Sebuah meja yang panjangnya sekitar dua meter dengan lebar setengah meter. Di belakang meja, tengah duduk seorang lelaki bermata sipit yang mengenakan kemeja merah marun yang bagian kedua lengannya dilipat sampai ke siku. Ia menghadapkan setengah badannya ke atas meja dengan jari telunjuk kedua tangannya mengetuk-ngetuk permukaan meja. Mulutnya membuka seiring menarik nafas yang dalam, lalu menghembuskannya perlahan—membuat kedua matanya yang sipit itu malah terlihat seperti terpejam.
Dari arah pintu utama yang berdaun dua dan terbuat dari kaca tebal, lurus melewati meja panjang di mana lelaki bermata sipit itu duduk, langsung mengarah pada sebuah lorong. Di sisi kanan dan kiri dalam lorong terdapat masing-masing sepuluh pintu kamar, dengan jarak antara satu pintu kamar dengan yang lainny