Batch itu ditutup dengan cara yang sama seperti semua batch sebelumnya: berdiri di depan papan, membaca ulang posisi dengan suara keras, dan memastikan tidak ada yang berubah menjadi lebih indah di dalam kepala mereka daripada kenyataannya.
Saira yang membaca.
Seto ditahan sesuai prosedur. Skenario pengumuman dipakai, dan dipakai tanpa perayaan. Serangan kotor terakhir sudah datang dan sudah dilawan lewat jalur yang benar. Kabar palsu yang sempat beredar sudah dikoreksi tanpa nada. Undangan panggung ditolak, dua-duanya. Para saksi masih dijaga. Berkas menyangkut Laras, R.W., dan Nadine masih berjalan. Protokol pengamanan dilonggarkan bertahap, bukan dicabut. Mira mulai merencanakan kembali ke kosnya, juga bertahap.
Di rumah: meja diasah, empat malam tanpa hukum berhasil dijalankan, satu kegiatan biasa terlaksana, dan satu pertengkaran kecil soal kaus kaki yang tertinggal di ruang tengah sempat terjadi dan selesai dalam sepuluh menit.
Lega yang kecil ditulis. Toples belum kosong.
Lalu baris terakhir, yang ditulis paling besar di papan itu:
Belum selesai.
'Saya baca keras,' kata Saira, 'supaya perasaan enak yang bilang semuanya sudah beres tidak menang tanpa perlawanan.'
'Diterima,' kata Bisma. 'Penahanan bukan akhir cerita. Dan minggu asah bukan liburan.'
Ada satu hal di inventaris itu yang paling lama mereka pandangi, dan bukan bagian tentang perkara.
Baris tentang pertengkaran kaus kaki.
'Kenapa kau tulis itu?' tanya Bisma. 'Itu bahkan tidak penting.'
'Justru karena tidak penting,' kata Saira. 'Selama lima bulan, semua yang kita ributkan besar. Semua punya akibat. Semua bisa berujung ke berkas, ke portal, ke keselamatan orang. Sabtu kemarin kita bertengkar soal kaus kaki yang kau tinggal di ruang tengah, dan sepuluh menit kemudian selesai, dan tidak ada satu pun akibatnya.'
Ia mengetuk papan itu sekali dengan ujung jari.
'Itu yang paling saya rindukan dari hidup kita yang dulu. Bukan bahagianya. Ributnya yang kecil-kecil.'
Bisma tidak menjawab, tapi malam itu ia menambahkan sendiri satu baris di bawah tulisan istrinya, dengan spidol yang sama.
Yang kecil dibiarkan tetap kecil. Itu juga bagian dari asah.
Mira mengirim balasan atas foto papan itu dengan gaya biasanya: inventaris diterima; rencana pindah kos berjalan bertahap; kalian berdua jangan sok jadi pahlawan yang menutup babak; tidur.
Sebelum pesan itu datang, ada satu bagian dari inventaris yang hampir tidak jadi ditulis.
Saira sempat berdiri lama di depan papan dengan spidol di tangan, ragu.
'Kenapa?' tanya Bisma.
'Ada satu hal yang belum pernah saya tulis di papan ini,' katanya. 'Dan saya tidak yakin ini termasuk posisi atau termasuk perasaan.'
'Tulis saja. Nanti kita putuskan bersama.'
Ia menulisnya di sudut kanan bawah, dengan huruf yang lebih kecil dari semua tulisan lain di papan itu: saya masih takut tidur sebelum jam satu.
Bisma membacanya, dan tidak langsung menjawab.
'Sejak kapan?' tanyanya akhirnya.
'Sejak malam mobil itu,' kata Saira. 'Bukan mimpi buruk. Cuma badan saya menolak tidur sebelum saya dengar semua pintu sudah dikunci dan tidak ada suara di halaman selama satu jam penuh.'
'Kenapa baru bilang sekarang?'
