Kata itu muncul pertama kali di ruang rapat kecil kantor pengacara, pukul sepuluh pagi, dan langsung diberi pagar sebelum sempat menyebar.
'Dekat,' kata Heru. 'Bukan sudah.'
Di atas meja ada berkas yang sudah dinilai cukup untuk mengajukan langkah yang lebih tegas terhadap Seto. Risiko orang itu menghilangkan barang bukti dan memengaruhi saksi kini punya dasar yang bisa dituliskan, bukan sekadar dugaan. Semua yang ada di ruangan itu tahu artinya.
Dan semua yang ada di ruangan itu juga tahu apa yang paling berbahaya dari kabar semacam ini.
'Keputusannya bukan milik kita,' lanjut Heru. 'Bukan milik direktur utama, bukan milik pengacara, bukan milik siapa pun yang duduk di meja ini. Ada aparat, ada hakim, ada prosedur yang tidak peduli seberapa lelah kalian.'
'Berapa lama?' tanya Bisma.
'Tidak ada yang bisa menjanjikan itu,' kata Heru. 'Yang bisa saya janjikan cuma satu: kalau kalian bocorkan malam ini, besok kata dekat itu berubah jadi jauh.'
Aturan yang mereka pakai sejak awal berlaku lagi — jeda empat jam sebelum kabar apa pun boleh keluar dari meja itu, bahkan kepada orang terdekat. Bukan untuk merahasiakan, melainkan supaya tidak ada keputusan yang diambil di menit-menit pertama ketika perasaan masih paling keras.
Empat jam itu terasa jauh lebih panjang dari yang seharusnya.
Di rumah, malam harinya, mereka menjalankan format seperti biasa.
'Fakta: berkasnya dinilai cukup untuk langkah lebih tegas,' kata Saira. 'Rasa: saya ingin membeli kue. Sekaligus saya ingin menangis karena takut ini gagal di menit terakhir. Dua-duanya ada. Stop.'
Ia berhenti sebentar.
'Dan saya tidak akan menelepon grup keluarga. Saya sudah hampir menekan tombolnya tadi di mobil.'
'Fakta: dewan akan mendengar kata dekat dan menganggapnya selesai,' kata Bisma. 'Rasa: saya lapar sekali pada kata selesai. Saya ingin sekali mengucapkannya di rapat besok. Stop. Belum selesai. Yang saya bawa besok cuma angka.'
Kepada Mira, Saira mengirim pesan yang isinya jujur tanpa dilebihkan: dekat, belum.
Balasan datang cepat, dan seperti biasa tidak ramah dengan cara yang justru menenangkan. Diterima. Gembok tetap terpasang. Jangan ada yang membuka botol apa pun. Aku tetap menagih.
Ibu mengirim satu kata seperti biasanya: makan. Gunawan tidak mengirim apa-apa, dan itu memang bentuk dukungannya sejak dulu.
Yang mereka takutkan datang keesokan siangnya, dan datang dari arah yang sudah diperkirakan Heru sejak awal.
Sebuah kabar beredar di portal kecil, lalu menyebar ke grup-grup pesan dalam hitungan menit: bahwa Seto ditahan malam sebelumnya.
Itu tidak benar.
Bagian humas perusahaan sudah menyiapkan pernyataan menyambut ketika Bisma menghentikannya di depan pintu ruang rapat.
'Tidak ada pernyataan,' katanya. 'Kita tidak mengoreksi kabar bagus yang salah dengan cara yang membuat kita kelihatan ikut merayakan. Koreksinya internal, satu kalimat, tanpa nada.'
Kalimatnya dikirim ke seluruh lini: belum ada putusan; kabar yang beredar tidak benar; tidak ada komentar dari perusahaan.
Saira menelepon ibunya lebih dulu sebelum perempuan itu sempat membaca dari orang lain. Mira mencabut sambungan internetnya selama satu jam supaya tidak tergoda membantah orang-orang di kolom komentar.
Menjelang sore, sebagian portal sudah mengoreksi. Sebagian lagi tidak, dan tidak ada yang bisa dilakukan soal itu.
Sebelum pulang, ada satu percakapan pendek di lorong kantor yang tidak masuk laporan mana pun.
Seorang manajer senior — orang yang selama ini paling banyak bertanya tentang perkembangan kasus di ruang rapat — mencegat Bisma di dekat lift.
'Kalau memang sudah dekat,' katanya, 'kenapa tidak kita siapkan saja pernyataannya dari sekarang? Biar begitu putusannya keluar, kita yang pertama bicara.'
Bisma berhenti berjalan.
'Karena kalau kita menyiapkan pernyataan kemenangan sekarang,' katanya, 'mulai besok setiap orang di perusahaan ini akan bekerja dengan asumsi bahwa kita sudah menang. Dan orang yang merasa sudah menang berhenti menjaga bukti.'
'Tapi kalau kalah?'
'Kalau kalah, pernyataan itu tidak akan pernah dipakai, dan kita sudah telanjur bocor bahwa kita menyiapkannya,' kata Bisma. 'Jadi tidak ada untungnya di kedua arah.'
Manajer itu mengangguk dengan wajah orang yang belum sepenuhnya setuju, lalu masuk ke lift yang berlawanan arah.
Bisma menceritakan percakapan itu di meja malam harinya, sebagai bagian dari laporan yang hampir — bukan karena ia hampir melanggar, melainkan karena ia ingin ada saksi bahwa tawaran itu pernah datang.
Malamnya, papan di dapur bertambah beberapa baris.
Dekat. Bukan sudah. Kabar palsu ditahan, dikoreksi tanpa nada. Jeda empat jam dijalankan. Tidak ada perayaan.
Di bawahnya, satu baris lagi, ditulis Saira dengan huruf lebih kecil: goyah kemarin jangan ditutup dengan pesta hari ini.
Dua potongan kertas baru masuk ke toples: kue dekat, dan selesai.
Mereka tidur dengan kata dekat yang ditahan di dalam rumah — cara yang sama persis seperti berminggu-minggu sebelumnya, ketika yang harus ditahan adalah kata hampir.
Ada satu hal yang berubah malam itu, kecil sekali, dan hanya Saira yang menyadarinya.
Sejak berminggu-minggu, setiap kali ada kabar penting, ia selalu tidur dengan ponsel di dekat bantal — bukan karena menunggu kabar baik, melainkan karena takut ketinggalan kabar buruk. Kebiasaan itu tumbuh sendiri, tanpa pernah diputuskan.
Malam itu ia meletakkan ponselnya di meja rias, jauh dari jangkauan tangan, dan mematikan getarannya.
Bukan karena ia yakin tidak akan ada apa-apa. Karena ia sadar bahwa kalau memang terjadi sesuatu pada pukul tiga pagi, tidak ada satu pun hal berguna yang bisa ia lakukan dari kamar itu, dan yang tersisa hanya bangun sampai subuh dengan kepala penuh.
'Itu keputusan bagus,' kata Mira ketika mendengarnya, dua hari kemudian. 'Bangun jam tiga pagi tidak pernah membantu siapa pun kecuali orang yang mau kalian ceroboh.'
Pagi berikutnya, kopi dibuat seperti biasa. Tidak ada roti tambahan, tidak ada ucapan selamat, tidak ada satu pun kalimat yang berbunyi seperti awal dari sesuatu yang menyenangkan.
Kata dekat masih dekat. Belum lebih dari itu.