Alya menjawab dengan tenang."Suamiku sedang sibuk dengan pekerjaannya."
Nadine mengulum senyumnya,seolah dia ingin menunjukkan bahwa dia tahu apa yang sebenarnya dilakukan Raka suami Alya dan juga suaminya.
Sejak masih duduk di bangku SMA, Alya memang tidak pernah menyukai kemewahan.
Ia bukan berasal dari keluarga yang kekurangan, tetapi Alya terbiasa hidup sederhana. Ketika teman-temannya mulai mengenakan pakaian bermerek, membawa tas mahal, atau memamerkan barang pemberian orang tua, Alya tetap datang ke sekolah dengan pakaian yang sederhana.
Dulu, hal itu sering menjadi bahan ejekan.
"Alya, kamu nggak pernah beli baju baru, ya?"
"Dia memang begitu. Dari dulu paling sederhana."
"Kalau ada acara, pasti pakai yang itu-itu lagi."
Alya tidak pernah terlalu memedulikannya.
Baginya, penampilan bukan ukuran harga diri.
Namun malam reuni itu, ternyata kebiasaan Alya tersebut kembali menjadi bahan pembicaraan.
Begitu Nadine datang dengan gaun mewah dan perhiasan berlian, perhatian semua orang langsung tertuju kepadanya.
Beberapa teman lama Alya bahkan langsung menghampiri Nadine.
"Ya ampun, Nadine! Kamu berubah banget!"
"Benar! Dulu kamu biasa saja, sekarang cantik sekali."
"Kelihatannya hidupmu sukses banget."
Nadine tersenyum rendah hati.
"Ah, kalian bisa saja."
Kemudian salah seorang teman mereka melirik Alya.
"Alya juga masih sama."
Teman yang lain tertawa.
"Iya. Dari SMA sampai sekarang nggak berubah."
Alya hanya tersenyum tipis.
Namun kemudian seseorang berkata,
"Padahal sudah menikah dengan Raka. Katanya Raka sekarang sukses, kan?"
Nadine mendengar percakapan itu.
Ia sengaja tersenyum.
"Raka memang orang yang sangat baik."
Kalimat itu membuat beberapa orang langsung menoleh kepadanya.
"Kamu dekat dengan Raka?"
Nadine tersenyum.
"Ya... cukup dekat."
Alya yang berdiri tidak jauh dari mereka mulai merasa tidak nyaman.
Sinta bahkan berkata,
"Kalau dibandingkan kalian, Nadine memang lebih cocok dengan kehidupan Raka sekarang."
Maya tertawa kecil.
"Setuju."
Alya menatap mereka.
Tidak ada yang membelanya.
Padahal mereka pernah menjadi sahabatnya.
Orang-orang yang dulu mengetahui bagaimana Alya selalu hidup sederhana.
Orang-orang yang pernah tertawa bersamanya ketika SMA.
Kini mereka justru membandingkannya dengan Nadine.
Alya menarik napas.
Ia mencoba tetap tenang.
Kemudian Nadine menghampirinya.
"Kamu jangan terlalu dipikirkan."
Alya menatapnya.
"Maksudmu?"
"Komentar mereka."
Nadine tersenyum.
"Kadang orang hanya mengatakan apa yang mereka lihat."
Alya menjawab tenang,
"Dan kadang orang hanya melihat apa yang ingin mereka lihat."
Nadine terdiam sejenak.
Namun sebelum percakapan itu berlanjut, ponsel Nadine berdering.
Ia melihat layar.
Kemudian tersenyum.
Nadine sengaja menjauh beberapa langkah.
Ia menekan nomor seseorang.
Raka.
Telepon tersambung.
"Mas?"
Suara Raka terdengar dari seberang.
"Ya, Nadine?"
"Aku sudah sampai."
"Oh, bagus."
Raka terdengar santai.
"Kamu sudah bertemu teman-teman lama?"
"Sudah."
Nadine menatap Alya dari kejauhan.
Kemudian berkata,
"Mas, bisa datang sekarang?"
