Ilmira mengendarai mobilnya menembus sore yang cerah. Sinar matahari masih terasa hangatnya apalagi mobil Ilmira memang tidak memiliki ac di dalamnya. Maklum, kijang lama milik bapak Ilmira ini pasti makan banyak biaya jika harus benar dibereskan. Tapi Ilmira tidak pernah merasa rendah diri karena mobil itu, perempuan itu justru bangga dengan apa yang dia miliki saat ini. Meski mungkin hanya perihal mobil saja.
“Tinggal masalah penjualan?” Terdengar suara Pak Gio membuat Ilmira sedikit menghela nafas. Perempuan itu harus memasang wajah tersenyum dan juga bersemangat di depan orang lain. Seperti biasa ketika Ilmira sampai kedatangannya sudah ditunggu dan tentu saja masih membicarakan perihal masalah pengembalian aset.
“Mba Mira, Mas Firman.” Pak Gio menyambut dengan menyebut nama mereka berdua ketika Ilmira berjalan pelan dari parkiran beriringan dengan Firman yang juga baru turun dari motornya.
“Saya tidak mengira akan semudah ini. Mba Mira memang aset kantor yang dibutuhkan.” Pak Gio langsung memberikan pujian. Mira hanya mengangguk perlahan dan kemudian tersenyum, dia melirik kearah samping untuk melihat ekspresi Firman karena pujian untuknya. Bukan, biasanya Firman tidak iri, dia cenderung cemburu karena pujian yang ditujukan oleh Pak Gio pada Ilmira. Entah bagaimana bisa dijelaskan, tapi begitulah Firman. Itu juga menjadi sebuah sebab jika Ilmira tidak terlalu suka terlihat oleh laki-laki lain. Firman sangat pencemburu, meski hanya melihat dan mendengar saja.
“Karena Firman juga, tapi sekali lagi sebenarnya Eri juga punya niat baik.” Ilmira masih dengan pemikirannya yang terdengar polos bagi semua orang.
“Penjualan juga sepertinya sedikit mudah ya kan?” Pak Gio bertanya kepada manager kantor. Pak Pri mengangguk pelan sambil tersenyum.
“Kalau begitu mungkin tugas membantu saya selesai sampai disini?” Ilmira terlihat tersenyum mencoba untuk undur diri meski baru dua hari. Benar, dua hari tapi sungguh menyiksa bagi Ilmira karena perlakuan Firman. Ilmira selalu saja membandingkan Firman yang dulu dan yang dia lihat sekarang. Bukan tentang fisiknya, tapi tentang sikap dan perasaannya yang sudah berbeda bagi Ilmira.
“Belum Mba, kalau bisa bantu terus. Kan harus benerin administrasinya juga. Syukur-syukur terus di sini saja Mba.” Pak Pri yang merupakan manager kantor terlihat tersenyum memberikan tawaran. Ilmira melihat ke arah Firman sebentar. Firman juga terlihat mengarahkan pandangannya pada Ilmira meski tidak tersenyum.
“Tapi sebenarnya perjanjiannya hanya sampai masalah ini selesai.” Ilmira menjawab dengan tenang masih tetap pada pendiriannya.
“Perjanjian kan bisa berubah. Selain itu harus ada syukuran juga karena masalah ini terbilang bisa selesai dengan baik. Jalur hukum juga berhenti. Tuntutan kepada kantor juga.” Pak Gio terlihat begitu senang dan bangga. Ilmira hanya mengangguk sedikit dan tersenyum menjaga kesopanan.
“Kalau bisa ajak Eri juga sebagai bentuk perdamaian.” Ilmira membuat semua orang berhenti tersenyum. Hanya Firman yang diam-diam melirik orang yang paling dia cintai itu. Firman hendak tersenyum tapi menahan diri.
“Boleh, bagus juga.” Pak Gio terlihat tidak setuju tapi menjawab dengan penuh wibawa.
“Kalau begitu saya permisi dulu Pak.” Ilmira terlihat hendak meninggalkan kantor dan semua orang yang masih berdiri di pintu samping kantor.
“Saya juga Pak, kalau tidak ada lagi yang akan dibicarakan.” Firman mengikuti Ilmira berjalan menuju kendaraannya. Pak Gio dan Pak Pri masuk ke dalam ruang kantor.
“Langsung pulang?” Firman bertanya seolah tidak kepada Ilmira. Perempuan itu menoleh sebentar dan melihat ke arah Firman yang sudah naik motornya hendak menggenakan helm.
“Nanya ke aku?” Ilmira bertanya balik karena tidak melihat Firman menatapnya ketika bertanya.
“Iya, kamu mau langsung pulang?” Firman terlihat santai mengulang pertanyaan tapi tidak tersenyum.
“Iya.” Ilmira menjawab singkat dan kemudian membuka pintu mobilnya.
“Ngobrol dulu?” Firman terlihat tidak melihat ke arah Ilmira tapi mengajak perempuan itu bersamanya.
“Gak usah, aku gak mau memulai masalah. Aku kan datang untuk menyelesaikan masalah.” Ilmira terlihat serius dengan apa yang dia katakan.
“Menurutmu kamu menyelesaikan masalah?” Firman terlihat melayangkan pandangan pada Ilmira dan mereka berdua kini saling menatap. Ilmira masih tidak mengerti dengan apa yang Firman katakan, tapi kalau boleh dia ingin berlari memeluk laki-laki itu meski hanya dalam bayangnya saja.
