"Ayah,,,!! biarkan aku ikut dalam misi ini" Ujar Eden's sambil menggertak.
"Ayah bilang jangan ya jangan... Kakakmu saja yang sudah profesional mati terbunuh, apalagi kamu" Jawab Haris sambil membalikkan badan membelakangi Eden's.
"Kakak, kakak, kakak.. Selalu saja aku di bandingkan dengan kakak" Jawab Eden's (Berteriak)
"Kalo dia profesional kenapa dia mati" Lanjut Eden's (memelankan suaranya).
"Eden's!!!.. " Teriak Haris dan memukul Eden's.
"Ayah,,, aku ingin berguna untuk ayah, dan aku ingin suatu saat nanti menjadi seperti ayah. Meneruskan bisnis ayah". Kata Eden's merintih dan merunduk menahan rasa sakit.
" Pergilah... " Kata Haris sambil mengepal tangan sekuat tenaga. "Tapi jangan sampai terbunuh" Lanjut Haris
"Baik ayah..!!! " Jawab Eden's (bersemangat) "aku janji akan pulang sehat wal afiat" Lanjut Eden's sambil tersenyum.
Eden's pun berlari keluar meninggalkan ruangan ayahnya.
"Eden's,,, di dunia ini tadak ada orangtua yang ingin anaknya menjadi seprtinya". Kata Haris (dalam hati).
Eden's pun menemui Aldino.
"Luh di izinin Den's" Tanya Aldino
"Kalau gak di izinin gue gak bakalan ke sini bro.. " Jawab Eden's (bangga)
"Tapi gue heran ama bokap luh, kan biasanya kita satu paket selalu berdua kalau dapat tugas". Kata Aldino sambil jalan bersama Eden's menuju mobil.
"Karena ini tugas yang sangat berat" Jawab anak buah Haris yang lainya.
"Iya juga ya,,, kalau target kita calon walikota. Pasti kuat pengamanannya" Kata Aldino sambil memegang dagu (befikir). "Berarti, luh selama ini salah bro". Lanjut Aldino.
" Salah apanya? " Tanya Eden's
"Tentang bokap luh,. Ternyata bokap luh bukan menganggap luh gak berguna, tapi sayang sama luh". Kata Aldino sambil tersenyum. " Ternyata walaupun seorang ketua pembunuh bayaran pun punya rasa rasa sayang juga ya". Lanjut Aldino (nada agak sedih)
"Hah" Aldino menghela nafas.
Eden's hanya terdiam sambil tertawa terpaksa, mencairkan suasana. Karena Aldino tidak memiliki orangtua, ia hanya seorang gelandangan yang di pungut oleh ayahnya Eden's untuk dijadikan alat.
Mereka pun masuk dalam mobil dan menuju lokasi target. rencananya target akan di bunuh malam ini pukul 23:45 .
Karena masih sore mereka pun menyewa hotel yang dekat dengan lokasi target.
Pukul 20:00..
Mereka semua menyusun strategi, mereka membuat tiga kelompok, satu kelompok terdiri dari dua orang. Tentu saja Eden's bersama dengan Aldino, dan sebelum beraksi Eden's dan Aldino minum bersama di hotel. Eden's merasa bahwa Aldino tidak seperti biasanya, ia pun agak khawatir.
"Al,,,! Lu kok kaya ada sesuatu yang di pikirkan, ada apa sih? " Tanya Eden's (penasaran) sambil nepuk bahunya Aldino.
"Ah... Enggak kok,. gue cuma berpikir, untung gue ketemu ama bokap lu. Tapi selama ini, apakah bokap lu puas dengan hasil kerja gue ya.. " Keluh Aldino sambil melihat ke atas.
"Kalau bokap gue gak puas sama kerja lu, gak munggkin dia menugaskan tugas tingkat dewa ini ke elu" Gurauan Eden's (menyemangati).
KRIIIING....!!! KRIIIING......!!!!!
Alarm mereka pun berbunyi, tepat pukul 23:45 wib. Eden's dan Aldino langsung berlari ke atap gedung, dengan jarak 6,5km Aldino siap membidik. Calon walikota yang baru keluar dari gedung sebelah, bersama dengan timnya yang sudah mengadakan acara pada malam itu. Dua orang kawannya Eden's menyamar menjadu wartawan, dan dua lainnya bersembunyi agak jauh dari lokasi. Wartawan gadungan itu pun mewawancarai calon walikota, karena sudah malam calon walikota itu pun tak mau di wawancarai, namun wartawan gadungan itu memaks dan akhirnya calon walikota pun menyuruh sebagian pengawalnya untuk menahan wartawan (alias kawan Eden's). Mereka berdua di dorong-dorong dan di usir oleh pengawal calon walikota, memang itulah yang di rencanakan Eden's dan anak buah Ayahnya.
