Kami menunggunya di belakang aula, sepulang sekolah, di tempat yang sama Bayu pernah bersembunyi. Bukan dengan gerombolan. Hanya aku dan Dimas yang maju; Bayu dan Reza berdiri agak jauh, supaya Rendi tidak merasa dikepung. Itu ideku. "Kita nggak lagi ngebully orang," kataku. "Kita cuma mau ngomong."
Rendi datang dengan tas di pundak, dan ketika melihat kami, langkahnya tidak melambat sedikit pun. Itu yang pertama mengejutkanku. Anak ini tidak takut.
"Mau apa?" tanya Rendi, datar.
Aku tidak berbasa-basi. Aku mengeluarkan ponsel Bayu, memutar rekaman. Suara pelan—dengung aula, lalu jelas, walau berbisik: "Besok tinggal kirim ke Pak Kepala. Panitia nggak becus. Sama kayak dulu."
Wajah Rendi tidak berubah. Tidak pucat, tidak panik. Hanya rahangnya yang mengeras sedikit.
"Itu suara kamu," kataku. "Sore Selasa. Di depan maket yang kamu longgarin sendiri bautnya."
Hening sebentar. Lalu Rendi melakukan sesuatu yang tidak mereka duga: ia tertawa kecil. Getir, lelah, tapi tertawa.
"Akhirnya," katanya. "Kirain nggak ada yang bakal nyadar selamanya."
"Jadi kamu ngaku?" Dimas melangkah maju, suaranya menahan amarah. "Kamu yang rusakin pameran. Kamu juga yang dulu laporin perang kita ke Pak Kepala. Kamu yang bikin delapan anak hampir kena skors."
"Iya." Rendi menatapnya lurus. Tidak ada penyesalan di sana, hanya semacam kelelahan tua. "Aku yang laporin. Foto lantai biru, foto kursi lem. Aku ada di sekolah pagi-pagi—aku selalu ada pagi-pagi, belajar, sendirian—pas kalian dan IPS 4 main perang-perangan kayak anak TK. Aku motret semuanya, aku kirim ke Pak Kepala, anonim." Ia menyandang ulang tasnya. "Dan aku nggak nyesel. Kalian pantes kena."
"Kenapa?" Dimas hampir membentak. "Apa salah kita ke kamu?"
"Salah kalian?" Untuk pertama kali, suara Rendi naik. "Nggak ada. Itu masalahnya. Kalian nggak pernah ngapa-ngapain ke aku, karena kalian nggak pernah ngeliat aku ada."
Kalimat itu menggantung di udara, dan menusuk lebih dalam daripada yang Dimas siap terima.
"Tiga tahun," Rendi melanjutkan, lebih pelan sekarang, tapi setiap kata seperti diasah. "Tiga tahun aku belajar mati-matian. Pagi paling pagi, pulang paling sore. Tiap ulangan aku ranking dua. Selalu dua. Dan kalian tahu siapa yang ngalahin aku? Si Arman, yang sempurna, yang ketua kelas, yang semua guru sayang. Dan di bawahnya—" ia menunjuk pojok belakang yang tak kelihatan dari situ, "—kalian. Empat badut yang bikin onar tiga tahun, hampir kena skors, ngerjain guru magang sampai dia nyaris nangis. Dan apa yang terjadi? Kalian malah jadi panitia. Kalian malah deket sama semua orang. Kalian dimaafin."
Ia menatap mereka satu per satu, dan suaranya pecah sedikit di ujung.
"Aku yang nurut, yang nggak pernah bikin masalah, yang ngelakuin semuanya bener—aku tetep nomor dua yang nggak ada yang inget namanya. Dan kalian yang ngerusak segalanya malah dapet semuanya. Gimana itu adil?"
Dimas membuka mulut. Tapi tidak ada yang keluar. Karena—dan inilah yang paling menyakitkan—Rendi tidak sepenuhnya salah.
"Jadi iya," Rendi menyeka cepat sudut matanya, marah pada dirinya sendiri karena nyaris menangis. "Aku rusakin pameran kalian. Aku mau ngeliat sekali aja, sekali aja, si sempurna Arman dan geng badut kesayangan sekolah ini ngerasain gagal. Ngerasain malu. Kayak aku tiap hari." Ia memutar badan. "Sekarang laporin aku. Aku nggak peduli."
Ia melangkah pergi.
"Rendi." Suaraku, tenang, menghentikannya. "Kamu bilang kita munafik. Kalian benar."
Rendi berhenti, tidak menoleh.
"Kita curang. Kita nyakitin orang. Kita nyaris ngerusak hidup tiga orang gara-gara becandaan: Arman, Bu Tania, dan diri kita sendiri." Aku menarik napas. "Aku nggak bakal sok suci dan ngehakimi kamu. Karena kalau aku jujur, yang kamu lakuin ke kita... mirip banget sama yang dulu kita lakuin ke orang lain."
Rendi diam. Bahunya turun sedikit.
"Kita nggak bakal laporin kamu ke Pak Kepala," kataku. "Bukan karena kamu bener. Tapi karena kalau kita laporin, kita cuma jadi versi kamu yang lain. Dan kita capek jadi orang yang ngerusak orang lain."
Untuk waktu yang lama, hanya ada angin sore di belakang aula.
Lalu Rendi pergi tanpa sepatah kata pun. Tapi langkahnya, kali ini, jauh lebih lambat.