu. Ia tak sabar untuk bertemu dengan Adnan, yang sudah tiga hari ini tak muncul di hadapannya. Ada sebersit rindu di hatinya karena lelaki