Raka terdiam.
"Sekarang?"
"Iya."
"Ada apa?"
Nadine tersenyum.
"Aku ingin kamu datang."
Raka tertawa kecil.
"Kamu tahu aku masih ada urusan."
"Sebentar saja."
Nada suara Nadine terdengar lembut.
"Aku ingin memperkenalkan seseorang kepadamu."
Raka tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa Alya berada di restoran yang sama.
Ia juga tidak tahu bahwa Nadine baru saja berbicara dengan istrinya.
Apalagi ia tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi malam ketika seluruh rahasianya terbongkar.
"Baiklah," jawab Raka akhirnya.
"Aku akan datang."
Nadine tersenyum puas.
"Terima kasih, Mas."
Telepon berakhir.
Nadine memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Tatapannya kembali kepada Alya.
Kali ini senyumnya berbeda.
Ada keyakinan di sana.
Seolah ia sudah mengetahui bagaimana malam itu akan berakhir.
Sementara itu, Raka masih berada di kantornya.
Ia tidak memiliki sedikit pun kecurigaan.
Dalam pikirannya, ia hanya akan datang sebentar untuk menemui Nadine.
Ia bahkan sudah menyiapkan sebuah buket bunga yang dipesannya khusus.
Buket itu ditujukan untuk Nadine.
Raka tidak pernah membayangkan bahwa istrinya berada di tempat yang sama.
Ia tidak tahu bahwa Alya datang ke reuni.
Karena selama ini ia memang mengira Alya menghadiri acara bersama teman-temannya di tempat lain.
Raka mengambil jasnya.
Sebelum berangkat, ia sempat melihat foto Alya di layar ponselnya.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
"Aku pulang nanti, Ly."
Ia tidak menyadari betapa ironisnya kalimat itu.
Karena beberapa menit kemudian, ia akan datang membawa bunga untuk wanita lain.
Di restoran, suasana semakin ramai.
Alya berusaha mengabaikan tatapan teman-temannya.
Namun perkataan mereka terus terngiang di kepalanya.
"Nadine lebih cocok dengan kehidupan Raka."
"Alya masih saja sederhana."
"Kalau punya suami sukses, kenapa tidak berubah?"
Alya menggenggam gelasnya.
Ia tidak pernah malu hidup sederhana.
Yang membuat hatinya sakit adalah kenyataan bahwa orang-orang yang dulu mengenalnya justru menilai dirinya hanya dari penampilan.
Nadine kembali menghampiri.
"Sebentar lagi Raka datang."
Alya menoleh cepat.
"Raka?"
Nadine mengangguk.
"Iya."
"Kenapa?"
Nadine tersenyum.
"Aku yang memintanya datang."
Alya mengernyit.
"Kamu kenal Raka?"
Nadine menatapnya.
"Lebih dari yang kamu pikirkan, kami saling mengenal sebelum dia bertemu sama kamu."
Kalimat itu membuat Alya terdiam. Alya merasakan sesak didadanya. Dia berusaha untuk berpikir positif. Bagaimana bisa suaminya bersedia datang saat wanita lain memintanya datang.
"Ya, kita lihat saja, apakah Raka mau datang atas permintaan kamu atau tidak ."
Namun Nadine belum mau mengatakan semuanya,dia tersenyum sinis sambil menarik sudut bibirnya.
Ia ingin Alya melihatnya sendiri.
Ingin Alya melihat siapa yang akan datang.
Ingin semua orang menjadi saksi.
Dan yang paling penting. Nadine ingin Raka datang tanpa mengetahui bahwa istri sahnya berada tepat di hadapannya.
Karena bagi Nadine, kejutan itu akan jauh lebih menyakitkan.
Beberapa menit kemudian, suara kendaraan berhenti di depan restoran.
Nadine menoleh ke arah pintu.
Senyumnya melebar.
"Dia datang."
Alya ikut menoleh.
Pintu restoran terbuka.
Raka masuk.
Di tangannya terdapat buket bunga besar.
