Hati Bambang terenyuh melihat pemandangan yang sangat memuakkan. Otot di kedua rahangnya mengencang seiring kedua jemari tangannya mengepal erat. Detik berikutnya, dengan cepat ia beranjak duduk dengan kaki kanan ditekuk dan kaki kiri terulur ke depan—melepaskan penglihatannya dari celah lantai loteng. Kepalan tangan kanannya terhempas kasar di atas paha kanannya. Ia menggeram pelan, menumpahkan amarahnya kepada dirinya sendiri dengan mengacak-acak rambutnya. Namun, ia terhenti saat menyadari bahwa yang tingkah lakunya sekarang tak akan mampu untuk merubah keadaan.
"Buat apa aku kayak gini, toh Lala juga nggak bakalan jadi istri aku!" Bambang berucap melalui batinnya setelah menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dalam sekali tiupan singkat. Anehnya, tiupan dari hembusan nafasnya