'Karena selama lima bulan ini ada hal-hal yang lebih mendesak,' katanya. 'Dan karena saya kira ini akan hilang sendiri kalau perkaranya selesai.'
Bisma mengambil spidol dari tangan istrinya dan menambahkan satu baris di bawah tulisan itu.
Dibawa ke Heru, minta rujukan orang yang tepat. Bukan urusan yang diselesaikan sendiri di meja ini.
'Bukan sekarang,' kata Saira.
'Bukan sekarang,' Bisma setuju. 'Tapi ditulis, supaya tidak hilang waktu kita sibuk.'
Heru mengirim pesan lebih panjang, dan isinya membuat keduanya diam sebentar.
Minggu-minggu berikutnya, tulisnya, adalah bagian yang paling sering diremehkan orang. Perkara masih berjalan. Sisa jalur masih ada. Dan justru di masa ini, ketika ancaman besarnya sudah lewat, orang mulai kembali ceroboh: mulai bicara di tempat umum, mulai membalas komentar, mulai merasa berhak bercerita. Jangan longgar karena bosan, tulisnya. Longgar boleh karena keadaan berubah, bukan karena capek waspada.
Bagian yang paling mereka ingat dari pesan itu bukan peringatannya, melainkan satu kalimat di paragraf terakhir.
Orang paling sering hancur bukan waktu badai, tulis Heru. Waktu badai semua orang siaga. Yang menghancurkan itu bulan ketiga sesudahnya, ketika semua orang sudah bosan waspada tapi keadaannya belum benar-benar berubah.
'Dia menulis itu dari pengalaman,' kata Bisma.
'Kelihatan,' kata Saira.
Mereka memutuskan satu hal malam itu, dan menuliskannya sebagai aturan tambahan: peninjauan protokol tetap dilakukan tiap dua minggu bersama Heru, meskipun tidak terjadi apa-apa. Bukan karena ada ancaman, melainkan supaya keputusan melonggarkan sesuatu selalu diambil berdasarkan penilaian, bukan berdasarkan rasa bosan.
Saira membacanya dua kali, lalu meletakkan ponselnya.
Ia meraih tangan suaminya di atas meja kayu itu — bukan gerakan besar, hanya tangan yang diletakkan di atas tangan.
'Bagian hukum yang paling mengencang sudah lewat,' katanya. 'Yang berikutnya bukan pengadilan. Yang berikutnya kita.'
'Kita,' Bisma mengulang.
'Dan saya tidak mau kita membawa vas ke bagian itu,' kata Saira. 'Saya mau kita membawa meja.'
Bisma mengangguk pelan. Ia tidak bertanya apa maksudnya, karena sudah tahu — itu kalimat yang sudah beberapa minggu ini muncul di antara mereka tanpa pernah benar-benar dijelaskan, dan besok pagi kalimat itu akan naik ke papan sebagai baris pertama batch berikutnya.
Sebelum naik, Bisma menutup papan itu dengan satu hal yang sudah jadi kebiasaannya: memotret seluruh papan dengan ponsel, lalu mengirimkannya ke Heru dan Mira sekaligus.
'Kenapa selalu difoto?' tanya Saira pertama kali ia melakukannya, berbulan-bulan lalu.
'Supaya ada yang tahu isi kepala kita hari ini,' jawabnya waktu itu. 'Kalau besok salah satu dari kita berubah pikiran diam-diam, ada dua orang di luar yang bisa membandingkan.'
Malam itu ia melakukannya lagi, dan seperti biasa, tidak ada yang membalas selain satu kata dari Mira: diterima.
Lampu dapur dimatikan pelan-pelan, satu saklar setelah yang lain.
Di rak, toples itu tetap penuh. Di dinding, papan itu tetap berisi kata yang paling penting dari semuanya — bukan kata menang, bukan kata selesai, melainkan dua kata yang mereka tulis paling besar dan paling sering: belum selesai.