Bagian membangun ulang dibuka dengan menolak sebuah gambaran yang salah.
Orang suka membicarakan hubungan yang retak seperti barang pecah belah: pecahannya dikumpulkan, direkatkan hati-hati, lalu dipajang sebagai bukti bahwa sesuatu yang rusak bisa dibuat indah lagi. Gambaran itu terdengar bagus, dan itulah masalahnya.
Vas dipajang. Vas tidak dipakai. Vas ditaruh di tempat yang tidak akan tersenggol siapa pun, dan setiap orang yang lewat diingatkan untuk berhati-hati.
'Kita bukan vas,' kata Saira pagi itu, sambil menatap papan di dinding dapur.
Ia berdiri di situ lebih lama dari biasanya — lebih lama menatap baris bertuliskan meja bukan vas daripada baris bertuliskan belum selesai, yang selama berminggu-minggu selalu jadi yang pertama dibacanya.
Bisma meletakkan secangkir kopi di sampingnya tanpa berkata apa-apa.
'Meja itu dipakai,' lanjut Saira. 'Ditumpahi kopi, digores pisau, dipukul waktu marah. Diasah kalau permukaannya kasar. Tapi tetap dipakai tiap hari. Saya mau yang begitu.'
'Meja,' kata Bisma. 'Setuju.'
Di dasbor mobil mereka masih menempel dua kertas catatan — pengingat protokol yang dipasang berbulan-bulan lalu, isinya hal-hal yang tidak boleh dilakukan saat berkendara sendirian. Pagi itu, sebelum mesin dinyalakan, Bisma menatapnya agak lama.
'Fakta: perkaranya sudah di jalur,' katanya. 'Rasa: saya ingin mencabut kertas ini sekarang juga, karena rasanya seperti tanda bahwa kita masih hidup dalam keadaan darurat. Stop. Belum. Tim hukum belum bilang aman sepenuhnya.'
'Diterima,' kata Saira. 'Dan saya juga hampir menurunkan peta yang di ruang kerja.'
'Kenapa tidak jadi?'
'Karena saya ingin menurunkannya sambil bilang ini sudah selesai,' katanya. 'Dan itu belum benar. Nanti diturunkan pelan-pelan, waktu saya sudah tidak butuh mengumumkan apa-apa dengan menurunkannya.'
Mira menelepon dari rumah ibu Saira menjelang siang.
'Fakta: aku mulai mengemasi barang ke kos,' katanya. 'Bertahap, dua tas dulu. Rasa: takut, dan pada saat yang sama ingin sekali. Stop.'
'Heru sudah setuju?' tanya Saira.
'Sudah. Pengamanannya juga sudah dinilai turun,' kata Mira. Lalu nadanya berubah sedikit. 'Tapi ada satu hal yang mau kutagih dulu.'
'Sebut.'
'Jangan jadikan kepulanganku sebagai bukti bahwa semuanya sudah sembuh,' katanya. 'Aku pindah karena keadaanku memungkinkan, bukan karena ceritanya sudah bahagia. Kalau kalian mulai menceritakan ini ke orang sebagai tanda pemulihan, aku akan marah.'
'Ditagih dan diterima,' kata Saira. 'Bukan poster.'
'Bagus.' Suara Mira melunak. 'Sekarang, kalau mau bantu angkut, boleh. Satu dus saja. Jangan bawa rombongan.'
Bisma meminjam mobil bak kecil dari bagian umum kantor — bukan mobil dinas, dan bukan dengan sopir. Mereka datang berdua, siang hari, tanpa memberi kabar kepada siapa pun.
Isi dusnya biasa saja: pakaian, panci kecil, gelas-gelas yang tidak cocok satu sama lain, setumpuk buku, dan sebuah stiker yang sudah mengelupas di sisi dus — sisa dari masa kuliah, ketika ketiganya masih berbagi kamar sewaan yang sempit dan menganggap masalah terbesar hidup adalah uang bulanan yang selalu habis di minggu ketiga.