“Iya.” Ilmira menjawab pendek dan memalingkan pandangannya ke arah lain.
“Ikuti aku, kita bicara sebentar.” Firman tidak mengulang apa yang dia katakan dan segera menggenakan helmnya. Dan entah kenapa Ilmira masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dan tentu saja mengekor Firman yang mengendarai motor. Ilmira tidak tahu mengapa dia melakukan semua itu. Tapi dia juga penasaran, kenapa Firman begitu ingin bicara berdua seperti itu. Mungkin laki-laki itu hanya ingin bicara perihal masalah kantor, atau keberatan tentang hadirnya Ilmira di sana. Motor Firman melambat dan akhirnya berhenti di sebuah tempat yang tidak terlalu ramai. Tempat makan yang sepertinya memang terbilang sepi, tapi Ilmira tidak masalah dengan hal itu. Perempuan itu paham benar jika dia terlalu dekat dengan Firman maka akan timbul gosip baru. Jadi wajar jika mereka melakukan hal seperti ini. Ilmira turun dengan ponsel pintar dan dompet kecilnya. Dia kemudian mengikuti Firman yang berjalan di depan menyapa pelayan yang menunjukkan tempat untuk mereka berdua. Ilmira duduk, memesan makanan begitu juga dengan Firman. Setelahnya mereka kemudian saling pandang dalam diam untuk beberapa saat.
“Apa kesepakatanmu sama Pak Gio?” Firman langsung bertanya hal yang sudah berulang kali Ilmira jawab. Perempuan itu menghela nafas pendek karena kesal berkali-kali menjelaskan.
“Kamu tidak suka melihatku karena permasalahan terakhir kita? Tentang Rama?” Ilmira dengan tegas bertanya, tentu Firman sebenarnya tidak suka jika mereka akan membicarakan masalah itu.
“Itulah masalahmu, sejak dulu laki-laki tidak bisa melihat kalau kamu istimewa.” Firman kali ini terlihat memberikan sindiran.
“Aku biasa saja, Pak Gio hanya memberikan penawaran. Dan aku terima, lalu apa masalahnya? Kamu terkesan tidak suka begitu melihatku.” Ilmira menumpahkan segala kekesalannya selama dua hari ini. Ilmira meletakkan tas kecil dan ponsel pintarnya di meja tempat mereka duduk lesehan menunggu pesanan.
“Aku tahu kamu kesal karena masalah terakhir kita. Aku sudah berkali-kali minta maaf tapi sepertinya itu masih menyakitkan. Tapi bagaimana lagi? Aku hanya diminta untuk membantu.” Ilmira kembali menjelaskan kondisinya saat ini. Firman terdiam menatap perempuan yang paling dia cintai sambil tersenyum hangat, kali ini senyuman manis itu benar disunggingkan oleh laki-laki yang paling Ilmira pedulikan di dunia ini.
“Aku, gak bisa kesal sama kamu. Kamu tahu itu kan? Aku selalu gak bisa marah, aku hanya merasakan sakit saja terakhir kali. Tapi melihat kamu di sini sepanjang waktu terlalu menyenangkan sampai aku lupa.” Firman terlihat berbicara pelan dan lembut. Ilmira sama sekali tidak mengerti mengapa Firman bersikap seperti itu. Dia masih diam dan hanya memperhatikan.
“Pak Gio bilang kamu aset yang telah kembali. Aku... senang kamu kembali, tapi orang lain menilai ini adalah sebuah balas dendam terbaik. Karena kamu sekarang seperti ini, dan aku seperti ini.” Firman menjelaskan perlahan masih sambil menatap Ilmira dengan senyum.
“Kamu seperti ini dan aku seperti ini? Kamu bahagia dengan hidupmu kan? Sedangkan aku kamu lebih tahu dari orang di luar sana. Lalu kenapa? Kenapa aku harus membalas dendam? Kamu tahu rasa benciku sudah terlalu jauh, sampai tidak lagi aku rasakan.” Ilmira mengatakan semua yang dia rasakan saat ini. Firman cukup tahu apa yang Ilmira rasakan, sekali lagi entah mengapa mereka seperti bisa saling membaca satu sama lain meski tidak berucap. Bahkan mereka terpisah cukup lama dan kembali masih dengan perasaan yang sama meski secara penampilan sungguh berbeda.
“Mereka menganggap aku aset, benda berharga?” Ilmira terlihat tersenyum kecut sedikit. Firman masih diam dan tersenyum.
“Jika kamu aset, setidaknya kamu berharga. Tidak seperti aku.” Firman berusaha meninggikan Ilmira.
“Kamu juga sama?” Ilmira bertanya dengan wajah serius, sedangkan Firman tersenyum karena pertanyaan Ilmira saat itu. Hanya tersenyum dan tidak menjawab apa yang Ilmira tanyakan.
“Aku mengerti, sebagai aset yang berharga aku akan menyelesaikan semuanya dengan baik dan cepat.” Ilmira terlihat tersenyum sedikit dan kemudian menikmati hidangan yang diantarkan oleh pelayan.
Aset, barang berharga? Kamu bahkan bisa lebih dari sekedar perasaan cinta bagiku Ilmira. Andai aku bisa mengatakan dan mewujudkannya, bukan malah melukai kamu sedalam ini.