Adnan menggeleng melihat sikap Laura yang tak bersahabat sama sekali padanya. Namun, ia merasa lega karena gadis itu tampaknya baik-baik saja.
Ia pun meninggalkan tempat itu menuju motornya yang terparkir di depan gedung Fakultas Hukum. Lagi-lagi ia melihat Laura ketika keluar dari gerbang fakultas. Gadis itu berdiri di dekat salah pohon asam yang berbaris di sepanjang jalan kampusnya.
Kali ini Adnan tak ingin lagi peduli dengan teman satu fakultasnya ia. Ia terus fokus mengendarai motornya tanpa menoleh sedikit pun pada Laura yang memandangnya dengan tatapan kesal.
Sepuluh menit menunggu, sopirnya pun tiba di kampus. Laura segera masuk ke mobil dan menyandarkan punggungnya di badan jok dengan sedikit menurunkan posisi tempat duduk.
“Non Laura kenapa? Kok baju dan rambutnya basah?”