Bambang menangis di antara hujan. Motor matiknya berpacu menembus guyuran hujan yang membasahi sekujur tubuh beserta pakaiannya dan berbaur dengan air matanya.
"Lala," Bambang bersedu segan, dengan tetap memacu motor matik hijaunya ke jalan pulang. Ya, dia harus lekas tiba di rumah, agar bisa menangis sepuasnya tanpa ada seorang pun yang mengetahui bahwa dirinya menangis.
Cukup jauh dan lama Bambang memacu motor matiknya, dan tanpa disadari ia sudah memasuki jalan yang mengarahkannya menuju rumah. Dengan cepat Bambang membelokkan stang motor matiknya, memasuki jalan itu. Setelah tersisa beberapa meter lagi saat hendak sampai di rumah kediamannya, hujan tiba-tiba berhenti dan berhasil menutupi kesedihan Bambang di sepanjang jalan, namun menyisakan pakaian basah yang masih melekat di tubuh