Setelah Bu Tania pergi, kelas kami berubah. Bukan tiba-tiba, bukan dramatis. Perubahannya pelan, seperti musim yang berganti tanpa kita sadari sampai suatu pagi udara terasa beda.
Hal pertama yang berubah adalah bangku pojok belakang itu sendiri.
Dulu, bangku ini adalah benteng. Pemisah antara kami—empat badut—dan dunia kelas yang serius di depan sana. Arman, sang ketua, ada di kubu seberang: kubu rapi, kubu disiplin, kubu yang menghela napas setiap kali kami bikin ulah. Tiga tahun kami menyebutnya musuh bebuyutan.
Sekarang, di suatu pagi biasa, Arman datang membawa kursinya sendiri dan menaruhnya di samping bangku kami.
"Boleh gabung?" tanyanya.
Reza menggeser punya barangnya tanpa ragu. "Lo nanya kayak masih musuh aja."
Arman tertawa—tawa lepas yang dulu mustahil keluar dari ketua kelas paling kaku se-IPS 3. Dia duduk di antara kami seolah memang selalu di situ tempatnya. Dan anehnya, memang terasa begitu. Garis antara "kubu depan" dan "kubu belakang" sudah lama luntur, tapi pagi itu garis itu resmi hilang.
Hal kedua yang berubah adalah cara kami bicara.
Dulu, percakapan di pojok belakang isinya rencana iseng, gosip, dan strategi prank. Sekarang, di sela-sela candaan—karena candaan tak akan pernah hilang dari kami—mulai muncul percakapan jenis lain. Tentang setelah lulus. Tentang kuliah. Tentang cita-cita yang dulu kami sembunyikan karena takut dianggap sok serius.
"Lo mau ngambil apa, Lih?" tanya Arman suatu hari.
Dulu aku akan mengelak. Aku menyembunyikan kepintaranku bertahun-tahun supaya tak ada yang minta contekan, supaya tak ada yang berharap banyak. Tapi setelah surat Bu Tania, sesuatu dalam diriku melonggar.
"Mungkin sejarah," kataku. Lalu, karena itu terasa kurang jujur, kutambahkan, "Atau yang ada hubungannya sama nulis. Gue suka nyatet. Nyatet apa aja."
Arman manggut-manggut, tidak menertawakanku. "Cocok. Lo emang yang paling banyak merhatiin."
Hal ketiga yang berubah—dan ini yang paling penting—adalah kami berhenti merasa harus terus-menerus melawan sesuatu.
Selama tiga tahun, identitas kami dibangun di atas perlawanan. Melawan Arman. Melawan IPS 4. Melawan aturan sekolah. Melawan keseriusan itu sendiri. Kami pikir menjadi badut di pojok belakang berarti menolak segala hal yang dianggap "benar" oleh dunia depan kelas.
Tapi sekarang, dengan IPS 4 jadi sekutu, Arman jadi sahabat, Rendi jadi rakyat baru kerajaan, dan Bu Tania pergi membawa maafnya—tidak ada lagi yang perlu dilawan. Yang tersisa cuma waktu, dan kau tidak bisa memprank waktu.
Dimas yang paling lama menyesuaikan diri dengan ini. Dia raja dari sebuah kerajaan yang fungsi aslinya adalah bikin onar. Suatu sore aku menemukannya menatap bangku belakang dengan ekspresi aneh.
"Lo kenapa, Dim?" tanyaku.
"Gue mikir," katanya. "Kalau kita udah nggak ngeprank siapa-siapa, udah nggak musuhan sama siapa-siapa... kita masih kerajaan nggak?"
Aku duduk di sampingnya. Pertanyaan itu sebenarnya pertanyaan yang dalam, meski keluar dari mulut Dimas yang biasanya cuma mikir keisengan.
"Kerajaan kita nggak pernah soal prank, Dim," kataku akhirnya. "Itu cuma cara kita kumpul. Yang bikin kita kerajaan tuh bukan onarnya. Tapi karena kita selalu di pojok yang sama, ngeliat dunia dari belakang, sambil saling jagain."
Dimas diam lama. Lalu nyengir. "Galih, kapan lo jadi bijak gini? Dulu lo cuma 'penonton'."
"Penonton yang merhatiin," kataku, dan kami berdua tertawa.
Kelas yang berubah ini terasa lebih sepi dalam satu hal—lebih sedikit jeritan piket, lebih sedikit kekacauan. Tapi terasa lebih penuh dalam hal lain. Lebih banyak obrolan jujur. Lebih banyak tawa yang tidak menertawakan siapa-siapa. Lebih banyak orang yang dulu di kubu seberang, sekarang duduk satu meja.
Bu Sari, wali kelas kami, memperhatikan perubahan ini diam-diam. Suatu hari, saat lewat dan melihat Arman tertawa bersama kami di pojok belakang, dia berhenti di pintu. Aku menangkap ekspresinya: bukan kelegaan guru yang muridnya akhirnya tenang, tapi sesuatu yang lebih lembut. Seperti seorang ibu yang melihat anak-anaknya akhirnya akur setelah bertahun-tahun bertengkar.
"Tiga tahun," gumamnya, cukup keras untuk kudengar. "Akhirnya."
Lalu dia berlalu, tapi aku sempat melihat dia tersenyum.
Babak baru sudah dimulai—babak menuju kelulusan. Dan untuk pertama kalinya, kerajaan pojok belakang menghadapinya bukan sebagai pembuat onar, tapi sebagai sekelompok anak yang siap tumbuh dewasa. Bersama-sama.