Malam itu, di chat grup aliansi yang biasanya penuh stiker dan gif, hanya ada satu pesan dariku: "Besok kumpul kantin. Pagi. Penting."
Tapi sebelum itu, Dimas tidak bisa tidur.
Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya, dan kata-kata Rendi terus berputar. Kalian yang ngerusak segalanya malah dapet semuanya. Empat badut yang bikin onar tiga tahun. Munafik.
Yang menyakitkan bukan karena itu kejam. Yang menyakitkan karena itu benar.
Esok paginya, di kantin, Dimas menaruh sesuatu di meja sebelum siapa pun sempat bicara. Sebuah kotak korek api, dan abu hitam di dalamnya. Mereka semua mengenalinya. Itu sisa dari buku catatan "MISI JODOHKAN SANG KETUA" yang dulu aku bakar di lapangan belakang.
"Aku nyimpen abunya," kata Dimas pelan. "Nggak tahu kenapa. Biar inget, mungkin."
Reza memandanginya bingung. Bayu menunggu.
"Semalem aku mikirin Rendi," Dimas melanjutkan, dan suaranya tidak punya satu pun nada bercanda yang biasa. "Dan aku sadar sesuatu yang bikin aku nggak bisa tidur." Ia menatap teman-temannya. "Rendi itu bukan musuh kita. Rendi itu kita. Versi yang nggak ketahuan tepat waktu."
Hening.
"Pikirin," Dimas meneruskan. "Dia iri sama orang yang dapet perhatian. Kita dulu juga. Kita ngerjain Arman karena dia rapi, dia teratur, dia dapet pujian terus, dan kita pengin ngeliat dia 'turun' dikit. Kita bilang itu becandaan. Tapi motifnya? Sama. Dia sabotase diam-diam. Kita prank diam-diam. Dia nyakitin orang dan ngerasa itu pantes. Kita..." Dimas menelan ludah. "Kita persis sama, sampai akhirnya kita ketahuan dan kena akibatnya. Bedanya cuma kita punya kalian buat saling nahan. Dia sendirian."
Aku, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara. "Itu yang aku pikirin semalam juga. Kalau kita laporin Rendi, kita ngehukum dia buat kesalahan yang persis sama kayak yang kita lakuin—dan kita lolos dari itu cuma karena ada Bu Sari yang sayang sama kita, ada Bu Tania yang milih nggak ngelaporin kita." Aku menatap abu di kotak korek. "Kita dikasih kesempatan kedua yang nggak kita pantes dapet. Masa kita nggak mau ngasih kesempatan yang sama ke orang lain?"
"Tapi dia jahat," Reza protes lemah, walau bahkan ia sendiri tidak yakin dengan kata itu. "Dia rusakin kerja keras kita."
"Dia kesepian," koreksi Bayu, mengejutkan semua orang—karena Bayu, si korban abadi, jarang sekali menyimpulkan apa pun. "Aku liat mukanya kemarin, Za. Itu bukan muka orang jahat. Itu muka orang yang capek nggak keliatan. Aku..." Ia berhenti. "Aku ngerti rasanya. Tiga tahun aku jadi anak yang dikerjain, yang diketawain, yang jadi 'manusia tepung'. Tapi bedanya, aku punya kalian. Aku punya tempat. Rendi nggak punya siapa-siapa."
Meja itu sunyi untuk waktu yang lama.
"Jadi gimana?" tanya Dimas akhirnya. "Kita nggak laporin, oke. Tapi pameran tinggal sepuluh hari. Kalau Rendi masih mau ngerusak, kita harus gimana? Jagain maket dua puluh empat jam? Pasang Reza tidur di aula?"
"Reza bakal makanin properti pameran," celetuk Bayu, dan untuk pertama kali sejak beberapa hari, ada tawa kecil di meja itu. Bahkan Reza nyengir.
Tapi tawa itu cepat surut, karena masalahnya nyata.
"Kita nggak bisa nyelesain ini sendiri," kataku pelan. Dan dari caraku bicara, mereka tahu aku sudah memikirkan ini semalaman, dan tidak menyukai kesimpulannya. "Kita udah belajar satu hal yang mahal banget: ada masalah yang nggak bisa kita beresin dengan trik, dengan strategi, dengan jadi sutradara." Aku menatap Dimas. "Kadang kita harus minta tolong sama orang yang lebih dewasa."
Dimas mengernyit. "Maksudmu... Bu Sari?"
"Atau," aku menatap arah jendela, ke gedung sekolah, ke ruang guru yang dari kelas IPS 3 jendelanya selalu kelihatan, "orang yang dari awal jadi pusat masalah kita, dan yang paling berhak ngerti semuanya."
Dimas mengikuti arah pandangnya, dan wajahnya berubah.
"Bu Tania?"
Aku mengangguk. "Pameran ini proyek dia. Rendi nyabotase proyek dia. Dan dari semua orang, Bu Tania satu-satunya yang pernah ngalamin gimana rasanya disakitin sama orang yang ngerasa kesepian terus salah jalan." Aku melirik teman-temanku. "Kita."
Tidak ada yang menyangkal itu. Kotak korek api dengan abu di dalamnya tetap di tengah meja, seperti cermin kecil yang tidak menyenangkan, memantulkan wajah mereka sendiri.