Firman terdiam, tersenyum sebentar dan juga masih tidak percaya dengan pesan yang dia baca. Pesan melalui email tentu bukan pesan yang bisa dikirim dan diterima oleh sembarang orang di luar sana. Firman tidak akan menggunakan email untuk hal seperti itu.
Terimakasih untuk hari ini…
Firman berusaha tegar dengan pesan itu, meski dia tahu yang mengirimkan pesan bisa jadi adalah seseorang yang paling sedih karena hari itu berakhir. Laki-laki itu tahu pasti semua keadaan ini menyakitkan bagi Ilmira. Kembali ke sini juga bukan hal yang mudah. Karena itu Firman tahu pasti ada alasan yang kuat kenapa Ilmira kembali ke sebuah tempat yang kemungkinan besar akan melukainya lebih dalam.
“Pagi Mas Firman.” Kiki tersenyum saat masuk ruangan dan langsung berjalan ke ruang teller. Firman hanya tersenyum sedikit.
“Mas Firman, katanya hari ini Mba Ilmira gak ke sini ya?” Kiki tiba-tiba bertanya kepada Firman yang masih diam dengan ponsel pintarnya.
“Iya katanya karena sudah hampir 90% berhasil.” Mas Eka yang juga baru datang juga langsung ikut dalam pembicaraan. Firman terdiam sebentar.
“Tapi bukannya harus beresin administrasi yang berantakan juga? Sama cek fisik tentang kerugian nasabah?” Firman masih tidak mengerti karena dia tidak tahu jika ternyata Ilmira tidak akan datang hari ini. Meski begitu Firman terlihat cukup santai.
“Yang aku tahu si, katanya dari pusat. Mungkin agak siang nanti Mba Ilmira akan keliling sama Pak Pri soal nasabah itu.” Mas Eka langsung memberikan laporan yang tidak perlu Firman minta. Firman masih diam dan kemudian masuk ke ruangan Ilmira. Mungkin itu berarti posisinya akan kembali seperti semula meski tidak ada instruksi dari siapapun tentang semuanya ini. Firman terdiam sebentar saat duduk di sana. Teringat kejadian meski baru dua hari bersama dengan Ilmira. Teringat kekecewaannya sebelumnya.
“Mba Ilmira itu memang beda sama perempuan lain ya Mas.” Kiki sepertinya sedang mengajak Mas Eka yang duduk bersiap untuk keluar mengobrol sebentar.
“Iya, dia juga ramah si. Supel juga, kalau dulu dia sama banyak orang dikenal sekali. Pernah ditawarin pindah BPRS juga kan ya Mas Firman.” Mas Eka tiba-tiba bertanya pada Firman. Laki-laki itu sudah keluar lagi dari ruangan Ilmira.
“Iya si, soalnya dia rajin juga. Jujur juga, jarang ribut soal uang.” Firman terdengar memuji Ilmira dengan suara yang perlahan.
“Apalagi buat Mas Firman si, Mba Ilmira pasti punya tempat khusus. Kan dulu Mba Ilmira sama Mas Firman pasangan.” Mas Eka bicara seolah tidak masalah mengatakan semuanya ini.
“Masa? Mba ilmira? Sama Mas Firman?” Kiki terlihat ingin memastikan.
“Ya gak ada yang akan percaya si. Aku juga gak percaya kalau jadi kamu Ki.” Firman terlihat tersenyum sedikit sambil bersiap untuk keluar dari kantor.
“Tapi, ya gak ada si yang gak suka sama Ilmira. Jadi kalau aku suka sama dia ya wajar. Tanya Mas Eka tuh, Jams juga. Pak pri juga, hampir semua orang memang suka sama Ilmira.” Firman terlihat sudah menggenakan tas ranselnya berjalan keluar ruangannya.
“Tapi Mba Ilmiranya.” Mas Eka terlihat tersenyum dan sudah berdiri juga hendak keluar dari kantor. Firman terlihat tersenyum tersipu sedikit saat berjalan melewati Mas Eka.
“Engga juga, aku yang memang suka sama dia.” Firman terlihat mengakui sambil berjalan keluar. Setelahnya dia mengendarai motor pelan sambil mengenang masa lalu yang jauh sekali. Meski masa lalu itu terasa jauh, tapi perasaannya tidak begitu. Bagi Firman semua yang dia jalani hanya sekedar menjalani hidup. Meski Ilmira selalu berfikir sebaliknya. Firman sungguh tidak berani untuk meminta Ilmira mengulangi perasaan itu, karena dia tahu sakitnya Ilmira bahkan mungkin saat ini. Dan kenapa Ilmira kembali, itu juga masih menganggunya. Firman tahu dia akan menjaga perasaan Ilmira sebisa mungkin, dan dia tahu itu akan menyakitkan bagi perempuan itu.
