Bambang memasrahkan diri saat tangan kanannya ditarik paksa. Ia kumpulkan semua tenaga di tubuhnya yang tersisa ke kedua sendi lututnya untuk menopang tubuhnya berdiri. Walau masih gemetar, ia harus berdiri. Wajahnya terlihat kusam dengan kedua matanya yang kurup masih cukup jeli untuk menatap sosok lelaki berjaket biru dengan celana denim pendek dan rambutnya yang pendek tertutup oleh topi hitam yang kini berdiri di depannya. Ingatannya yang kacau belum bisa melupakan bahwa lelaki di hadapannya ialah Anton, salah satu rekan kerjanya di losmen.
"Aku pulang dulu ya, Nton." Bambang mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan mengarah ke depan dan memaksakan pergelangan tangan kanannya yang lunglai itu terayun dengan lamban untuk mendadah. Detik berikutnya, kedua kakinya yang kehilangan