Rumah tangga tidak pernah runtuh dengan ledakan. Ia runtuh dengan pengurangan-pengurangan kecil yang tidak diumumkan.
Minggu-minggu berikutnya, pernikahan Saira dan Bisma kehilangan hal-hal kecilnya satu per satu. Sarapan bersama masih ada, tetapi catatan kecil di saku jas berhenti — bukan karena Saira berhenti menulis, melainkan karena Bisma tidak lagi membacanya di bawah lampu jalan; ia menemukannya terlipat rapi di meja kerjanya, dibaca sekilas, disimpan di laci. Telepon tengah hari berubah menjadi pesan singkat. Pesan singkat berubah menjadi satu kata. *'Oke.'* *'Nanti.'* *'Sibuk.'*
Saira merasakannya seperti merasakan suhu turun: tidak bisa ditunjuk, tapi menggigil.
'Kamu ada masalah di kantor?' tanyanya suatu malam, saat Bisma pulang lebih larut dari biasanya — larut yang mulai sering.
'Tidak.'
'Proyek Bekasi?'
'Aman.'
'Bisma.' Saira menarik napas. 'Sudah dua minggu kamu bicara sama aku pakai jawaban satu kata. Kalau aku melakukan sesuatu, katakan.'
Bisma menatap istrinya — dan Saira melihat sesuatu lewat di mata lelaki itu, sesuatu yang disimpan kembali dengan cepat. 'Kamu tidak melakukan apa-apa. Aku cuma capek.'
Bohong, batin Saira. Kita berdua tahu itu bohong. Tetapi pertanyaan yang seharusnya ia ajukan — *kamu mencurigai apa?* — tidak pernah keluar, karena Saira tidak tahu ada yang perlu dicurigai. Ia tidak tahu tentang foto galeri, tentang struk hotel, tentang nomor tak dikenal. Ia sedang berkelahi melawan musuh yang tidak terlihat, di ruangan yang gelap.
Dan musuh itu terus menambah amunisi.
'Bukti' ketiga adalah yang paling kejam: rekaman suara. Potongan percakapan telepon — suara Saira, jelas, tidak terbantahkan: *'...aku tidak bisa bicara sekarang, dia di sebelahku... iya, besok di tempat biasa... kamu juga, hati-hati.'* Tiga kalimat itu sampai ke ponsel Bisma di tengah rapat direksi.
Bisma keluar dari ruang rapat dan tidak kembali.
Yang tidak ia ketahui: percakapan itu asli — tetapi konteksnya dicuri. Saira sedang menelepon tukang ledeng langganan mereka tentang perbaikan pipa; 'dia di sebelahku' adalah Bisma yang sedang menonton bola; 'tempat biasa' adalah rumah mereka sendiri. Jati tidak perlu memalsukan suara. Ia hanya perlu memotong kenyataan menjadi ukuran yang mematikan.
Malam itu, Bisma tidak pulang.
Saira menelepon tujuh kali. Pesan-pesannya berubah dari bingung menjadi cemas menjadi marah: *'Bis, kamu di mana? Ini jam dua pagi. Kalau kamu marah sama aku, pulang dan marah di sini.'*
Bisma membaca pesan itu dari kamar hotel tempatnya menginap — ironi yang tidak ia sadari — dan menjawab dengan satu kalimat yang menghancurkan sesuatu di dada istrinya: *'Aku perlu waktu. Jangan tanya dulu.'*
Jangan tanya dulu. Empat tahun menikah, dan suaminya menyuruhnya berhenti bertanya.
Saira duduk di lantai kamar mereka sampai pagi, dan ketika matahari terbit, kebingungannya sudah berubah menjadi sesuatu yang lain: tekad. Ada sesuatu yang sangat salah, dan suaminya tidak mau mengatakannya — maka ia akan mencarinya sendiri.
Ia membuka laptop dan mulai dari satu-satunya variabel baru dalam hidup mereka: Jati Kusuma.
Kusuma Capital. Dua tahun mengguncang pasar. Saira membaca setiap artikel, setiap profil, setiap wawancara. Lalu ia menggali lebih dalam — ke tahun-tahun yang hilang, ke arsip berita sepuluh tahun lalu, ke nama yang ia temukan di akta kelahiran Jati yang tersimpan di grup alumni kampus: ayahnya bernama Kusuma Wardhana.
Kusuma Wardhana. Nama itu membuka laci ingatan yang sudah lama Saira kunci: nama itu pernah disebut ayahnya di meja makan, dua belas tahun lalu, dengan nada berat. *'Pak Kusuma mitra Ayah yang di Pontianak. Perusahaannya kolaps. Kasihan, keluarganya berantakan.'*
Jati bukan sekadar mantan yang ditinggalkan.
Jati adalah putra dari keluarga yang hancur dalam kerja sama dengan ayahnya — dan ia kembali bukan untuk menagih cinta lama.
Ia kembali untuk menagih kehancuran itu.