Di tempat lain, Ilmira terlihat serius di depan laptopnya. Hari ini dia mendapatkan kursi di kantor pusat dan fokus pada penjualan aset yang sudah masuk.
“Mba Mira serius banget. Masih pagi Mba.” Pak Pri terlihat tersenyum karena melihat Ilmira yang sudah serius di depan laptopnya.
“Masih bingung juga Pak Pri, saya gak begitu paham terkait penjualan. Sebenarnya lebih baik Pak Pri saja yang urus. Nanti kalau soal negosiasi dan hal lainnya baru aku bantu.” Ilmira terlihat tersenyum karena dia tidak begitu paham apa yang harus dilakukan tentang penjualan. Pak Pri tersenyum lagi.
“Aku ya gak masalah si Mba, cuma kan Pak Gio bilang Mba Ilmira boleh belajar.” Pak Pri terlihat masih tersenyum.
“Ya sudah Pak Pri saja lah, aku cape juga. Belum sarapan, Jams dimana sudah berangkat?” Ilmira meluncurkan banyak pertanyaan dan kemudian dia memeriksa ponsel pintarnya. Tidak ada balasan email dari seseorang yang dia harapkan. Dia juga tidak lapar sebenarnya, sudah lama sekali sejak beberapa bulan yang lalu, Ilmira hanya merasakan sedikit lapar tidak juga ingin makan apapun bahkan minum. Terkadang dia memaksakan jika memang badannya sudah sangat meminta seperti saat ini.
“Jams sudah keluar dari tadi, ini juga sudah hampir makan siang kan?” Pak Pri terlihat menjawab meski Ilmira sudah berdiri dan hendak meninggalkan mejanya.
“Terus makan siang boleh keluar?” Ilmira bertanya dengan wajah serius kepada Pak Pri. Laki-laki itu masih diam sebentar.
“Biasanya Mas Jams si di chat aja.” Seseorang memberitahu Ilmira. Teller kantor pusat di nomer dua yang keluar dari ruang teller memberikan jawaban untuk Ilmira. Ilmira terlihat diam saja lalu kemudian berbalik.
“Kamu sudah chat? Aku nitip boleh?” Ilmira memang tidak punya nomer Jams saat itu. Mereka belum sempat bertukar nomer.
“Boleh, memangnya mau nitip apa?” Perempuan yang berusia sekitar 23 tahun itu bertanya pada Ilmira. Ilmira terdiam sebentar dan kemudian tersenyum lagi. Dia sungguh tidak merasa lapar, jadi sulit baginya memikirkan menu makan siang.
“Tidak usah saja.” Ilmira terlihat membatalkan keinginannya.
“Pak Pri, aku boleh keluar sebentar? Mungkin sekitar satu atau dua jam.” Ilmira terlihat serius dengan permintaannya.
“Mau kemana?” Pak Pri bertanya dari jauh ketika Ilmira membereskan tasnya.
“Ada beberapa tempat yang mau aku datangi.” Ilmira terlihat serius dengan apa yang dia katakan.
“Baiklah, tapi nanti sore ada meeting dengan Pak Gio. Hari ini harus ada laporan tentang penjualan atau lelang aset.” Pak Pri seolah sedang mengingatkan. Ilmira mengangguk tersenyum, paham maksud dari atasannya itu.Ilmira masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Dia kemudian memeriksa ponsel pintarnya. Tidak ada balasan dari Firman, perempuan itu tersenyum getir. Dia menyadari jika dia tidak lagi berharga bagi laki-laki yang masih sangat dia cintai itu. Sebaik apapun kondisi Ilmira saat ini, semuanya sama jika Firman tidak lagi memiliki perasaan untuknya. Semuanya terasa percuma, seolah hidupnya hanya tentang formalitas menjadi sempurna.
“Dia pasti sudah sangat benci? Mungkin meski dia mengajak aku makan kemarin itu tidak ada artinya apa-apa.” Ilmira masih bergumam pada dirinya sendiri di cermin. Firman tidak pernah menganggapnya cantik meski orang lain begitu.
Cling… Tiba-tiba ponsel pintarnya berbunyi pelan.
Hanya seperti itu dan kamu berterimakasih? Pasti banyak juga laki-laki di luar sana yang kamu berikan pesan serupa setelah mentraktir makan? Haruskah terasa istimewa?
Ilmira terdiam dengan emosi yang tidak terbendung, senang karena pesan itu dibalas, namun sedih karena balasan yang dia dapatkan saat ini. Lalu, haruskah dia berkata satu persatu tentang apa yang dia korbankan untuk Firman selama ini? Ilmira berusaha tegar, dia kemudian melanjutkan berkendara meninggalkan kantor pusat.