'Aku sempat mikir mau buang stiker ini,' kata Mira sambil mengangkat sisi dus.
'Jangan,' kata Saira.
'Kenapa?'
'Karena itu satu-satunya barang di dus ini yang lebih tua dari semua masalah kita.'
Kamar kos itu lebih kecil dari kamar tamu di rumah mereka, dan Mira tahu persis apa yang sedang dipikirkan kedua tamunya.
'Jangan mulai,' katanya sebelum ada yang sempat bicara.
'Saya belum bilang apa-apa,' kata Bisma.
'Kau sudah melihat langit-langitnya dua kali dan menghitung berapa lama aku bisa bertahan di sini,' kata Mira. 'Aku kenal kau sejak kau masih naik motor butut. Jangan tawarkan apa pun.'
Saira menahan tawa.
'Aku serius,' lanjut Mira. 'Kalau kalian tawarkan uang atau tempat, hubungan kita berubah. Aku berhenti jadi orang yang bisa memarahi kalian, dan mulai jadi orang yang berutang. Aku tidak mau itu.'
'Diterima,' kata Saira.
'Bagus.' Mira mengangkat satu tumpuk buku dari dus. 'Sekarang bantu susun ini, jangan berdiri saja seperti dua orang yang lagi mengunjungi rumah sakit.'
Mereka mengangkut dus itu naik ke lantai dua kos, meletakkannya di tengah kamar yang masih kosong dan berbau cat, lalu duduk di lantai selama sepuluh menit tanpa melakukan apa-apa.
Sebelum pulang, Mira menyeduh teh dengan panci kecil yang baru saja dikeluarkan dari dus, karena belum ada teko di kamar itu. Rasanya biasa saja dan gelasnya tidak seragam, dan ketiganya meminumnya sambil duduk di lantai.
'Berapa lama kalian kira aku bisa bertahan di sini?' tanya Mira tiba-tiba.
'Kau tadi melarang kami memikirkan itu,' kata Saira.
'Aku melarang kalian menawarkan sesuatu,' kata Mira. 'Memikirkan boleh.'
'Selama yang kau mau,' kata Bisma.
Mira mengangguk, dan tidak melanjutkan. Tapi ketika mereka berdiri hendak pamit, ia berkata satu kalimat lagi, tanpa menoleh.
'Terima kasih tidak membawa siapa-siapa hari ini.'
Tidak ada foto yang diambil. Tidak ada yang mengunggah apa pun. Tidak ada satu pun kalimat yang berbunyi seperti akhir cerita.
Di perjalanan pulang dari kos itu, mereka melewati jalan yang sudah berbulan-bulan mereka hindari — jalan tempat mobil Saira pernah dipepet, malam ketika semuanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar fitnah.
Bisma menyadarinya lebih dulu, dan tangannya menegang di setir.
'Mau lewat jalan lain?' tanyanya.
Saira memandang ke depan cukup lama.
'Tidak usah,' katanya. 'Tapi pelan-pelan saja.'
Mereka melewatinya dengan kecepatan biasa. Jalannya tidak berubah sama sekali: warung yang sama, pohon yang sama, lampu jalan yang masih mati di titik yang sama seperti dulu.
Saira tidak menangis, dan tidak pula berpura-pura tidak merasakan apa-apa.
'Saya kira akan lebih berat,' katanya setelah tikungan berikutnya.
'Dan ternyata?'
'Ternyata cuma jalan,' katanya. 'Yang berat itu ingatannya, dan ingatan tidak ada di aspal.'
Bisma tidak berkomentar. Tapi malam itu, di papan, ia menambahkan satu baris yang tidak diminta siapa pun: lewat jalan itu lagi, siang, pelan. Tidak dihindari.
Ketika mereka pulang, Saira menuliskan satu baris di papan, di bawah semua baris yang sudah ada.
Membangun ulang dimulai dari satu dus, bukan dari pidato.
Dan di bawahnya lagi, karena ia sudah belajar untuk tidak pernah menutup daftar tanpa pengingat: belum selesai.