Sementara di depan ada keributan, DUAAAR!!!. Terdengar suara tembakan, yang membuat suasana semakin ricuh. Tidak lain dan tidak bukan, suara tembakan itu berasal dari dua temannya Eden's yang bersembunyi agak jauh dari lokasi.
Seperti yang mereka harapkan, calon walikota itu panik dan langsung berlari ke tempat mobilnya di parkiran. Dan di sutu lah tempat Eden's dan Aldino.
Ketika Calon walikota itu berlari ke parkiran, Aldino pun membidknya dan melepaskan tembakan. Karena Aldino tak pernah gagal dalam hal menembak, tembakannya pun tepat sasaran.
Calon Walikota terbunuh di tempat, pengawal dan rekan-rekannya ricuh berpencar mencari pelaku pembunuhan tersebut. Eden's dan Aldino berkemas dan berjalan santai meninggalkan tempatnya, berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Namun, dua rekannya Eden's yang pertama menembakan s*****a pada saat itu, tetangkap oleh rekan Calon Walikota. Dan dua rekan Eden's yang menjadi Wartawan ingin menyelamatkannya. Eden's dan Aldino pun ikut membantu, ternyata mereka di pancing oleh rekan walikota, dan yang terbunuh adalah orang sewaan yang disuruh oleh Calon Walikota.
Calon Walikota tahu bahwa ia akan di bunuh di hari itu, dan ia menyusun strategi untuk menangkap seluruh pelaku.
Eden's, Aldino dan dua rekannya menyiapkan s*****a bersiap untuk perang.
"Kita ke sini ber-enam,, dan kita pulang pun harus ber-enam" Kata Aldino sambil mengocok pistol.
Dar... Der... Dor... !!!
Pasukan Aldino saling melepaskan tembakan (sambil bersembunyi), maksud untuk mengertak lawan. Segenap pengawal Calon Walikota berlarian dan bersiap menghadapi Aldino dan Eden's.
"Saya akan melepaskan mereka berdua,, tapi beritahukan siapa yang menyuruh kalian untuk membunuh saya.!!!! ". Teriak Calon Walikota
" Baik...!!! Saya akan bicara dengan anda". Jawab Aldino (masih bersembunyi).
"Keluarlah,,, genjatan senjatamu". Seruan Calon Walikota.
"Jangan Al, mereka hanya memancing kita" Bisik Eden's . "Lagian, lu mau memberi tahu mereka siapa yang menyuruh kita". Lanjut Eden's.
"Enggak lah, itu adalah pelanggaran kode etik" Jawab Aldino.
"Terus lu mau ngapain bicara dengan mereka? ". Tanya Eden's.
" Walikota itu banyak orang yang tahu, kita sebutkan saja nama asal-asalan,. Kita bilang bahwa orang ini tak suka kalo dia jadi Walikota ". Jawab Aldino sambil meletakan s*****a, ankat tangan dan berjalan keluar dari persembunyian.
" Woi... Lu serius" Kata Eden's kaget dengan suara agak berbisik.
"Tenang saja Den's,, soal negosiasi gue ahlinya. Pasti ujung-ujungnya mereka cuman minta duit". Gumam Aldino dalam hati dengan mata terpejam, dan berjalan perlahan ke arah Calon walikota (masih mengangkat tangan).
Alangkah kegetnya Aldino ketika ia membuka matanya. Ternyata, orang yang menyuruh mereka ada di sana tepat di samping calon walikota. Dengan tatapan sinis orang itu menatap Aldino.
DOR...!!
Orang itu langsung melepaskan tembakan kepada Aldino, karena ia pikir Aldino akan mengungkapkan semuanya. Karena yang tahu semua ialah Aldino, dia ada disaat ayahnya Eden's negosiasi dengan orang itu.
"Untung saya tepat waktu, tadi dia akan menembakmu" Kata orang itu
"Oh... Terimakasih pak" Jawab calon walikota (kaget).
Melihat ini Eden's pun kacau, bagaimana tidak, teman masa kecilnya terbunuh di depannya. Eden's pun mengambil s*****a Aldino (jadi memegang dua pistol). Eden's berteriak dan menyerang membabi buta. Karena Eden's sudah terlatih dalam menghindari peluru, ia pun lompat sana lopmat sini sambil menembak.
Semua orang hampir terbunuh oleh Eden's, hingga akhirnya polisi datang. Rekan-rekan Eden's yang selamat berlari kabur dan menarik Eden's, tatapan sedih Eden's meninggalkan mayat temannya, SANG PENEMBAK JITU yaitu Aldino.
Eden's pulang dengan kehampaan, sementara itu Calon Walikota yang masih selamat dan di rawat di rumah sakit, hafal betul wajah dari Eden's. Dan calon Walikota pun melaporkan kepada pihak kepolisian, dan poster-poster wajah Eden's bersebaran di mana-mana bahkan di hadiahkan satu milyar bagi orang yang menemukannya.
Disinilah kisah Eden's seorang buronan di mulai.