Wajahnya masih menunjukkan senyum santai karena ia sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang menunggunya di dalam. Nadine berdiri tepat dihadapan Raka, dan langsung berjalan memeluk Raka yang membawa buket bunga mawar besar untuknya.
Namun saat memeluk Nadine.
Mata Raka menangkap sosok yang paling tidak pernah ia duga akan berada di belakang Nadine. Dalam keadaan memeluk Nadine Raka mematung. Jantung nya seolah berhenti berdetak. "Alya?'
Istrinya, berdiri beberapa meter di hadapannya. Tatapan mereka bertemu.
Senyum Raka perlahan menghilang.
Buket di tangannya terasa semakin berat.
Sedangkan Alya hanya menatap suaminya dalam diam. Namun Alya tak ingin berkedip, tak ingin marah ataupun menunjukkan kecemburuannya. Dalam keadaan hancur berkeping-keping, dia tersenyum ke Raka.
Kemudian pandangannya berpindah kepada Nadine. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Alya mulai memahami sesuatu.
Nadine sengaja memanggil Raka. Untuk menunjukkan bahwa dialah pemilik hati Raka selama ini.
Dia menggunakan momen reuni ini untuk membuat semuanya terbongkar di depan mata Alya.
Sementara Raka berdiri terpaku, belum mampu menjelaskan mengapa istrinya berada di sana.
Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa menit ke depan, seluruh kebohongan yang selama lima tahun ia bangun akan runtuh di depan orang-orang yang mengenal mereka.
Dan yang paling mengerikan bagi Raka, Alya tidak datang untuk mencari tahu.
Alya sudah melihat semuanya.
"Alya... Aaaku..."Suara Raka tercekat. Namun Nadine langsung menyela ucapan Raka.
" Sayang... terimakasih ya bunganya, oh iya aku udah janji sama teman-teman kalau malam ini , kamu yang bayar semuanya."Nadine menggandeng tangan Raka yang berdiri kaku, dengan tatapan ke arah Alya.
"Ttterserah kamu saja."Raka terbata-bata. Alya hanya diam, dan hanya menatap wajah Raka.Suami yang dia banggakan, kini sedang bermain peran menjadi suami orang lain, bahkab menjelma menjelma menjadi suami yang royal dan memanjakan wanita lain.
"Kalian tahu , kalung dan cincin berlian ini, hadiah dar Raka, suamiku,"seru Nadine.
"Wahhh so sweet ya, amalan apa yang kamu lakukan sampai punya suami CEO, tampan, sayang istri pula,"ujar salah satu teman Nadine.
"Beda banget ya sama Alya, yang suaminya sama sekali enggak perhatian. Sampe dia enggak ganti-ganti bajunya."Sinta sambil tertawa mengejek. Seketika Raka menunduk. Disisi lain dia memanjakan wanita lain yang merupakan cinta pertamanya sekaligus istri rahasianya. Disisi lain dia memperlakukan istri sahnya Alya seperti wanita yang kurang perhatian dan sangat sederhana. Jauh dari penampilan yang menampakkan istri CEO.
"Ya benar, saya lebih memilih penampilan sederhana, karena suami saya yang meminta saya berhemat. Maaf jika membuat kalian tidak nyaman, saya permisi."Alya melangkah melewati suaminya Raka. Dan saat Raka hendak mengejar Alya tiba-tiba Nadine mengeluh sakit perutnya yang kini mengaku sedang mengandung anak keduanya. " Arrrgh sayang...perutku keram."
langkah Raka terhenti, dan dia menggendong Nadine menuju mobilnya. Sementara Alya melihat dari kaca mobil yang di pesannya, suaminya menggendong mesra wanita lain menuju mobil mewahnya. Sesak, sakit dan tubuhnya kini terasa membeku merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Airmata yang mengalir deras disudut matanya sudah tak terbendung lagi.Alya mengambil ponselnya.
[Mas kita cerai] sebuah pesan singkat dia kirim ke sebuah nomor di ponselnya.