Saira menemukan sisanya dalam tiga hari — tiga hari membaca arsip berita dua belas tahun lalu, laporan pengadilan yang menguning, dan satu wawancara lama di majalah bisnis yang membuat tangannya berhenti di udara.
Ceritanya utuh sekarang. Kusuma Wardhana, pemilik Kusuma Logistik di Pontianak, mengikat kerja sama ekspansi dengan Grup Maheswara — perusahaan ayah Saira. Enam bulan berjalan, Kusuma Logistik kolaps: utang menumpuk, kontrak berantakan, aset disita bank. Ayah Jati kehilangan segalanya dalam setahun, dan keluarganya tercerai-berai tak lama setelahnya. Jati yang waktu itu mahasiswa semester akhir menyaksikan ayahnya menjual rumah tempat ia dibesarkan.
Dalam ingatan publik kecil yang tersisa, nama perusahaan ayah Saira disebut-sebut sebagai mitra yang 'menarik diri di saat kritis'. Tidak pernah ada tuduhan resmi. Tetapi bagi seorang anak berusia dua puluh dua tahun yang menonton ayahnya hancur, tidak perlu ada tuduhan resmi. Butuhnya cuma satu nama untuk disalahkan.
Dan nama itu adalah Maheswara. Nama keluarganya.
Sekarang Saira mengerti segalanya: 'kebetulan-kebetulan' yang terlalu rapi, foto-foto dari sudut yang terlalu tepat, dan paket-paket yang sampai ke suaminya tanpa pengirim. Jati tidak pernah kembali untuk merebutnya. Ia kembali untuk membuat Saira merasakan apa yang dirasakannya dua belas tahun lalu: menonton keluarga hancur pelan-pelan dari dalam rumah sendiri.
Dan senjatanya bukan dusta — senjatanya adalah kecurigaan yang ditanam rapi di kepala Bisma.
Saira duduk lama di depan laptopnya. Air matanya jatuh tanpa ia perintahkan — bukan untuk dirinya, tetapi untuk suaminya yang sedang diberi racun sedikit demi sedikit dan tidak punya siapa pun untuk bertanya. Bisma tidak tahu apa-apa tentang Jati. Bisma bahkan tidak tahu bahwa istrinya pernah mencintai lelaki itu. Semua kecurigaannya berdiri di atas fondasi yang tidak pernah Saira berikan: kejujuran di malam gala itu.
*'Aku bahkan hampir lupa namanya.'* Kebohongan kecil untuk menghindari keributan — yang kini menjadi bukti utama dalam pengadilan diam-diam di kepala suaminya.
Ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal. Saira mengangkatnya dengan tangan gemetar.
'Kamu sudah menemukannya.' Suara Jati. Tenang, hampir lembut. 'Aku tahu kamu akan menggali. Kamu selalu pintar, Rai.'
'Jati...' Saira menekan suaranya agar tidak pecah. 'Apa pun yang terjadi pada keluargamu, aku turut berduka. Tapi aku tidak melakukan apa-apa padamu. Ayahku—'
'Ayahmu menarik modalnya di minggu yang sama saat ayahku butuh jembatan tiga puluh hari.' Suara itu akhirnya retak, memperlihatkan bara di balik esnya. 'Tiga puluh hari, Rai. Ayahmu tinggal menunggu tiga puluh hari, dan perusahaan kami selamat. Dia memilih memutus kontrak untuk menyelamatkan neracanya sendiri. Keluargaku habis. Ibuku sakit. Dan kau tahu apa yang kuterima dari keluargamu? Surat. Surat resmi dari pengacara.'
'Ayahku sudah meninggal lima tahun, Jati. Dendammu ditujukan ke orang yang salah.'
'Tidak.' Jeda panjang. 'Dendamku ditujukan ke kebahagiaan yang dibangun di atas kehancuran keluargaku. Kau menikah dengan CEO tampan, di rumah besar, di lingkaran yang dulu menolakku mentah-mentah. Aku cuma ingin kau tahu rasanya, Rai. Rasanya ketika rumah yang kau banggakan mulai retak dan kau tidak tahu cara menambalnya.'
'Hentikan sekarang.' Saira berdiri. 'Aku akan ceritakan semuanya ke Bisma. Malam ini juga.'
Jati tertawa pelan. 'Silakan. Ceritakan bahwa kau berbohong sejak malam pertama kalian bertemu denganku. Ceritakan bahwa kau mantan kekasihku. Ceritakan semuanya — dan lihat apakah suamimu yang sedang mencurigaimu akan mempercayai satu kata pun.'
Sambungan diputus.
Saira berdiri di tengah ruang kerjanya dengan ponsel di tangan, dan untuk pertama kalinya ia melihat jebakan itu secara utuh: setiap jalan keluar sudah dihitung. Kalau ia diam, bukti-bukti palsu terus berdatangan. Kalau ia bicara, ia membenarkan kecurigaan suaminya.
Tetapi ada satu hal yang tidak dihitung Jati: Saira bukan lagi perempuan dua puluh dua tahun yang menurut pada ayahnya dan melepaskan cintanya demi kedamaian.
Perempuan itu sudah mati di malam gala, saat ia memilih berbohong kecil.
Yang tersisa sekarang adalah istri yang akan berperang untuk rumah tangganya — dan kali ini, ia tidak akan menurut pada siapa pun.