Selama lima tahun menikah, Alya tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari suaminya, Raka.
Raka adalah suami yang lembut, perhatian, dan selalu berusaha membuat Alya bahagia. Ia tidak pernah membentak, selalu mengantar Alya ketika memiliki waktu luang, mengingat hal-hal kecil yang disukai istrinya, bahkan tidak pernah lupa memberikan kejutan sederhana pada hari ulang tahun pernikahan mereka. Selama 5 tahun, Alya tak memiliki rasa curiga sedikit pun pada suaminya.Karena Raka sangat baik padanya.
Satu-satunya hal yang membuat Alya terkadang sedih adalah kenyataan bahwa setelah lima tahun pernikahan, mereka belum juga dikaruniai anak.
Namun Raka selalu menenangkan istrinya.
"Tidak apa-apa, sayang. Kita nikmati saja hidup kita. Anak itu rezeki. Kalau Tuhan belum memberi, berarti memang belum waktunya."
Kata-kata itu membuat Alya merasa menjadi wanita paling beruntung.
Alya juga mengira kehidupan mereka sederhana. Raka selalu mengatakan bahwa penghasilannya tidak terlalu besar. Ia sering meminta Alya berhemat, memilih restoran biasa daripada tempat mewah, serta mengingatkan Alya agar tidak terlalu banyak membeli barang yang tidak diperlukan.
"Kita harus punya tabungan, Alya. Jangan terlalu boros. Aku ingin masa depan kita aman."
Alya tidak pernah membantah.
Bahkan ketika Raka memberikan uang bulanan yang pas-pasan, Alya justru merasa bangga karena suaminya adalah pria yang pandai mengatur keuangan.
Ia tidak tahu bahwa semua itu hanyalah sebagian dari kehidupan Raka.
Sebab diam-diam, Raka memiliki kekayaan yang jauh lebih besar daripada yang pernah Alya bayangkan.
Raka memiliki investasi, beberapa properti, dan bisnis yang menghasilkan keuntungan besar. Tetapi selama bertahun-tahun, ia sengaja menyembunyikan sebagian besar hartanya dari Alya.
Ada satu alasan mengapa Raka begitu berhati-hati yaitu Nadine.
Wanita yang selama ini ia sembunyikan.
Nadine adalah cinta pertama Raka sejak SMA.
Hubungan mereka sempat berakhir ketika mereka berpisah setelah lulus sekolah. Namun beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu. Pertemuan itu membuat perasaan lama tumbuh kembali.
Yang tidak pernah Alya ketahui, hubungan Raka dan Nadine bukanlah hubungan yang baru dimulai.
Sudah bertahun-tahun Raka mendua.
Bahkan dari hubungan tersebut, Raka dan Nadine telah memiliki seorang anak.
Raka membiayai kehidupan Nadine dan anaknya secara diam-diam. Ia memiliki rumah untuk mereka, rekening khusus, serta berbagai fasilitas yang sama sekali tidak pernah diketahui Alya.
Ironisnya, kepada istrinya sendiri Raka selalu berkata,
"Kita harus hemat."
Suatu sore, Alya mendapatkan undangan reuni SMA.
Ia sebenarnya ragu untuk datang karena acara tersebut adalah reuni sekolah Raka. Namun beberapa teman lamanya juga akan hadir sehingga Alya akhirnya tertarik untuk ikut.
Malam itu, mereka sedang makan malam di sebuah restoran mewah ketika Alya memberanikan diri meminta izin.
"Mas, minggu depan aku boleh datang ke reuni SMA?"
Raka yang sedang menikmati makanannya langsung menatap Alya.
"Reuni?"
"Iya. Teman-teman SMA-ku mengajak. Katanya sudah lama sekali tidak bertemu."
Raka tersenyum.
"Pergilah. Kamu jarang keluar dengan teman-temanmu."
Alya tersenyum lega.
"Benarkah?"
"Tentu. Tapi jangan pulang terlalu malam."
Alya mengangguk bahagia.
Tidak ada sedikit pun kecurigaan di wajahnya.
Ia bahkan menggenggam tangan suaminya dan berkata,
"Aku beruntung punya suami sebaik kamu."
Raka hanya tersenyum.
Namun beberapa detik kemudian, ponsel yang berada di atas meja bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Nadine:
"Kamu jadi datang malam itu, kan? Aku ingin memperkenalkan anak kita kepadamu di depan orang-orang."
Raka segera membalikkan ponselnya.
Alya tidak melihat pesan tersebut.
Hari reuni akhirnya tiba.
