Ada satu musuh yang tak bisa diprank, tak bisa diajak gencatan senjata, dan tak bisa diajak duduk di meja kantin: ujian akhir.
Jadwalnya ditempel di papan pengumuman koridor, dan kerumunan anak yang mengeliliginya pagi itu membuat suasana terasa seperti pengumuman vonis. Tiga minggu. Itu hitungan yang tersisa. Tiga minggu sebelum ujian yang menentukan apakah tiga tahun ini berakhir dengan toga atau dengan malu.
"Tiga minggu," kata Reza dengan nada orang yang baru saja diberi tahu hidupnya tinggal sebentar. "Gue belum belajar apa-apa, Lih. Apa-apa!"
"Lo belum belajar apa-apa selama tiga tahun, Za," kata Bayu.
"Itu beda! Dulu nggak ada ujian akhir!"
Aku tertawa, tapi diam-diam aku mengerti kepanikan itu. Untuk anak-anak yang menghabiskan tiga tahun mendeklarasikan diri sebagai badut di pojok belakang, ujian akhir adalah momen ketika dunia menagih: oke, kalian sudah cukup main-main. Sekarang buktikan kalian bisa juga.
Yang lucu—dan tidak lucu—adalah aku tahu sebuah rahasia yang bisa menyelamatkan kami semua. Rahasia yang sudah kusimpan tiga tahun.
Aku pintar. Sangat pintar. Aku menyembunyikannya bertahun-tahun supaya tidak ada yang minta contekan, supaya tidak ada beban harapan, supaya aku bisa duduk tenang sebagai "penonton" di pojok. Ibuku selalu bilang aku menyia-nyiakan otakku. Bu Tania, dalam suratnya, bilang hal yang sama dengan lebih halus.
Sore itu, di bangku belakang, aku mengambil keputusan.
"Gue bantu kalian belajar," kataku.
Tiga kepala menoleh. Dimas mengangkat alis. "Lo? Galih? Yang nilainya selalu pas-pasan biar nggak menonjol?"
"Nilai gue pas-pasan karena gue sengaja," kataku. Dan begitu kalimat itu keluar, terasa seperti membuka jendela di ruangan pengap. "Gue selalu bisa lebih. Gue cuma nggak mau ribet diminta nyontekin. Tapi sekarang beda. Kita bakal lulus bareng atau nggak sama sekali. Gue nggak mau ada yang ketinggalan gara-gara gue diem-diem aja."
Hening sebentar. Lalu Reza memelukku dengan badan besarnya sampai aku hampir kehabisan napas. "GALIH JENIUS! KITA SELAMAT!"
"Reza—paru-paru gue—"
Dimas menyeringai, tapi matanya lebih hangat dari seringainya. "Jadi selama ini lo nyembunyiin otak biar bisa ngeliatin kita berjuang sendirian? Tega."
"Gue nggak nyangka kalian bakal selama ini butuh," balasku, dan dia tertawa.
Berita itu menyebar cepat di aliansi. Malam itu, grup pesan kami meledak. Fajar mengetik: "Otak aliansi akhirnya buka kartu. Gue tahu lo nggak sepolos itu, Lih." Arman, yang sekarang bagian dari kami, mengirim pesan yang lebih serius: "Gue juga mau gabung belajar. Lulusan terbaik nggak ada artinya kalau temen-temen gue nggak lulus."
Pagi berikutnya, sebelum bel masuk, aku menempelkan secarik kertas di papan bangku belakang. Jadwal belajar. Materi apa di hari apa. Siapa yang lemah di mana. Aku menyusunnya semalaman, dan anehnya, mengerjakan itu terasa menyenangkan—seperti merancang prank dulu, hanya saja kali ini hasilnya tidak akan membuat siapa pun dipanggil ke ruang Kepala Sekolah.
"Lo serius banget bikin jadwal," kata Dimas, mengamati kertasku. "Ini lebih rapi dari catetan Arman."
"Jangan kasih tahu Arman," kataku. "Nanti dia tersaingi."
Reza membaca jadwal itu dan langsung menunjuk satu baris. "Kenapa nama gue ada di tiap hari, Lih? Yang lain cuma beberapa hari."
"Karena lo butuh tiap hari, Za."
Reza membuka mulut mau protes, lalu menutupnya lagi. "Fair," akunya, dan kami tertawa.
Tapi di balik tawa itu, aku tahu jadwal ini bukan sekadar kertas. Ini janji. Janji bahwa tak satu pun dari kami akan dibiarkan tenggelam sendirian dalam tiga minggu ke depan.
Membaca itu, aku merenung. Tiga tahun aku menyembunyikan kepintaran karena takut beban harapan. Tapi sekarang, saat aku akhirnya membukanya, yang kurasakan bukan beban. Yang kurasakan adalah berguna. Untuk pertama kalinya, otak yang selalu kusembunyikan ini akan dipakai bukan untuk kepentinganku sendiri, bukan untuk menonjol atau bersembunyi, tapi untuk memastikan tak ada satu pun teman yang tertinggal.
Bu Tania benar. Kepintaran yang disembunyikan itu sayang—bukan karena orang lain butuh, tapi karena aku yang rugi. Selama tiga tahun aku rugi kesempatan merasakan ini: rasa puas membantu orang yang kupedulikan.
"Oke," kataku ke grup, mengetik dengan senyum yang tak bisa kutahan. "Mulai besok, pojok belakang berubah fungsi. Dari markas onar jadi markas belajar. Reza, bawa camilan yang banyak. Otak butuh bensin."
Balasan Reza datang dalam sepersekian detik: "INI BARU TUGAS YANG GUE BISA."
Aku menutup ponsel dan menatap langit-langit kamarku. Tiga minggu menuju ujian. Tiga minggu menuju akhir dari semuanya. Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak takut. Karena kami akan menghadapinya seperti kami menghadapi segalanya selama tiga tahun ini: bersama-sama, di pojok yang sama, dengan satu orang menjaga yang lain.
Hitung mundur sudah dimulai. Dan kerajaan pojok belakang siap.