Alya datang dengan gaun sederhana yang dipilihnya sendiri. Ia tidak tahu bahwa malam itu akan mengubah seluruh hidupnya.
Di tengah acara, Alya bertemu dengan seorang pria yang membuatnya terdiam.
Dimas.
Cinta pertamanya ketika SMA.
Pria yang dulu pernah berjanji akan menikahinya sebelum keadaan memisahkan mereka.
Dimas masih mengenali Alya.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alya merasakan kembali kenangan masa mudanya.
Namun di tempat lain, pada malam yang sama, Raka sedang menuju restoran mewah dengan sebuah mobil mahal yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan kepada Alya.
Di tangannya terdapat buket bunga yang sangat indah.
Buket itu bukan untuk Alya.
Raka datang untuk menemui Nadine.
Wanita yang menjadi cinta pertamanya.
Dan anak mereka.
Tanpa Raka sadari, malam itu Alya akan melihat semuanya.
Bukan hanya perselingkuhan.
Bukan hanya seorang wanita lain.
Tetapi sebuah kehidupan rahasia yang telah dibangun suaminya selama bertahun-tahun.
Kehidupan yang jauh lebih mewah daripada kehidupan sederhana yang selama ini diberikan Raka kepada Alya.
Malam reuni itu berlangsung meriah.
Restoran mewah yang dipilih panitia dipenuhi cahaya lampu kristal, alunan musik lembut, serta tawa para tamu yang saling melepas rindu. Meja-meja bundar dihiasi rangkaian bunga segar dan peralatan makan berkilau.
Alya datang bersama beberapa teman lamanya.
Ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang panjangnya selutut. Gaun itu tidak mahal, tetapi cukup nyaman dan membuatnya merasa percaya diri. Rambutnya hanya ditata sederhana, sementara wajahnya dipoles tipis dengan riasan yang ia miliki di rumah.
Alya tidak pernah terbiasa berdandan berlebihan.
Baginya, tampil rapi dan nyaman sudah lebih dari cukup.
Namun baru beberapa langkah memasuki ruangan, perhatian teman-temannya tiba-tiba teralihkan ke arah pintu utama.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan restoran.
Pintu belakangnya terbuka, lalu seorang wanita turun dengan anggun.
Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna hitam keemasan yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Potongannya elegan, tidak berlebihan, tetapi jelas menunjukkan bahwa gaun tersebut dibuat oleh perancang ternama.
Di lehernya melingkar kalung berlian yang berkilauan setiap kali terkena cahaya lampu.
Wajahnya tampak begitu bercahaya. Kulitnya halus, riasannya sempurna, dan rambutnya ditata dengan gaya elegan. Penampilannya menunjukkan perawatan mahal yang dilakukan secara rutin.
Beberapa teman Alya langsung terpukau.
“Siapa wanita itu?” bisik Sinta.
“Cantik sekali,” sahut Maya. “Lihat gaunnya. Pasti mahal.”
“Dia turun dari mobil mewah, lho,” tambah Rani sambil memperhatikan kendaraan yang masih terparkir di depan restoran.
Alya ikut menoleh.
Untuk sesaat, ia hanya melihat wanita itu dari belakang.
Ia mengenali wajah itu, Nadine. Yang merupakan teman satu angkatan.
Nadine berjalan memasuki restoran dengan langkah tenang. Beberapa orang langsung menyambutnya. Ia tersenyum ramah, seolah sudah terbiasa menjadi pusat perhatian.
Teman-teman Alya masih membicarakannya.
“Dia berubah sekali,” ujar Sinta. “Dulu waktu SMA, penampilannya biasa saja.”
“Sekarang seperti sosialita,” kata Maya. “Lihat kalungnya. Itu berlian asli, bukan?”
Alya tidak menjawab.Dia hanya tersenyum.
Matanya terpaku pada Nadine.
Ia ingin percaya bahwa semua itu hanya kebetulan.
Nadin mengenakan gaun mewah berwarna hitam dengan detail keemasan. Tas tangannya merupakan keluaran merek ternama. Di lehernya tergantung kalung berlian yang berkilau, sementara sebuah cincin berlian edisi terbatas menghiasi jarinya.
Malam itu, Nadine bahkan sengaja menawarkan diri untuk membayar seluruh makanan teman-temannya."Pokoknya malam ini, makanan aku yang bayar."
"Waah keren banget,"seru Deni salah satu alumni.
"Al, Nadine itu kaya banget ya, sampai dia mau bayarin makanan kita semua,"Sinta berbisik.
Ia ingin semua orang tahu bahwa hidupnya kini jauh berbeda. Suaminya adalah seorang pengusaha kaya yang mampu memberinya apa pun yang ia inginkan.
Namun bukan itu satu-satunya alasan Nadine datang dengan penampilan semewah itu.
Matanya mengamati Alya dari ujung kepala hingga kaki.
Kemudian bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.
"Jadi ini Alya..."
Nadine sudah mengetahui siapa istri sahnya Raka.
Raka pernah menunjukkan foto Alya kepadanya.
Dan sejak saat itu, Nadine diam-diam selalu penasaran seperti apa wanita yang selama lima tahun menjadi istri sah pria yang dicintainya.
Ternyata...
Alya jauh lebih sederhana daripada yang ia bayangkan.
Nadine berjalan mendekat.
"Maaf."
Alya menoleh.
"Ya?"
Nadine tersenyum ramah.
"Kamu Alya, kan?"
Alya sedikit terkejut.
"Iya. Kita pernah bertemu?"
"Ya.Kita kan satu angkatan waktu itu."
Nadine tersenyum.
"Maaf, maksudnya?"
Nadine tidak langsung menjawab. Tatapannya justru kembali mengamati pakaian Alya.
"Kamu datang sendiri?"
"Iya. Teman-temanku ada di dalam."
Nadine mengangguk.
"Lalu... suamimu?"
Pertanyaan itu membuat Alya tersenyum.
"Raka belum datang. Katanya nanti menyusul."
"Oh..."
Nadine tersenyum semakin semakin lebar.
"Raka memang begitu, ya?"
Alya menatapnya bingung.
"Maksudnya?"
Perhatian sekali kepada orang lain, tapi ternyata membiarkan istrinya datang sendirian ke acara seperti ini."
Nada suaranya terdengar halus.
Namun ada sesuatu yang membuat Alya merasa tidak nyaman.
"Raka sebenarnya perhatian," jawab Alya.
Nadine terkekeh kecil.
"Benarkah?"
"Ya."
Nadine melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Kalau begitu, aku heran."
Alya diam.
"Suamimu kan orang yang cukup berada," lanjut Nadine. "Tapi kenapa kamu datang dengan penampilan seperti ini?"
Alya menatap pakaiannya sendiri.
"Apa maksudmu?"
Nadine tersenyum.
"Bukan apa-apa. Hanya saja..."
Ia mendekat sedikit.
"Kalau aku menjadi istri seorang pria seperti Raka, aku pasti ingin tampil lebih pantas di sampingnya."
Wajah Alya mulai berubah.
Ia tidak suka cara wanita ini berbicara kepadanya.
Namun Alya masih berusaha bersikap sopan.
"Aku nyaman dengan penampilanku."
"Tentu."
Nadine tersenyum.
"Yang penting nyaman."
Ia kemudian melihat kalung kecil di leher Alya.
"Lucu."
"Ini pemberian suamiku."
Nadine terdiam sesaat.
Kemudian tersenyum.
"Raka memberikannya?"
Alya mengangguk.
"Iya. Hadiah ulang tahun pernikahan kami."
Nadine menahan tawa.
"Dia memang suka memberikan sesuatu yang sederhana."
Alya menatap Nadine.
Ada sesuatu dalam kalimat itu.
Sesuatu yang membuat dadanya tiba-tiba tidak nyaman.
Nadine kemudian mengangkat tangannya sendiri. Berlian di jarinya berkilau terkena cahaya lampu restoran.
"Ini juga pemberian seseorang."
Alya hanya tersenyum tipis.
"Bagus."
"Dia sangat menyayangiku."
Nadine sengaja mengucapkannya perlahan.
"Katanya aku pantas mendapatkan sesuatu yang lebih baik."
Alya tidak menjawab.
Nadine kemudian kembali bertanya,
"Raka tidak pernah membelikanmu perhiasan seperti ini?"
Alya menggeleng.
"Raka bukan tipe orang yang suka berlebihan."
Nadine tersenyum.
"Benarkah?"
Kemudian ia mendekat dan berbisik,
"Atau mungkin karena dia memang tidak menganggapmu perlu mendapatkannya?"
Alya terdiam.
Untuk pertama kalinya, senyum di wajahnya menghilang.
"Nona..."
"Aku hanya penasaran."
Nadine mundur satu langkah.
"Katanya Raka sangat perhatian dan penyayang kepada istrinya."
Alya menatapnya tajam.
"Memang."
Nadine mengangkat alis.
"Lalu di mana suamimu yang perhatian dan penyayang itu?"